Postingan

Tentang Lemon Cake

  Jadi kemarin ini buku saya, si Lemon Cake, akhirnya terbit. Jujur sampai sekarang saya masih kesulitan untuk meresapi sepenuhnya semenakjubkan apa momen ini. Perasaan rendah diri kronis saya masih menahan saya untuk bisa benar-benar mengakui betapa pentingnya hal ini. Sekilas-sekilas suara seperti ‘ah gini doang’, ‘belum tentu laku’ dan semacamnya masih sering hilir mudik di kepala, membuat saya masih merasa kurang pantas jika ingin berbahagia dengan maksimal. Memang karakter dasar manusia itu mencari kesulitan. Terlepas dari apa benar kejadian ini ‘gini doang’ dan tanpa mengetahui bagaimana angka penjualannya, satu hal yang saya yakini bisa saya serap kebahagiaannya adalah melihat bagaimana teman-teman saya bereaksi akan berita saya menerbitkan buku ini. Sungguh, saya benar-benar bisa merasakan cinta dari mereka. Ada teman lama saya yang tinggal di Singapura, yang sebenarnya kami berkenalan hanya selintas saja saat dia sedang secondment di kantor saya. Dari tujuh-delap...

Berisik

Ada satu episode Seoul Check In (variety show Korea) yang bikin saya kontemplasi. Adegannya Hyori bercerita ke suaminya bahwa pagi tadi dia sedang bersiap-siap mau yoga dan ngeh dari kamar hotelnya dia bisa mendengar suara pekerjaan konstruksi. Dia kemudian ke jendela dan melihat orang-orang pekerja bangunan yang sudah mulai bekerja di jam itu dan dia merasa itu sangat menyentuh. “They are already working this hard this early. Isn’t that very sweet?” Reaksi yang tidak saya sangka karena saya yakin suara pekerjaan konstruksi itu sangat mengganggu. Mau di Korea pun suara pembangunan itu akan selalu bikin kepala pusing. Tapi Hyori memutuskan untuk melihat situasi itu sebagai tanda orang-orang mulai bergerak menjalani hidup mereka. It is very sweet to see people live their life. Hyori punya kemampuan untuk melihatnya seperti ini, hal yang saya rasa tidak semua orang pernah berkesempatan untuk merasakan hal ini. Saya keingetan ke beberapa hari yang lalu saat saya mencoba kemping untuk...

Kesepian

Hari Sabtu malam kemarin, untuk pertama kalinya di tahun ini, saya kembali merasa kesepian. Dan karena saya anaknya dramatis (dan juga perpaduan menuju menstruasi, Cancer season, dan sebelumnya saat bebersih rak buku buka-buka jurnal jaman dulu dan baca lagi betapa saya sangad mencintai orang itu di masa lalu), menangis lah saya. Nggak sampai terisak-isak sih tapi ya lumayan sedih aja rasanya. Saya, sama seperti mungkin 100% manusia lainnya di muka bumi ini, tidak asing dengan perasaan kesepian. Perasaan yang nampaknya sudah punya jadwal untuk muncul ke permukaan dan membuat seseorang menghentikan apapun yang sedang ia lakukan untuk bisa sepenuhnya fokus kepada perasaan yang berat ini. Dan itu juga yang saya lakukan. I cradled my loneliness, talking to it slowly and patiently. Sungguh mudah untuk saya mengaitkan perasaan kesepian ini dengan fakta saya sudah begitu lama menjomblo. Dan periode saya menjomblo ini ada di level terekstrim: benar-benar tidak ada lelaki yang bahkan masu...

Sedikit Tentang BIGBANG

Meskipun temanya ini akan terasa sedikit segmented yaitu KPOP tapi saya sedikit berharap cerita yang mau saya bagikan ini entah bagaimana juga bisa dipahami orang-orang yang tidak tahu, tidak paham, bahkan tidak suka dengan KPOP. Kemarin grup musik kesukaan saya nomor satu sejagad raya ini, BIGBANG, akhirnya come back (atau dalam bahasa umumnya, kembali rilis lagu) setelah hampir lima tahun hiatus karena banyak dan beratnya kontroversi yang melanda mereka. Beruntung, saya ternyata masih melek saat video klip mereka rilis di Youtube. Jujur saya lupa bahwa tanggal rilisnya adalah 5 April tengah malam waktu Korea yang berarti 4 April jam 10 malam di WIB. Tidak ada niat menunggui tapi nampaknya hati VIP (sebutan untuk fandom BIGBANG) yang berumur 10 tahun ini tahu dan membimbing saya ke kebetulan bisa menonton video mereka, 12 menit setelah rilis. Pertama menonton, rasanya masih biasa saja. Masih berusaha mencerna sepenuhnya BIGBANG kembali muncul, masih berusaha mengerti lirik lagu mereka...

