Berisik

Ada satu episode Seoul Check In (variety show Korea) yang bikin saya kontemplasi. Adegannya Hyori bercerita ke suaminya bahwa pagi tadi dia sedang bersiap-siap mau yoga dan ngeh dari kamar hotelnya dia bisa mendengar suara pekerjaan konstruksi. Dia kemudian ke jendela dan melihat orang-orang pekerja bangunan yang sudah mulai bekerja di jam itu dan dia merasa itu sangat menyentuh.

“They are already working this hard this early. Isn’t that very sweet?”

Reaksi yang tidak saya sangka karena saya yakin suara pekerjaan konstruksi itu sangat mengganggu. Mau di Korea pun suara pembangunan itu akan selalu bikin kepala pusing. Tapi Hyori memutuskan untuk melihat situasi itu sebagai tanda orang-orang mulai bergerak menjalani hidup mereka.

It is very sweet to see people live their life. Hyori punya kemampuan untuk melihatnya seperti ini, hal yang saya rasa tidak semua orang pernah berkesempatan untuk merasakan hal ini.

Saya keingetan ke beberapa hari yang lalu saat saya mencoba kemping untuk pertama kalinya. Saya by nature adalah orang yang sangat judgemental dan tidak menyukai suara-suara random, terutama yang bising. Dua perpaduan itu tentu saja menghasilkan karakter yang membenci keberisikan, bahkan bisa sampai membenci orang yang membuat suara berisik itu. Dan tentu saja di tempat kemping umum ini akan ditemui (banyak) orang-orang yang berisik.

Menuju sore, sudah mulai terdengar seseorang yang menyalakan musik keras-keras. Suara musik yang keras itu terus terdengar sampai saya mau tidur. Ditambah lagi di lot tenda belakang tenda saya, ada bapak-bapak dan ibu-ibu yang nampaknya menganggap ini belumlah jam tidur dan masih terus mengobrolkan banyak hal dengan serunya. Saya tentu saja punya hak untuk membenci suara-suara berisik itu, memprotesnya bahkan kalau saya cukup memiliki keberaniannya. Tapi saat itu, untuk pertama kalinya, saat saya sedang berpikir betapa berisik dan mengganggunya suara-suara itu, ada pikiran yang dengan halusnya berbicara, ‘well, they are having a good time, aren’t they? Isn’t that beautiful?’

Dan hanya dengan satu pikiran itu, saya bisa pelan-pelan melepaskan stress dari kondisi yang tidak ideal itu. Masih berisik, tentu saja. Saya masih akan tetap memilih opsi malam yang tenang dengan hanya suara jangkrik yang terdengar kalau memang bisa memilih. Tapi karena ini bukan lah hal yang bisa saya kendalikan, saya memutuskan untuk tidak lagi menganggap suara-suara bising ini sebagai sesuatu yang salah, tidak lagi memberi makan ego saya dengan terus-menerus membenci suara dan orang-orang dibaliknya.

Saya jadi memikirkan betapa seringnya saya kehilangan rasa damai dan tenang karena karakter saya yang tidak menyukai suara-suara berisikini. Saya menjadi sangat gampang terganggu di masyarakat yang begitu berisik ini. Di bioskop, di tempat makan, di coffee shop, di kendaraan umum, bahkan di rumah saya sendiri pun sering terasa berisik dengan suara anak-anak yang selalu bermain sambil menjerit-jerit di depan rumah atau suara tayangan gossip dari TV yang ditonton mama saya. Ketidak sukaan saya akan suara berisik ini membuat saya begitu mudah untuk membenci orang dan situasi.

Kalau saya punya kemampuan untuk menghilangkan suara-suara berisik itu, ketidak sukaan saya tidak akan menjadi masalah. Andaikan pun saya berani protes ke sumber suara berisik itu, saya hanya akan menciptakan konflik baru untuk hal yang ternyata sebenarnya masih bisa saya atur dari dalam diri saya sendiri. Tentu saya berhak untuk menegur orang yang berisik di bioskop tapi sebutlah saya lagi sial ketemunya sama orang yang rada-rada nggak bener mentalnya, teguran saya bisa menjadi sumber masalah yang jauh lebih besar daripada masalah awal saya. Atau bahkan sesimpel teguran saya ternyata diacuhkan pun bisa menjadi sumber stress baru buat saya.

‘Anjir ga ditanggepin gue.’

See, masalah baru kan itu.

