Tentang Lemon Cake
Jadi kemarin ini buku saya, si Lemon Cake,
akhirnya terbit.
Jujur sampai sekarang saya masih kesulitan
untuk meresapi sepenuhnya semenakjubkan apa momen ini. Perasaan rendah diri kronis saya
masih menahan saya untuk bisa benar-benar mengakui betapa pentingnya hal ini.
Sekilas-sekilas suara seperti ‘ah gini doang’, ‘belum tentu laku’ dan
semacamnya masih sering hilir mudik di kepala, membuat saya masih merasa kurang
pantas jika ingin berbahagia dengan maksimal.
Memang karakter dasar manusia itu mencari
kesulitan.
Terlepas dari apa benar kejadian ini ‘gini
doang’ dan tanpa mengetahui bagaimana angka penjualannya, satu hal yang saya
yakini bisa saya serap kebahagiaannya adalah melihat bagaimana teman-teman saya
bereaksi akan berita saya menerbitkan buku ini.
Sungguh, saya benar-benar bisa merasakan cinta
dari mereka.
Ada teman lama saya yang tinggal di Singapura,
yang sebenarnya kami berkenalan hanya selintas saja saat dia sedang secondment
di kantor saya. Dari tujuh-delapan tahun saling mengenal, kami hanya sempat
bertemu kembali sebanyak satu kali saja. Sisanya definisi persahabatan kami
hanya lah melalui bertukar pesan WhatsApp. Saya menceritakan tentang buku ini
dan reaksinya begitu hangat dan mendukung. Dia sampai meminta tolong teman dekatnya
yang sedang bekerja di Jakarta untuk memesankan buku saya melalui akun
Tokopedianya. Dia sendiri tidak akan bisa memahami sepenuhnya buku berbahasa
Indonesia ini tapi niat dia adalah untuk mendukung saya sebagai temannya.
Teman-teman domestik saya pun memberikan reaksi
yang sama. Baik yang teman-teman dekat yang masih sering berhubungan sampai
mereka yang sudah lama tidak saling bertegur sapa dengan saya. Lagi, terlepas
dari bagaimana ‘kesuksesan’ buku ini, bisa kembali diingatkan betapa saya memiliki
begitu banyak orang yang peduli dan mendukung saya adalah sebuah kemewahan yang
berbeda.
Kemewahan lain yang saya dapat dari terbitnya buku ini adalah
tentang keberanian yang saya miliki sekarang. Masih belum seberani Musa saat
menghadap Firaun, tentu saja tapi saya sudah berani untuk mengusahakan apa yang
saya inginkan untuk menjadi kenyataan. Saya berani untuk ditolak, untuk gagal, untuk dinilai buruk, untuk berproses. Keberanian yang sebelumnya hanya bisa saya kagumi di diri orang lain sekarang ada di diri saya.
Salah satu persyaratan yang diminta saat
mengirim naskah adalah proposal. Proposal ini diminta untuk menjelaskan apa
yang membuat saya merasa naskah saya ini layak untuk diterbitkan. Layak.
Sungguh sebuah pilihan kata yang bagi saya terasa begitu mengintimidasi. Rasanya saat itu ingin saya jawab 'ya kalo nggak mau ya nggak apa2 juga'.
Saya selalu memiliki kesulitan untuk bisa menjual diri saya sendiri. Saya merasa tidak pantas dan tidak sopan bagi saya untuk mengambil begitu banyak ruang dengan merasa bangga atau bahkan sekedar yakin bahwa saya pantas untuk menerima hal yang baik. Saya sudah terbiasa dengan mengecilkan diri, sesedikit mungkin mengambil ruang dari hidup yang saya punya.
Mungkin karena memang selama beberapa tahun
terakhir ini saya benar-benar berusaha mengerjakan hal-hal yang baik untuk diri
sendiri, keberanian untuk mengusahakan hal yang saya inginkan mulai membesar,
lebih besar daripada perasaan rendah diri saya. Ini adalah hal yang baru untuk
saya, bisa berdiri dengan tegap di depan rasa takut walaupun rasa takut itu
masih membuat jantung saya berdebar kencang. Meskipun dengan dada yang
berdebar kencang karena gugup ini, saya berani menjawab rasa takut langsung di wajahnya:
saya mau mencobanya.
Dan disini lah kita sekarang, kurang lebih empat bulan sejak buku saya akhirnya terbit.
Lagi, tidak ada maksud membuat gambaran
seolah-olah buku saya ini meledak-ledak laku di pasaran dan saya menjadi tokoh
sastra di nusantara yang selevel dengan Andrea Hirata atau Dewi Lestari (walaupun
siapa tahu, kan? Semesta ini punya segalanya untuk semua orang). That would be
nice and I would happily accept such blessing tapi ‘sesimpel’ kejadian saya
bisa untuk pertama kalinya mengerjakan apa yang saya benar-benar suka saja sudah
terasa begitu istimewa. Sekarang pun sudah mengharu biru rasanya hati ini.
Dan ternyata, meskipun saat ini buku ini belum
menjadi fenomena di masyarakat, beberapa kali pesan masuk ke saya, mengatakan
betapa buku ini bisa menjadi penghiburan dan penguatan untuk mereka
yang juga sedang kewalahan mengatasi duka mereka. Tidak dalam angka yang
fantastis pesan-pesan yang masuk, kembali saya ingatkan. Hanya beberapa pesan saja tapi seperti yang saya tulis
di buku saya, meskipun hanya satu orang saja yang merasa terbantu dengan buku
ini, saya merasa hidup saya sudah ada artinya.
Saya merasa begitu humbled membaca pesan-pesan
ini. Juga merasa begitu overwhelmed saat menyadari saya diberikan kesempatan untuk
memiliki hidup yang besar, hidup yang bisa menyentuh orang lain yang tidak saya
kenal sama sekali. Saya masih merasa absurd dengan bab hidup saya yang ini.
Sekarang saya perlu belajar untuk lebih berani
meresapi I did something great. I did something that I can be proud of.
Memberikan ruang untuk diri saya merasa bangga akan apa yang saya lakukan itu
adalah hal yang masih saya pelajari. Masih belajar untuk tidak ‘ih ya ampun
apaan sih ini ih ih’ tiap kali ada yang meminta saya untuk menanda tangani buku
saya. Belajar untuk menerima kehebatan dan kebaikan yang ternyata bisa saya
hasilkan.
Saya semakin mengerti yang dimaksud dengan it
takes courage to be who you really want to be. It takes courage to be kind to
yourself. Saya juga masih terus belajar untuk bisa dengan baik menerima hal
yang baik di hidup saya. Tidak berlebihan tapi yang pasti jangan sampai merendahkan
pencapaian saya sendiri.
So here I am, saying to the world that I am
really proud of my achievement.
I did good, really good.
Komentar
Posting Komentar