Tuhan, Apa Kabar?
"Tuhan, apa kabar?"
Tanyaku setengah malu-malu setengah bersemangat sembari menghampirinya yang nampak sedang serius mengerjakan sesuatu di meja panjang di depannya.
Mendengar suaraku, Tuhan mengangkat kepalanya dan menengok ke arahku. Ia tersenyum. Merasa mendapat respon positif, aku semakin bersegera menghampirinya. Dia mengawasiku saat ikut duduk di depannya. Oh, dia sedang menyusun puzzle.
"Aku baik, bagaimana denganmu?" tanyanya balik.
"Aku baik juga." jawabku yang kemudian sempat merasa bingung mau menambahkan apalagi. "Aku sangat baik," kataku akhirnya.
Ia mengawasiku sambil tersemyum tipis. "Iya, kelihatan." Jawabnya singkat. Ku pegang-pegang potongan puzzle di depanku sambil melirik sejauh mana ia sudah menyusun puzzlenya. Masih belum kelihatan gambarnya apa.
"Maaf ya, Tuhan. Aku sudah lama tidak mendatangimu." kataku akhirnya. "Ternyata memang benar ya, manusia datang ke kamu cuma kalau ada butuhnya aja. Kalau senang lupa." Aku mengatakannya dengan perasaan malu dan ragu. Agak takut juga kalau aku sampai mendengar dia benar-benar kecewa karena aku sudah lama tidak datang padanya semenjak aku sudah merasa baik-baik saja. Dulu sewaktu masih luluh lantak, aku selalu menganggunya dengan rengekanku tapi di saat aku dalam kondisi baik, aku jarang menghabiskan waktu dengannya.
Tuhan memiringkan kepalanya sedikit sambil menatapku. Ekspresinya terlihat sedikit bingung.
"Tapi aku tidak masalah kamu hanya datang padaku di saat butuh saja."
Jawabannya menghentakku. Ku tatap wajahnya sungguh-sungguh. Dia masih dengan ekspresi setengah tidak mengertinya.
"Kesulitan itu memang sifatnya untuk membuatmu dekat denganku. Untuk kembali mencariku di dalam dirimu. Tidak ada yang salah dengan hal itu." Jawabnya lagi dengan ekspresi yang lembut. "Lagipula," lanjutnya sembari mulai mencari-cari potongan puzzle di depannya "aku tidak seperti manusia yang tersinggung saat seseorang mencarinya hanya saat mereka butuh pertolongan. Aku tidak butuh validasi seperti itu." katanya sambil mengambil satu potong puzzle, meletakannya di susunan gambar di depannya tapi ternyata tidak cocok. Mulutnya sedikit melengkung kecewa lalu kembali mencari potongan yang lain.
Aku terdiam.
Ternyata Tuhan tidak sejulid itu ya memang.
Berusaha menghapus rasa canggungku karena kalimatnya yang begitu halus, aku menjulurkan kepalaku untuk melihat potongan puzzle apa yang sedang dia cari. "Warna apa sih itu? Hijau-hijau kayak pohon gitu ya?" tanyaku akhirnya. "Iya hijau, tapi aku tidak tahu ini pohon atau bukan." jawabnya serius. Aku mulai menyisir potongan-potongan puzzle di depanku ini, mencari yang sekiranya mendekati yang tadi dibicarakan.
"Tapi kamu benar-benar sudah baik-baik saja?" tanyanya akhirnya tanpa mengangkat kepalanya, masih sibuk mencari potongan yang dia butuhkan.
Aku terdiam lagi.
Gimana kalau aku bilang iya tapi dia yang maha tahu ini tahu kalau aku sebenarnya belum baik-baik saja? Kadang aku pun masih tidak yakin apa aku benar sudah baik-baik saja.
"Ummm," jawabku kehilangan kepercayaan diri di awal. "Yah, menurutku sih sekarang ini sudah baik banget. Yah walaupun kemarin waktu jalan-jalan di mall masih suka takut kalau ketemu dia tapi secara umum, kalau dibikin grafik gitu, secara umum aku sudah baik-baik saja sih." Kataku panjang lebar yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan.
"Baik-baik saja itu memang tidak mungkin setiap waktu kok." Jawab Tuhan tapi kali ini sambil melihat ke arahku. Aku pun membalas tatapannya.
"Namanya kamu sudah terluka, sudah ada bekasnya. Meskipun lukanya sudah sembuh, sudah tidak sakit lagi, namun setiap kali kamu melihat bekas lukanya akan teringat lagi. It is okay, yang penting kamu selalu bisa melepaskan rasa sakitnya tiap kali ia datang. Kamu tidak lagi memegangi rasa sakitnya lama-lama." Katanya menenangkan.
Aku ragu untuk mengucapkan hal yang ingin ku ucapkan. Tanganku memainkan potongan puzzle untuk mengurangi kecemasan yang ku rasakan.