Don’t get me wrong, kalian bebas untuk memprotes ketidak adilan terkait hak akan ruang publik. Justru saya salut ke orang-orang yang berani dan teguh dalam memperjuangkan hak mereka akan ketenangan di tempat umum. Dan saya juga setuju karakter ‘orang berisik’ di tempat umum itu masuk dalam kategori mengganggu, meskipun tentu saja pendapat ini murni refleksi karakter saya sendiri a.k.a bias. Tapi ya, misalkan memang benar menjadi berisik di tempat umum itu salah, biarkan itu menjadi tanggung jawab orangnya untuk ‘memperbaiki’ karakternya. Untuk saya pribadi pun, saya nggak melihat menegur orang lain sebagai solusi karena itu berarti kenyamanan saya ada di tangan orang yang saya tegur itu. Saya lebih memilih berusaha mengontrol hal yang bisa saya kontrol: respon saya sendiri.

Mengontrol respon saya sendiri ini murni cara pribadi saya untuk tetap bisa merasa nyaman di masyarakat ini karena saya sendiri masih belum berani untuk konflik terbuka dengan orang lain.

Dan beneran, saat saya mengubah cara terima saya akan suara-suara musik keras dari ‘berisik banget bgsd’ menjadi ‘hihi si mbak/mas-nya hepi banget ya pasti sekarang nyanyi-nyanyi’, otak saya bisa perlahan-lahan mengabaikan suara-suara berisik itu. Pernah notice nggak sih, moment saat kamu mengalihkan perhatian kamu dari sesuatu dan setelah sekian lama bisa lupa hal itu ada? Misalnya pas lagi baca buku, nonton, atau lagi ngobrol sama orang. Meskipun mata kita menatap ke kata-kata di bukunya, meskipun kita jelas mendengar suara orang atau TVnya, tapi saat kita kehilangan fokus sesaat, kita bisa nggak ngeh dengan itu semua. Nah, kurang lebih sama seperti itu kejadiannya. Karena saya nggak lagi fokus ke merasa terganggu dengan suara-suara itu, otak saya bisa mengabaikannya. Karena saya tidak lagi merasa terganggu, otak saya paham suara berisik ini tidak perlu diberi perhatian dan saya bisa tertidur dengan pulas.

Beneran deh, what you’re focused on will grow. Makanya saya belajar buat nggak lagi menaruh fokus ke hal yang saya anggap menganggu.

Sebenarnya hidup kurang lebih sama seperti ini sih. Akan ada banyak ketidak nyamanan saat kita meletakan kontrol di kelakuan orang lain. Tentu saja ada banyak hal yang tidak bisa dihindari hanya dengan mengubah pola pikir kita. Misal, dalam kondisi peperangan akan sangat sulit untuk hanya mengandalkan kemampuan kita berpikir kalau ini semua baik-baik saja

(tapi ya kalau kemampuan kita selevel para biksu zen, di situasi sesulit perang pun mereka bisa menemukan kedamaian. Coba lihat biksu Vietnam Thích Quảng Đức yang membakar dirinya sebagai bentuk protes. Di kobaran api sepanas itu dia tidak mengeluarkan suara sedikit pun, tidak meronta-ronta sedikit pun.)

Tapi in our mundane life, ketidak nyamanannya biasanya masih dalam level harmless. Orang berisik di bioskop atau di KRL itu bisa dihindari sesimpel dengan mengalihkan fokus kita ke hal yang lain. Kembali fokus ke filmnya atau kalau dalam kasus KRL, bisa sesimpel pakai headset dan fokus mendengarkan musik kesukaan.

Belajar untuk bisa menemukan hal lain untuk menjadi fokus yang baru.

(Pas lagi ngetik ini, suara anak-anak berteriak-teriak bermain sudah terdengar lagi. Sekali tidak sadar refleks memutar mata sambil menghela nafas karena terganggu. Tapi begitu sadar ini begitu sesuai dengan apa yang sedang saya ketik, jadi lucu sendiri. Kita semua masih belajar)

Pada akhirnya yang bisa kita kendalikan adalah reaksi dan perbuatan diri sendiri saja. So make the best out of it.

 

Dan seperti apa yang dikatakan salah satu kerabat Hyori, the moment we want to hate someone, that is the moment we need to see them more in compassion. Mungkin dengan begitu saya bisa melihat dunia dengan hati yang lebih lembut. Kembali menyadari bahwa kita semua hanya sedang menjalani hidup masing-masing dengan sebaik dan sebisa kita.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Rencana Tuhan

Melihat Mantan Dengan Perempuan Lain

Mengubah Hidup