Februari Nanti Sudah Tiga Tahun

Februari nanti sudah tiga tahun sejak terakhir kali aku bisa mendengarmu menyebut namaku. Terasa aneh, karena tiga tahun ini terasa begitu panjang dan juga terasa pendek di saat yang bersamaan. Mungkin pandemi ini yang mengacaukan pemahaman akan waktu. Atau mungkin memang sifat waktu dari perpisahan itu selalu seabsurd ini. Kita menghabiskan tiga tahun sebelumnya dengan membicarakan banyak hal, mencari waktu sebanyak mungkin untuk bisa dihabiskan bersama. Dan sekarang, sebentar lagi selama itu juga kita sudah menghilang dari kehidupan masing-masing. Benar-benar menghilang, seakan-akan semua kenangan tentang kita hanyalah mimpi panjang. Terkadang aku masih suka mempertanyakan apa aku hanya membayangkanmu saja selama ini? Bagaimana tiga tahunmu tanpaku? Aku harap semuanya berjalan baik-baik saja. Aku selalu mengingatkan diriku bahwa kamu selalu akan bisa menjadikan semuanya baik setiap kali aku merasa khawatir akan keadaanmu. Aku selalu mengingatkan diriku bahwa kamu memiliki semuanya un...

Tuhan, Apa Kabar?

 "Tuhan, apa kabar?" Tanyaku setengah malu-malu setengah bersemangat sembari menghampirinya yang nampak sedang serius mengerjakan sesuatu di meja panjang di depannya. Mendengar suaraku, Tuhan mengangkat kepalanya dan menengok ke arahku. Ia tersenyum. Merasa mendapat respon positif, aku semakin bersegera menghampirinya. Dia mengawasiku saat ikut duduk di depannya. Oh, dia sedang menyusun puzzle. "Aku baik, bagaimana denganmu?" tanyanya balik. "Aku baik juga." jawabku yang kemudian sempat merasa bingung mau menambahkan apalagi. "Aku sangat baik," kataku akhirnya. Ia mengawasiku sambil tersemyum tipis. "Iya, kelihatan." Jawabnya singkat. Ku pegang-pegang potongan puzzle di depanku sambil melirik sejauh mana ia sudah menyusun puzzlenya. Masih belum kelihatan gambarnya apa. "Maaf ya, Tuhan. Aku sudah lama tidak mendatangimu." kataku akhirnya. "Ternyata memang benar ya, manusia datang ke kamu cuma kalau ada butuhnya aja. Kalau ...

Memaafkan Jika Diminta

"The strongest person are those who can forgive without receive any apology." Gue ingat pernah baca kalimat setipe itu beberapa waktu yang lalu dan untuk sesaat gue menyetujuinya. Sebagai kaum yang pernah merasakan sakit hati dan ditinggal begitu saja tanpa ada penghiburan atau ganti rugi apapun, kalimat itu terasa menyenangkan. Bisa memaafkan tanpa pernah menerima permintaan maaf adalah hal yang hebat, katanya. Kedengerannya iya banget. Hal ini juga diyakini oleh banyak orang. Kalimat 'aku udah maafin kamu bahkan sebelum kamu minta maaf' terasa sangat familiar dan sering menghiasi dialog-dialog film atau novel. Ya kedengerannya memang manis, dewasa, dan menunjukkan kelapangan dada orang yang disakiti. Macam Bunda Teresa lah gitu, kebesaran hatinya jika bisa memaafkan tanpa pernah dimintai maaf. Tapi sekarang setelah wabah Corona sudah memasuki tahun kedua dan dunia sudah menuju ambang kehancuran, gue pikir-pikir lagi kalimat itu dan jadi kepikiran pertanyaan follow u...