Memaafkan Jika Diminta

"The strongest person are those who can forgive without receive any apology."

Gue ingat pernah baca kalimat setipe itu beberapa waktu yang lalu dan untuk sesaat gue menyetujuinya. Sebagai kaum yang pernah merasakan sakit hati dan ditinggal begitu saja tanpa ada penghiburan atau ganti rugi apapun, kalimat itu terasa menyenangkan. Bisa memaafkan tanpa pernah menerima permintaan maaf adalah hal yang hebat, katanya. Kedengerannya iya banget. Hal ini juga diyakini oleh banyak orang. Kalimat 'aku udah maafin kamu bahkan sebelum kamu minta maaf' terasa sangat familiar dan sering menghiasi dialog-dialog film atau novel. Ya kedengerannya memang manis, dewasa, dan menunjukkan kelapangan dada orang yang disakiti. Macam Bunda Teresa lah gitu, kebesaran hatinya jika bisa memaafkan tanpa pernah dimintai maaf.

Tapi sekarang setelah wabah Corona sudah memasuki tahun kedua dan dunia sudah menuju ambang kehancuran, gue pikir-pikir lagi kalimat itu dan jadi kepikiran pertanyaan follow up-nya: Emangnya kita bisa maafin orang tanpa orang(yang salah)nya minta maaf?

Bukan soal 'nggak mau maafin' ya, itu sih udah beda kasus. Kalau masih dipenuhi benci dan amarah sih ya jangankan nggak diminta, diminta pun nggak akan dikasih tuh maaf. Ini dalam konteks saat gue sudah nggak punya sakit hati lagi, nggak terbebani dengan emosi lama lagi, lalu mengambil posisi 'memaafkan' orang yang nggak pernah minta maaf ke gue.

Secara teknis kayaknya nggak bisa, deh. 

Coba pikir, dari segi linguistik aja udah nggak bisa konsep memaafkan tanpa diminta. Seseorang baru bisa memberikan maaf kalau ada yang minta, makanya disebutnya 'minta maaf'. Di lingustik bahasa Inggris pun perlu perasaan untuk 'diterima' oleh pihak yang melakukan kesalahan baru seseorang bisa memaafkan (for-give). Intinya, konsep memaafkan ini bukan hal yang bisa dikerjakan sendiri.

Untuk memaafkan perlu untuk orangnya merasa itu salah dia. Kalau orangnya bahkan nggak merasa salah, gimana juga bisa dimaafkan? Gimana pun juga sakit hati ini kan sifatnya subyektif. Meskipun sudah mengalami sakit hati tidak kepalang tapi kalau pelakunya nggak ngerasa itu tanggung jawab dia, ya mau bilang apa? Masa mau dipaksa?

Maaf yang diberikan tanpa diminta itu jadinya tidak jelas apa fungsinya. Kesannya malah kayak jadi menghibur diri sendiri, bikin skenario orangnya ngerasa salah. Jadi arogan banget juga kesannya, ngomong 'udah maafin tanpa diminta' padahal ya orangnya nggak ngerasa itu salah.

Maaf itu harus diminta dulu baru bisa diberikan.

Makanya di banyak kepercayaan, saat seseorang sudah meninggal dunia, kerabat terdekatnya biasanya akan meminta maaf atas nama almarhum jika ada kesalahan yang telah diperbuat. Di cerita-cerita klenik, sering muncul cerita soal arwah yang tidak bisa berpindah dunia karena belum meminta maaf secara langsung ke orang-orang yang sudah mereka sakiti semasa masih hidup. Walaupun mungkin buat korbannya kesalahan itu sudah dilupakan, tapi sakit hatinya sudah terlanjur dicatat dan hanya bisa dihapus jika maaf sudah diminta.

"Kalau belum memaafkan belum move on."

Ini juga konsep yang menurut gue salah. Move on itu sekedar udah bisa ikhlas dan nggak terjebak lagi di emosi lama. Move on itu beneran nggak ada hubungannya dengan orang lain, semuanya tentang diri sendiri. Fokus dengan diri sendiri ya udah move on kok. Move on itu nggak boleh bergantung dari datangnya kesempatan untuk bisa memaafkan karena kalau begitu kita akan selalu menunda move on-nya. Kita akan selalu menunggu orangnya untuk merasa bersalah dulu dan meminta maaf baru kita bisa menyelesaikan attachment dengan orang itu. 

Memaafkan orang lain itu efeknya nggak terlalu besar dalam proses healing diri sendiri. Saat kita memaafkan orang lain, kita sebenarnya lebih dalam posisi untuk membantu orang tersebut untuk bisa memaafkan diri dia sendiri. Memaafkan orang lain itu kepentingan orang yang memintanya karena maaf itu yang dia butuhkan untuk bisa menyembuhkan dirinya sendiri.

Move on itu bukan saat bisa memaafkan orang lain tapi saat bisa memaafkan diri sendiri.

Jadi daripada mengagung-agungkan bahkan meletakan nilai menjadi kuat dengan bisa memaafkan orang lain, lebih baik fokus di bisa memaafkan diri sendiri. Memaafkan diri yang bisa-bisanya mau-mau aja diperlakukan seperti itu dulu. Memaafkan diri sendiri yang gagal untuk bisa menyayangi diri sendiri. Itu jauh lebih sulit daripada memaafkan orang lain. Terlalu sering kita bisa dengan gagahnya memaafkan orang lain tanpa pernah bisa memaafkan diri sendiri.

Be kind to yourself first, kuncinya selalu itu kok.

Maaf itu harus diminta dulu, baru bisa diterima. Jadi kalau memang tidak diminta, ya tidak perlu entitled memberikan maaf.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Rencana Tuhan

Melihat Mantan Dengan Perempuan Lain

Mengubah Hidup