Berakhir Dengan Indomie
Jadi kemarin ini gue ketemuan sama seorang cowok. Kita crossing path melalui momen serendipity di abad 21 ini, matching di Tinder. Dari foto dan wasapan selama kurang lebih semingguan, gue sih ngerasanya dia oke. Secara jasmani masih berterima buat gue. Berasal dari keluarga dengan status sosial dan ekonomi yang gue yakin lebih tinggi dari gue. Berpendidikan baik, memiliki pekerjaan yang baik, obrolan kita juga termasuk baik dan tidak terasa menggangu. Dan dia sudah menyatakan dari awal bahwa dia into relationship untuk akhirnya menikah. Dia juga nggak ngerokok dan milih Jokowi.
Sounds like the answer to my pray.
Lalu, seperti cerita-cerita yang lalu, kita ketemuan. Kesan pertama, masih oke. Foto sama aslinya sama aja, nggak bikin gue sampe nelpon temen gue buat pura-pura jadi mak gue nyuruh gue pulang (done this like two times already). Kita menuju tempat makan Jepang dan kembali ngobrol-ngobrol. Kita ngobrolin banyak hal, dari yang personal, sampai ke soal politik, dan meditasi.
It's all okay. But maybe that the problem is. It was just okay. Nothing more. Kayak perasaan makan makanan yang biasa aja, nggak sampe nggak enak sih tapi nggak sampe bikin lo pengen sengaja-sengaja makan itu lagi. Lo nggak akan sampe mendadak ngidam pengen makan itu lagi suatu hari nanti. Ya lo bisa sih makan lagi ke situ tapi lo nggak akan ngerasa semangat saat mau makan di situ. Ngerti kan?
Ada beberapa kelakuan dia yang merupakan pet peeves gue. Tapi di saat itu gue masih bisa mikir ah ya udah sih namanya juga first meet up. Kalau emang nanti kita lanjut kan bisa dibicarakan baik-baik.
Pokoknya saat itu gue merasa gue harus bisa lebih terbuka dan sabar.
Gue berusaha nambah 'rasa' di pertemuan gue itu dengan menanyakan hal-hal seputar kesukaan dia yang mungkin beririsan dengan kesukaan gue juga. Gue tanya dia suka baca buku nggak, dijawabnya nggak terlalu yang gue yakin adalah leveled up answer for 'I never read book in my spare time at all.' Oke, fine, nggak apa-apa. Coba kita cari bumbu lain lagi.
"What is your fave movie of all time so far?" (dia lama di US jadi lebih banyak ngobrol pake enggres). Sebelumnya dia sempet bilang dia nggak terlalu suka nonton film di bioskop dan lebih milih nonton Netflix. Lagi, fine, sure, it is okay. Seenggaknya masih suka nonton film kan apapun medianya. Gue setengah berharap jawabannya akan spark something inside of me atau MINIMAL banget, gue bisa memahami kenapa dia sampe milih film itu.
"Bad Boys." Jawabnya yakin, bahkan ada raut bangga saat jawab itu.
Sekelebatan detik gue masih give him the benefit of the doubt, mikir oh mungkin ada film dengan judul Bad Boys lain yang gue nggak tahu selain film soal dua polisi kulit hitam itu. Mungkin ada film Eropa manaaa gitu atau film festival dari negara manaaa gitu yang judulnya Bad Boys juga. Saat gue masih mengumpulkan keberanian nanyain film Bad Boys yang mana, dia udah nambahin lagi, "Aku suka banget film dua polisi kulit hitam itu."
Gue cuma bisa ngangguk-ngangguk sambil oh dengan kagoknya.
Gue nggak terlalu berharap dia akan jawab Before Sunrise trilogy, atau Boyhood, atau In The Mood of Love, atau Shawshank Redemption. Andaikan dia jawab macem Avengers, atau Harry Potter, atau Inception, atau Star Wars, or even the freaking Titanic, gue masih bisa ngerti. Those are not in my list of answer but I can understand if people choose those movies. Gue masih bisa ngeliat nilai film-film itu sampai dijadikan film favorit sepanjang masa seseorang.
But... Bad Boys? How...? Why...?