"Kenapa? Tanyakan saja." Katanya kalem. Aku suka lupa kalau aku sedang berbicara dengan kekuatan yang maha mengetahui ini.
"Gimana ya..." aku mulai mengumpulkan keberanian. "Kadang, aku masih suka mempertanyakan, apa aku masih cinta ya sama dia?" kataku akhirnya dengan rasa malu yang menghangatkan mukaku. "Maksudnya, ya bukannya aku masih mau sama dia sih. Cuma ya itu. Suka kepikiran aja. Mungkin karena aku belum punya pasangan lagi kali ya hehehehe." Aku memberikan kode agar bisa segera mendapatkan pasangan lagi sambil berusaha menutupi maluku dengan cengengesan yang pada akhirnya hanya membuatku terlihat semakin canggung.
Tuhan menatapku dengan ekspresi bingung, ekspresi yang sudah dia keluarkan dua kali. Manusia ini memang seringkali membingungkannya pasti.
"Cinta itu akan selalu ada sekali ia sudah muncul. Hanya karena kamu tidak bersamanya, tidak berarti kamu berhenti mencintainya. Jadi sudah benar kalau kamu masih cinta sama dia." katanya pelan.
Aku terdiam mendengarkan.
"Justru perasaan kamu itu baru bisa terbukti cinta atau bukan saat kamu bisa melepaskannya. Saat kamu sudah tidak bersamanya tapi kamu masih bisa selalu mengharapkan yang baik untuknya. Dan aku tahu dengan pasti, kamu masih selalu mendoakannya hal yang baik-baik. Aku selalu tersenyum tiap kali kamu mengucapkan doa untuknya." kata Tuhan sambil tersenyum hangat.
Mataku terasa hangat sekarang. Aku tahan mati-matian agar bibirku tidak melengkung menahan isakan. Hatiku terasa hangat dan perih secara bersamaan saat mendengar kalimatnya barusan. Untuk mencuri waktu agar air mataku bisa masuk lagi, aku kembali belagak sibuk mencari potongan puzzle.
Sesaat tidak ada yang berbicara diantara kami. Aku merasa dia mengetahui apa yang sedang kurasakan dan memberikanku waktu untuk mengolah emosiku.
"Masih menangis juga tidak apa-apa. Itu bukan tanda kamu kalah atau belum bisa ikhlas." katanya lembut, tahu apa yang sedang kupikirkan saat ini. Aku masih diam mendengarkan sambil terus mengutak-atik potongan puzzle di depanku. "Kamu menyayanginya, kehilangan orang yang disayang tidak pernah akan bisa menjadi baik-baik saja sepenuhnya. Kamu sudah melakukan yang terbaik untuk bisa melewati masa sulit itu. Kamu harus bisa menjadi baik ke dirimu sendiri, terutama di saat kamu sedang bersedih."
Akhirnya aku mengangkat kepalaku untuk melihatnya. Anehnya, mendengar ucapannya barusan justru membuat kesedihanku menguap. Mataku tidak menahan air mata lagi. Hatiku seolah mendapat penghiburan terbaik.
Aku hanya bisa tersenyum. Entah senyum apa, bukan bitter-sweet, tapi tidak sepenuhnya karena aku bahagia juga. Aku hanya ingin tersenyum saat itu.
"Iya, aku masih belajar untuk bisa mengerti sedihku ini tidak menjadikanku lemah, bukan tanda aku masih menginginkan yang sudah berakhir juga. It just, sad. Nothing more." kataku sambil meluruskan punggungku.
Ia tersenyum melihatku. "Betul. It just sadness. Let it come and let it go fast." Ia kembali mulai fokus ke puzzle di depannya.
Aku mengamatinya untuk sesaat.
"Tuhan," panggilku lagi.
"Ya?" Jawabnya sambil melihatku, selalu memberikan perhatiannya secara penuh kepadaku.
"Aku akan bisa menemukan kebahagiaan seperti yang sudah hilang itu kan?" tanyaku akhirnya.
Dia tidak langsung menjawab dan menatapku beberapa saat, seperti sedang menyusun kalimat yang akan dia ucapkan.
Dia mengangkat tangannya yang sedang memegang satu potongan puzzle.
"Kamu tahu kenapa aku suka bermain puzzle?" Tanyanya balik, seakan menghindari menjawab pertanyaanku. Aku menggeleng. Merasa sedikit kecewa dia mengacuhkan pertanyaanku.
"Karena proses menyusun puzzle ini sangat mirip dengan kehidupan manusia." Jawabnya lagi. Aku mengeryitkan dahi bingung. "Maksudnya?"
