Kesepian
Hari Sabtu
malam kemarin, untuk pertama kalinya di tahun ini, saya kembali merasa kesepian.
Dan karena saya anaknya dramatis (dan juga perpaduan menuju menstruasi, Cancer
season, dan sebelumnya saat bebersih rak buku buka-buka jurnal jaman dulu dan
baca lagi betapa saya sangad mencintai orang itu di masa lalu), menangis lah
saya. Nggak sampai terisak-isak sih tapi ya lumayan sedih aja rasanya.
Saya, sama
seperti mungkin 100% manusia lainnya di muka bumi ini, tidak asing dengan
perasaan kesepian. Perasaan yang nampaknya sudah punya jadwal untuk muncul ke
permukaan dan membuat seseorang menghentikan apapun yang sedang ia lakukan
untuk bisa sepenuhnya fokus kepada perasaan yang berat ini. Dan itu juga
yang saya lakukan. I cradled my loneliness, talking to it slowly and patiently.
Sungguh
mudah untuk saya mengaitkan perasaan kesepian ini dengan fakta saya sudah
begitu lama menjomblo. Dan periode saya menjomblo ini ada di level terekstrim:
benar-benar tidak ada lelaki yang bahkan masuk dalam tahapan menjadi dekat. Ada
satu, satu saja dalam tiga tahun terakhir ini, lelaki yang saya taksir tapi nampaknya dia tidak tertarik dengan perempuan
(kecurigaan ini juga didukung oleh beberapa teman saya). Ada yang naksir sama
saya tapi sayanya tidak. Klasik.
Ada yang
mendekati saya dengan mengirim DM dan saya potensial naksir tapi kelihatannya
dia bagian dari jaringan penipuan ala-ala Tinder Swindler yang akan merayu
targetnya untuk berinvestasi di aplikasi (bener nggak sih istilahnya aplikasi?)
trading yang dia rekomen lalu membawa lari uangnya. Sedih juga sih soalnya
emang beneran cakep dan keliatannya dia beneran suka masak.
Sempet
kepikiran hmm ya udah sih ya tanggepin aja terus tapi ya jangan pernah mau
transfer-transfer. Lumayan juga kan bisa chat sama lelaki cakep, badan bagus,
kaya walopun dari duit nipu, dan suka masak.
Iya itu
titik saya ngerasa saya menyedihkan banget.
Untungnya
malaikat saya tidak membiarkan saya jatuh serendah itu dan saya segera menghentikan komunikasi dan hanya bisa
mendoakan semoga si koko ganteng itu insyaf.
Jadi ya
begitu. Kesepian.
Kalau dulu,
tiap kali kesepian ini menyeruak ke permukaan, saya selalu merasa berat di
hati. Begitu lama saya memprosesnya, bisa berhari-hari, bahkan
berminggu-minggu. Tertidur dengan pikiran ‘Am I not enough?’ dengan rembesan
air mata di bantal.
Tapi
kemarin, saya menyadari saya menghadapi kesepian dengan cara yang berbeda.
I don’t
mind it.
Saya juga
tidak berbicara buruk tentang diri saya sendiri. Sempat refleks mau mikir ‘no
one cares’ seperti yang selalu kejadian sebelumnya tapi sekarang pikiran itu
terasa mengada-ngada. I know I am loved. Dalam beberapa tahun terakhir, saya
benar-benar bisa melihat dan merasakan betapa banyak orang-orang yang peduli
dan sayang pada saya. Teman-teman dan keluarga yang selalu mencari kesempatan
untuk bisa berbagi waktu dan kebahagiaan mereka dengan saya. Saya sudah tidak bisa menerima pikiran ‘no one cares’ karena saya tahu
itu tidak benar.
Lalu
pikiran ‘I am worthless’ juga sudah bersiap-siap masuk arena menggantikan ‘no
one cares’ yang sudah gagal. Itu kan yang dipercaya oleh masyarakat modern
ini. Kalau kamu sampai merasa kesepian, itu karena tidak ada yang mau bersama
kamu dan tidak ada yang mau bersama kamu itu karena kamu tidak berharga.
Tapi ya
gimana ya, saya udah tahu saya ini sangat berharga. Bahkan sudah beberapa hari
ini saya kalau melihat ke kaca selalu bergumam ‘buset cakep amat’. Gimana bisa
ngerasa worthless kalo saya paham begitu banyak yang bisa saya berikan ke luar?
Gimana bisa ngerasa worthless kalo saya bisa dengan jelas melihat apa yang bisa
saya lakukan dengan hidup saya?
‘I am worthless’ pun pergi meninggalkan arena, tidak menyangka ia dan ‘no one cares’, duet maut yang selama ini selalu berhasil menguasai saya tiap kali kesepian datang, kali ini harus menerima kekalahannya. Mungkin untuk yang pertama kalinya.
Saya hanya perlu
menghadapi kesepiannya saja, yang memang akan selalu datang tidak peduli bagaimana
kondisi saya. Kesepian tidak ada hubungannya dengan bagaimana perasaan hati
saya atau status hubungan romantis saya. It just there, inside everyone all the
time. Just like any other feelings.
Dan karena
kali ini saya bisa fokus dengan si kesepian tanpa harus direpotkan dan
dialihkan perhatiannya dengan pikiran-pikiran lain, saya bisa melihat dengan
jelas bahwa kesepian ini hanya sekedar pengingat agar saya bisa melambatkan
ritme hidup saya, agar saya bisa lebih hadir di masa sekarang tanpa harus
bolak-balik berjalan ke masa lalu atau masa depan.
Kesepian
ini mengingatkan saya bahwa selalu ada cinta dalam hati saya yang bisa saya
bagikan ke siapa saja, terutama ke diri sendiri.
Dengan
kesadaran ini, saya bangun dari kasur. Saya hapus air mata dan ingus yang sudah
mulai terasa menyumbat hidung. Saya melakukan peregangan sesaat sebelum
akhirnya mandi. Sembari mencuci muka, saya bilang dalam hati: I get your
message, you can leave now. I will handle myself better.
Untuk
pertama kalinya saya tidak tertidur sembari terus meratapi kenapa tidak ada
yang menginginkan saya saat kesepian datang berkunjung. Saya tidak lagi
menjelek-jelekan diri saya sendiri hanya karena saya merasa kesepian. Saya rasa
kesepian memang tidak pernah berniat buruk, hanya ego kita saja yang
memanfaatkan kedatangannya untuk mengeluarkan semua pikiran buruk tentang diri
sendiri. Kesepian hanya ingin agar kita meluangkan waktu untuk diri sendiri.
Malam itu
pun saya tertidur sambil tersenyum kecil.
Goodbye,
loneliness. See you again next time.
Komentar
Posting Komentar