Setelah ketemuan itu masih ngobrol tapi ya itu. It just another okay conversation revolves around udah makan? udah pulang? How is work? Kalau gue cuma sekedar nyari good morning text atau sekedar ada notifikasi wasap masuk biar hape nggak sepi-sepi amat, ya itu udah cukup banget sih. Tapi kan nggak ya. Gue justru sedikit terganggu dengan level basa-basi seperti itu.
Gue udah kepikiran, kalo dia emang into me, I could give it a chance. But I know that if he's not into me, I'm okay with it. Probably just a bruised ego but definitely no heart would be broken, no hope would be shattered.
Lalu sampailah di hari kesekian ini. Wasap dia ke gue selalu seputaran makan apa. Gue udah berusaha buat bikin pembicaraan yang lebih meaningful tapi respon dia nggak pernah.. apa ya bahasanya? Reciprocal? Jawabannya sangat elaborate sebenernya, bisa jadi banyak obrolan dari situ tapi nggak tahu ya, rasanya nggak berbalas aja usahague buat bikin komunikasi kita lebih menyenangkan.
Funny, I just realized even for someone that I actually have no interest (at least not that big), I still want to put such effort.
Lagi, dia wasap 'udah makan malam?'
Kita udah ngobrol lebih dari tiga minggu dan dia masih di pola yang sama dari awal banget kita ngobrol. Tapi gue kan mau mencoba lebih kan. Lagi, pikiran gue he is an okay and decent guy to have a relationship.This thought combines with a slight of desperation to have a relationship, membuat gue berusaha membuat percakapan itu lebih baik lagi. Ini transkrip wasapnya:
Dia: Udah makan malam?
Gue: Udah tadi sama Indomie
Gue: Kepalaku pusing deh hari ini ----> THIS IS my effort buat keluar dari lingkaran setan udah makan apa. Gue istilahnya udah ngasih umpan enak banget biar kita bisa punya pembicaraan yang lebih berfaedah. Bisa dijawab, pusing kenapa? yang bisa berlanjut ke topik lainnya kan. Tapi-
Dia: Kuah atau goreng?
Okay. It's done.
Andaikan gue wasapan sama pemilik Indofood pun gue rasa dia nggak akan tertarik buat nyari tahu yang gue makan itu Indomie kuah atau goreng. Why should he???
One thing I believe that he also feels what I feel. I do think he also sees me as she is not bad. She looks good, good education, good conversation. It should be okay. Dan dia juga to some extend, forced it to work. We both were desperately looking for a partner at that time. Gue bahkan udah sampai di titik percaya kalau 'click' is just a bullshit idea. You just need to be 'okay' for a relationship to work, for love to blossom. Maybe it is, tapi untuk konsep ini jalan perlu satu pihak yang 100% into the romance dan dalam kasus gue dan si cowok ini, kita nggak ada yang 100% into the romance.
Sejak saat itu gue nggak pernah ngobrol lagi sama dia. Gue udah hapus nomor dia dan gue rasa dia juga udah hapus nomor gue. To be honest, it's actually better than drag this whole fake connection further just for the sake of we want to have someone in our life. At least we both don't stand in each other way to find better connection with other people.
What a mature approach we had *proud*
Sejak kejadian itu, gue nggak lagi berada di state desperately want to be with someone. Gue sadar, semakin gue panik dan buru-buru buat ketemu pasangan gue, semakin gue nggak akan ketemu siapa-siapa yang cukup penting buat gue. Gue uninstall Tinder dan milih buat langganan Netflix lagi. Best decision ever. Tinder only put me into this sense of ' Fuck, I would never date again' tiap kali ngeliat profile-profile lelaki disitu. Sementara itu, Netflix memberikan gue kebahagiaan dan gue selalu menemukan diri gue tersenyum lebar dan gue bisa ngerasa vibe gue membaik tiap abis nonton (baru selesai nonton Street Foods dan rasanya jiwa gue berasa hangat lagi).
Priority in hand phone memory done right.
