Mengubah Hidup
"Aku udah coba buat ngubah hidupku, mbak, tapi selalu gagal."
Gue membaca kalimat dari klien baca tarot itu dengan empati. Gue berusaha untuk memberikan petunjuk dari kebingungannya itu tanpa mengagetkan atau mengintimidasinya karena sering kali seseorang yang begitu terbiasa berada dalam kekacauan, ajakan untuk menuju hidup yang baik terlihat seperti ancaman, serangan akan kualitas hidupnya.
Untungnya, klien ini sudah benar-benar siap untuk berusaha mengubah hidupnya. Kalimat gue berikutnya bisa diterima dengan baik (bahkan dengan cucuran air mata kalau kata dia mah).
"Nggak pernah gagal, mbak. Cuma aja definisi mengubah hidup kamu ini terlalu dramatis. Kebiasaan-kebiasaan yang sifatnya kecil macam minum air putih, tidur sebelum larut malam, bangun pagi hari, itu sudah usaha untuk mengubah hidup kamu."
Gue juga dulu begitu kok. Konsep gue untuk menjadi berguna bagi masyarakat itu harus segede aktivis Joshua Wong di Hong Kong atau Marsinah dengan perjuangannya untuk kesejahteraan kaum buruh. Pengertian gue untuk menjadi dermawan itu harus seperti Oprah Winfrey atau Dokter Lie (Dokter Apung). Dari pengertian gue karena melihat apa yang dilakukan orang lain, menjadi berguna harusnya dalam skala sebesar itu.
Sekian tahun berlalu, sekarang gue paham dunia ini tidak menganggap penting besar-kecil perbuatan baik. Semuanya sama, semuanya baik. Memberikan tip 2000 ke abang Gojek sama besarnya dengan membayari uang sekolah seorang anak tidak mampu. Mendengarkan curhat seorang sahabat sama pentingnya dengan usaha meruntuhkan rasisme yang sistematis. Setiap perbuatan kita untuk bisa menjadi baik itu sama besar dan pentingnya.
Begitu pula dengan segala usaha kita untuk bisa menjadi baik ke diri sendiri.
Konsep mengubah hidup itu lebih daripada sekedar menjadi sukses di pekerjaan atau menjadi kaya raya. Gue rasa kita semua terjebak dengan kepercayaan salah bahwa sukses itu sesuatu yang perlu mendapat validasi dari pihak luar.
Mengubah hidup itu dimulai dari melakukan yang baik ke diri sendiri.
Dimulai dari minum air putih sebelum tidur dan setelah bangun tidur. Lebih bisa sadar untuk minum air putih itu bukan lah hal sepele. Itu *literally* fundamental. Manusia ini 70%nya air jadi perlu dijaga asupan air putih ke dalam tubuh.
Tidur yang cukup. Ini juga termasuk untuk bisa tidur sebelum larut malam (gue pribadi selalu mengusahakan sebelum jam 10 sudah tidur.) dan bangun pagi (gue udah otomatis bangun jam lima atau setengah enam sekarang). Tidur cukup di waktu yang tepat itu bentuk menghargai tubuh ini yang sudah bekerja keras seharian.
Menarik napas dalam-dalam beberapa kali sehari. Di era COVID ini diingatkan lagi betapa napas itu sangat penting. Melatih diri untuk bisa mengucap syukur masih diberikan kemampuan bernapas dengan baik.
Tiga hal itu adalah contoh perbuatan mengubah hidup yang sering kali luput dari pemahaman kita. Mengubah hidup itu tidak selalu tentang pindah kerja, punya anak, atau ganti warga kenegaraan (walaupun gue rasa menjadi warga negara New Zealand saat ini bisa memngubah hidup gue ke arah yang lebih baik). Mengubah perlakuan ke diri dan badan sendiri itu sudah mengubah hidup.
Mengubah hidup itu sekedar konsisten mengerjakan kebiasaan baik.
Tidak ada hal besar tanpa konsistensi hal kecil. Hal semegah gunung pun tersusun dari milyaran atom kecil.
Belajar untuk memasukan kebiasaan dan ritual baik untuk dikerjakan diri sendiri itu sudah merupakan usaha untuk mengubah hidup kok. Saat energi kita menjadi lebih baik, kita juga akan menarik hal-hal yang baik ke dalam hidup.
Belajar juga untuk bisa lebih sabar dalam mengubah hidup. Lagi, tidak ada yang namanya gagal mengubah hidup. Itu semua dasarnya dari rasa terburu-buru khas manusia modern. Tidak ada lagi yang menikmati perjalanannya, semuanya hanya berfokus di 'kapan sampainya?'
Gue mulai rutin berolah raga sejak setahunan yang lalu. Apa badan gue menjadi selangsing dan secantik badannya Jennie Blackpink? Tentu tidak. Terkecuali gue mau lebih investasi lebih banyak waktu dan tenaga (dan uang) di berolah raga, gue tahu tidak masuk akal membandingkan konsep 'rutin olah raga' punya gue dengan mbak Jennie. Gue udah cukup puas dengan yoga rata-rata 15-30 menit tiap harinya. Gue udah cukup bahagia melihat progres gue sekarang yang udah lebih fleksibel dan kuat.
Gue nggak punya kepentingan untuk memakai crop top dan syuting video klip yang akan dilihat ratusan juta orang. Gue nggak masalah kalau perlu lebih banyak waktu sampai gue bisa punya badan yang lebih toned.
Hidup gue udah berubah, walaupun mungkin itu nggak bisa dilihat atau dihargai orang lain, gue sangat sangat merasakan perbedaannya di hidup gue. Dan itu yang paling penting.
Mengubah hidup itu sungguh lah 'hanya' sekedar mengubah kebiasaan sendiri. Menjadi lebih baik ke diri sendiri, menjadi lebih baik ke orang lain.
Dunia kamu akan berubah begitu kamu bisa memperlakukan diri kamu dengan lebih baik lagi.
Sama seperti usaha yang begitu keras dari Joshua Wong untuk bisa mendapatkan demokrasi untuk negaranya, gue juga mengeluarkan usaha sebesar itu untuk bisa mengubah kualitas hidup gue. Dan kedua usaha itu sama pentingnya.
Komentar
Posting Komentar