Casual Sex

Secara pribadi, gue percaya casual sex itu hal yang dipaksakan. Mungkin bukan dalam cara lo memaksakan diri untuk bisa casual sex, nggak, gue tahu banyak orang yang 100% bisa melakukan itu dan bahagia dengan hal itu dan tidak merasa ada masalah (di luar dari STD yang kemungkinan mengikuti setelahnya). Maksudnya, mereka para penganut casual sex ini memang genuinely tidak perlu koneksi atau affection terlebih dahulu dengan calon pasangan seksualnya. Bisa memang langsung hajar jebret jebret jedar gooooool gitu nggak perlu pake oper-oper kiri kanan dulu. Mereka juga nggak merasakan adanya perasaan attached ke pasangan seksual mereka setelah baju kembali dipakai dan si mbak/masnya pulang. Nggak ada perasaan pengen ngobrol lagi diluar obrolan untuk membuat janji kapan bisa have sex lagi.

Perasaan attachment ini kemudian dikemas dalam satu kata yang gue bener-bener b  e  n  c  i yaitu baper. Aseli gue benci banget sama kata ini. Gue tiap denger atau baca kata ini langsung menjengit macam pas baca Titiek Soeharto bilang enak jaman Soeharto dulu.

YA IYA ENAK ITU KAN BAPAK LO.

(Tarik napas)

Entah kenapa dan entah sejak kapan, konsep seks yang santai ini menjadi sesuatu yang lebih keren di point of view banyak orang. Semacam, lo itu cool, edgy, modern, kuat, dan semacamnya kalau lo bisa melakukan hal itu dan menyebut orang-orang yang merasakan attachment melalui dan/atau setelah kegiatan seks sebagai baper. Bawa perasaan. Konotasi baper ini jelek banget. Kesan yang didapet adalah kuno, gak asik, dan terutama, lemah. Semacam, lo kalah.

Padahal, ya, the truth is, sex shouldn't be casual.

Ini argumen gue:

Pertama, how come you treat sex as a casual thing when it is LITERALLY the most intimate and private thing that could happen between two human being? Pertama lo harus telanjang. Oke, banyak yang nggak perlu sampai telanjang bulet tapi minimal kalian berdua (bertiga atau berempat atau lebih, jumlah sesuai selera aja) akan melihat alat kelamin masing-masing kan? Telanjang atau menunjukkan alat kelaminnya aja udah nggak bisa diperlakukan secara casual. Terkecuali lo orang dengan gangguan jiwa, lo nggak akan jalan-jalan casual telanjang, kan?  Nggak ada kan orang ke kantor yang telanjang di Casual Friday? Terkecuali lo emang exhibitionist, lo nggak akan nunjukin alat kelamin lo ke orang lain kan secara santai kan?

Kan?

Bahkan Joko Anwar (yang gue anggap tidak mengidap gangguan jiwa atau seorang exhibitionist) kemarin telanjang ke Alfamart pun melakukannya karena nasarnya mau dapet follower. Telanjang itu hal yang sangat intimate dan secretive. Your private part is being called private for that obvious reason. Joko Anwar bisa jadi siap secara mental diliat telanjang sama orang-orang lain tapi bayangin perasaan yang ngeliat dia saat itu. Kayaknya nggak akan ada yang ngeliat dia telanjang masuk Alfamart terus biasa aja gitu. Semuanya pasti kaget, shock, bahkan trauma mungkin. Karena ketelanjangan itu bukan hal yang biasa, bapak-bapak ibu-ibu. Itu sangat intimate. Dan minimal gue sih tau gue nggak mau menjadi intim dengan Joko Anwar.

Pernah nonton Gone Girl? Yang udah nonton pasti tau satu scene yang paling memorable dari film itu. Saat Mbak Amy Dunne, yang memang seorang psikopat, membunuh mas Desi Collings saat mereka melakukan hubungan seksual. Clean slit on the throat. Sangat masuk di akal selama hubungan seksual, manusia itu berada dalam kondisi yang sangat rapuh. You are not in your full consciousness. Butuh kepercayaan besar ke pasangan lo kalau mereka nggak akan berniat jahat ke lo. Mungkin nggak sampe tenggorokan lo digorok tapi niat ngebius lo terus ginjalnya diambil gitu misalnya. Oke itu masih sama horornya tapi intinya, lo harus bener-bener percaya sama pasangan seksual lo.