Daripada mencurahkan energi dan pikiran gue ke hubungan yang bahkan gue belum punya, gue memutuskan untuk fokus ke hubungan terpenting yang akan selalu gue punya sampai gue mati nanti: Hubungan dengan diri gue sendiri. Gue memutuskan untuk put as much as effort to be a better me just like how I put effort in my previous relationship to work out. Mencintai diri sendiri adalah cara terbaik untuk dicintai oleh orang lain.
Because in the end, we accept the love we deserve.
Sounds like the answer to my pray.
Lalu, seperti cerita-cerita yang lalu, kita ketemuan. Kesan pertama, masih oke. Foto sama aslinya sama aja, nggak bikin gue sampe nelpon temen gue buat pura-pura jadi mak gue nyuruh gue pulang (done this like two times already). Kita menuju tempat makan Jepang dan kembali ngobrol-ngobrol. Kita ngobrolin banyak hal, dari yang personal, sampai ke soal politik, dan meditasi.
It's all okay. But maybe that the problem is. It was just okay. Nothing more. Kayak perasaan makan makanan yang biasa aja, nggak sampe nggak enak sih tapi nggak sampe bikin lo pengen sengaja-sengaja makan itu lagi. Lo nggak akan sampe mendadak ngidam pengen makan itu lagi suatu hari nanti. Ya lo bisa sih makan lagi ke situ tapi lo nggak akan ngerasa semangat saat mau makan di situ. Ngerti kan?
Ada beberapa kelakuan dia yang merupakan pet peeves gue. Tapi di saat itu gue masih bisa mikir ah ya udah sih namanya juga first meet up. Kalau emang nanti kita lanjut kan bisa dibicarakan baik-baik.
Pokoknya saat itu gue merasa gue harus bisa lebih terbuka dan sabar.
Gue berusaha nambah 'rasa' di pertemuan gue itu dengan menanyakan hal-hal seputar kesukaan dia yang mungkin beririsan dengan kesukaan gue juga. Gue tanya dia suka baca buku nggak, dijawabnya nggak terlalu yang gue yakin adalah leveled up answer for 'I never read book in my spare time at all.' Oke, fine, nggak apa-apa. Coba kita cari bumbu lain lagi.
"What is your fave movie of all time so far?" (dia lama di US jadi lebih banyak ngobrol pake enggres). Sebelumnya dia sempet bilang dia nggak terlalu suka nonton film di bioskop dan lebih milih nonton Netflix. Lagi, fine, sure, it is okay. Seenggaknya masih suka nonton film kan apapun medianya. Gue setengah berharap jawabannya akan spark something inside of me atau MINIMAL banget, gue bisa memahami kenapa dia sampe milih film itu.
"Bad Boys." Jawabnya yakin, bahkan ada raut bangga saat jawab itu.
Sekelebatan detik gue masih give him the benefit of the doubt, mikir oh mungkin ada film dengan judul Bad Boys lain yang gue nggak tahu selain film soal dua polisi kulit hitam itu. Mungkin ada film Eropa manaaa gitu atau film festival dari negara manaaa gitu yang judulnya Bad Boys juga. Saat gue masih mengumpulkan keberanian nanyain film Bad Boys yang mana, dia udah nambahin lagi, "Aku suka banget film dua polisi kulit hitam itu."
Gue cuma bisa ngangguk-ngangguk sambil oh dengan kagoknya.
Gue nggak terlalu berharap dia akan jawab Before Sunrise trilogy, atau Boyhood, atau In The Mood of Love, atau Shawshank Redemption. Andaikan dia jawab macem Avengers, atau Harry Potter, atau Inception, atau Star Wars, or even the freaking Titanic, gue masih bisa ngerti. Those are not in my list of answer but I can understand if people choose those movies. Gue masih bisa ngeliat nilai film-film itu sampai dijadikan film favorit sepanjang masa seseorang.
But... Bad Boys? How...? Why...?
Setelah ketemuan itu masih ngobrol tapi ya itu. It just another okay conversation revolves around udah makan? udah pulang? How is work? Kalau gue cuma sekedar nyari good morning text atau sekedar ada notifikasi wasap masuk biar hape nggak sepi-sepi amat, ya itu udah cukup banget sih. Tapi kan nggak ya. Gue justru sedikit terganggu dengan level basa-basi seperti itu.