"Saat kamu membeli puzzle, kamu berpatokan dengan gambar di kemasannya kan? Cara kamu menyusunnya, strategi kamu untuk bisa menyelesaikan gambar ini, pikiran kamu berpatokan pada gambar yang kamu lihat di kemasannya, betul tidak?" Tanyanya lagi. Aku bisa merasakan semangat di nada bicaranya. Aku mengangguk.
"Kamu tidak pernah curiga apa produsen itu membohongimu dengan gambar di kemasannya. Kamu tidak pernah curiga apa produsennya menaruh gambar kuda di kemasan puzzle tapi ternyata potongan-potongannya membentuk gambar ayam. Kamu membelinya karena yakin itu adalah gambar yang kamu inginkan." Katanya panjang lebar sambil menunjukkan potongan puzzlenya lagi. Aku masih diam mendengarkan, mulai bisa menerka-nerka maksud dari perumpamaannya ini.
"Dengan kepercayaan kamu akan mendapatkan gambar kuda, kamu pun akan menyusun puzzle-puzzle itu dengan pikiran akan mendapatkan gambar kuda. Tanpa keraguan. Meskipun sering kali potongan-potongan ini tidak mirip dengan kuda sama sekali, tapi kamu tahu itu karena gambarnya belum lengkap. Kamu masih berproses melengkapi gambar kamu." Katanya sembari mulai menyusun puzzle di depannya lagi.
"Hidup manusia kurang lebih seperti itu. Aku sudah menjanjikan kepadamu hidup yang penuh berkah, kamu sudah punya gambar besarnya. Kamu hanya perlu percaya kamu sedang menyusun potongan hidup kamu untuk menjadi hidup yang sudah kujanjikan kepadamu. Seringkali memang kamu akan ragu apa benar ini gambarnya karena kamu hanya melihat potongan kecilnya. Potongan puzzle berwarna hitam ini tidak nampak seperti kuda putih yang dijanjikan tapi itu karena kamu sedang menyusun gambar batu di sekitarnya."
"Kamu sudah punya puzzle dan gambaran akan bagaimana hasilnya nanti. Kamu percaya kan, sama aku? Kalau kamu bisa percaya dengan produsen puzzle, kamu pasti bisa percaya padaku, kan? Kan?" Tanyanya sedikit komedi dengan nada bicaranya yang memaksa. Aku tersenyum dan mengangguk.
Ia pun tersenyum.
"Tugas kamu hanya dua: sabar dalam proses menyusun potongan-potongan gambarnya dan menjaga agar semua potongan puzzle yang sudah kuberikan kepadamu tidak ada yang hilang. Itu tanggung jawab kamu untuk menjaga tiap potongan yang sudah kuberikan kepadamu. Berbeda dengan produsen puzzle, aku tidak pernah mengirimkan gambar yang potongannya tidak lengkap." Katanya dengan nada yang seakan mengingatkanku bahwa ia adalah Tuhan yang tidak mungkin melakukan kesalahan produksi semacam itu.
"Susun lah potongan puzzlemu dengan sabar dan dengan iman. Kamu tahu aku selalu menyemangatimu untuk terus menjalani hidupmu sebaik mungkin. Aku tidak sabar saat kamu akhirnya bisa melihat gambar kehidupanmu secara utuh." Ia mengakhiri jawaban panjangnya dengan senyumnya yang hangat. Senyum yang selalu menenangkanku di saat-saat tersulitku.
Aku merasakan perasaan damai setelah mendengarkan ucapannya. Semua keraguanku menghilang. Mungkin akan datang lagi tidak lama setelah ini, tapi untuk saat ini, semua keraguanku hilang dan aku bisa merasakan kedamaian luar biasa di hatiku. Untuk sesaat, aku bahkan merasakan seakan waktu berhenti dan dunia menjadi sunyi. Even for seconds, I feel so alive.
Aku hanya bisa tersenyum. Dia pun tersenyum melihatku, menyadari betapa hatiku dipenuhi dengan rasa damai. Aku mungkin berlebihan tapi aku bisa merasakan ada perasaan bangga yang terpancar dari caranya menatapku. Bagaimana pun juga, dia yang sudah melihatku hancur lebur, menyedihkan, menyebalkan, dan memaksa sebelum ini. Melihatku bisa berada di situasi sekarang bisa jadi memang membanggakan.
I am proud of myself too.
"Engkau mau menyelesaikan gambar ini hari ini?" Tanyaku sembari melihat puzzle yang masih jauh dari selesai ini. "Hmm.. aku tidak terburu-buru sih. Aku menikmati proses menyusunnya." Jawabnya sambil menatap tebaran potongan puzzle di depannya. "Kamu sibuk? Mau menemaniku menyusunnya?" Tanyanya lagi. Aku tersenyum dan mengangguk.
"Sekali-kali aku yang membantumu."
"Oh, kamu selalu membantuku. Selalu."
Komentar
Posting Komentar