Kedua, dan ini pengetahuan yang membuat gue yakin para pelaku casual sex itu sebenarnya memaksakan diri mereka. Saat manusia berhubungan seks, manusia mengeluarkan hormon yang sangat kuat, yaitu neurohormones oxytocin atau yang lebih sering disebut sebagai oxytocin. Hormon ini dikenal sebagai hormon bonding yang juga muncul saat seorang ibu baru saja melahirkan. 

Jadi, perasaan sayang yang muncul saat manusia berhubungan seksual ke pasangannya itu SEBESAR perasaan sayang yang muncul saat seorang ibu yang baru aja mengalami kesakitan luar biasa selama sekian jam bertaruh nyawa saat melihat bayinya. Hormon ini sebegitu kuatnya sampai seorang ibu bisa melupakan segala sakit dan penderitaan yang dia alami sebelumnya dan bisa segera sayang sama anaknya ini.

Coba itu diresapi dulu sebentar.

Jadi, secara biologis, yang tepat dan benar adalah lo emang BAPER setelah seks. That's literally chemistry in the body. Bukannya lemah, bukannya menye, bukannya melankolis, it just that our body made that way. Jadi kalau lo merasa yakin banget lo nggak merasakan kesulitan detach dari pasangan seksual lo, sama seperti ibu yang menderita baby blues, something is wrong with your head. Literally, because the hormone is produced in the brain.

Makanya tiap kali tau ada orang yang suka melemparkan ajakan ngewe, gue selalu bertanya-tanya apa dia tahu kalau dia itu antara: 1. Ada yang salah dengan chemistry di badan dia; atau 2. Dia sebegitunya kepengen ngeseks dengan gampang sampai bisa mengacuhkan hormon sekuat itu yang muncul di badannya. Dan dua hal itu sama buruknya bagi kehidupan dia secara garis besar.

Gue nggak pernah melihat seks dari segi moral apalagi agama. To be honest, gue bahkan masih kesulitan memahami kenapa seks sebelum nikah itu dimasukin dosa. Gue nggak ngeliat orang (perempuan khususnya) yang melakukan casual sex sebagai murahan atau nggak 'mencintai dirinya sendiri.' Nggak, sama sekali nggak. It just chemically speaking, sex is not a casual thing.

Ini nggak ada dasar argumennya tapi gue suka kepikiran, kebiasaan memaksakan diri (mengacuhkan kebutuhan untuk bisa menjadi intim dan attach) dalam casual sex ini bisa jadi juga berperan besar dalam proses pengambilan keputusan untuk hal-hal yang bahkan udah nggak berhubungan lagi sama seks. I think since you are so used to ignored that bonding intimate hormone, you would find it hard to feel the real intimacy and attachment with someone. Lagi, bukan cuma soal sekedar romantic relationship, but relationship in general. Teman, keluarga, teman kantor, orang-orang di sekitar, bisa jadi lo akan menemukan kesulitan untuk bisa connect deeper with them more than just in superficial term. 

More over, and probably the worst part, you also detach from your self. Your ability to self love probably decreased since you are so foreign with the concept of being intimate, even with yourself. 

Jadi, sebenarnya orang-orang yang suka dicemooh karena baper itu adalah orang-orang yang tubuhnya bekerja dengan baik. Memang sudah seharusnya mereka merasa attached ke orang yang baru saja melihatnya telanjang dan berbagi cairan tubuh.

Memang sudah seharusnya sepertiti itu.

Mengutip bit-nya siapa gitu gue lupa yang ngomongin things you can do but shouldn't:
It just like getting a blowjob from your sister. It still feels good, but you shouldn't actually. It will mess up your head.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Rencana Tuhan

Melihat Mantan Dengan Perempuan Lain

Mengubah Hidup