Gue udah kepikiran, kalo dia emang into me, I could give it a chance. But I know that if he's not into me, I'm okay with it. Probably just a bruised ego but definitely no heart would be broken, no hope would be shattered.
Lalu sampailah di hari kesekian ini. Wasap dia ke gue selalu seputaran makan apa. Gue udah berusaha buat bikin pembicaraan yang lebih meaningful tapi respon dia nggak pernah.. apa ya bahasanya? Reciprocal? Jawabannya sangat elaborate sebenernya, bisa jadi banyak obrolan dari situ tapi nggak tahu ya, rasanya nggak berbalas aja usahague buat bikin komunikasi kita lebih menyenangkan.
Funny, I just realized even for someone that I actually have no interest (at least not that big), I still want to put such effort.
Lagi, dia wasap 'udah makan malam?'
Kita udah ngobrol lebih dari tiga minggu dan dia masih di pola yang sama dari awal banget kita ngobrol. Tapi gue kan mau mencoba lebih kan. Lagi, pikiran gue he is an okay and decent guy to have a relationship.This thought combines with a slight of desperation to have a relationship, membuat gue berusaha membuat percakapan itu lebih baik lagi. Ini transkrip wasapnya:
Dia: Udah makan malam?
Gue: Udah tadi sama Indomie
Gue: Kepalaku pusing deh hari ini ----> THIS IS my effort buat keluar dari lingkaran setan udah makan apa. Gue istilahnya udah ngasih umpan enak banget biar kita bisa punya pembicaraan yang lebih berfaedah. Bisa dijawab, pusing kenapa? yang bisa berlanjut ke topik lainnya kan. Tapi-
Dia: Kuah atau goreng?
Okay. It's done.
Andaikan gue wasapan sama pemilik Indofood pun gue rasa dia nggak akan tertarik buat nyari tahu yang gue makan itu Indomie kuah atau goreng. Why should he???
One thing I believe that he also feels what I feel. I do think he also sees me as she is not bad. She looks good, good education, good conversation. It should be okay. Dan dia juga to some extend, forced it to work. We both were desperately looking for a partner at that time. Gue bahkan udah sampai di titik percaya kalau 'click' is just a bullshit idea. You just need to be 'okay' for a relationship to work, for love to blossom. Maybe it is, tapi untuk konsep ini jalan perlu satu pihak yang 100% into the romance dan dalam kasus gue dan si cowok ini, kita nggak ada yang 100% into the romance.
Sejak saat itu gue nggak pernah ngobrol lagi sama dia. Gue udah hapus nomor dia dan gue rasa dia juga udah hapus nomor gue. To be honest, it's actually better than drag this whole fake connection further just for the sake of we want to have someone in our life. At least we both don't stand in each other way to find better connection with other people.
What a mature approach we had *proud*
Sejak kejadian itu, gue nggak lagi berada di state desperately want to be with someone. Gue sadar, semakin gue panik dan buru-buru buat ketemu pasangan gue, semakin gue nggak akan ketemu siapa-siapa yang cukup penting buat gue. Gue uninstall Tinder dan milih buat langganan Netflix lagi. Best decision ever. Tinder only put me into this sense of ' Fuck, I would never date again' tiap kali ngeliat profile-profile lelaki disitu. Sementara itu, Netflix memberikan gue kebahagiaan dan gue selalu menemukan diri gue tersenyum lebar dan gue bisa ngerasa vibe gue membaik tiap abis nonton (baru selesai nonton Street Foods dan rasanya jiwa gue berasa hangat lagi).
Priority in hand phone memory done right.
Daripada mencurahkan energi dan pikiran gue ke hubungan yang bahkan gue belum punya, gue memutuskan untuk fokus ke hubungan terpenting yang akan selalu gue punya sampai gue mati nanti: Hubungan dengan diri gue sendiri. Gue memutuskan untuk put as much as effort to be a better me just like how I put effort in my previous relationship to work out. Mencintai diri sendiri adalah cara terbaik untuk dicintai oleh orang lain.
Because in the end, we accept the love we deserve.
Komentar
Posting Komentar