Dear Ex - Sebuah Refleksi
Hari ini nonton film Taiwan di Netflix, judulnya Dear Ex. Gue udah masukin film ini ke must watch sejak lihat trailernya di Youtube dan baca puja puji buat filmnya. Plot ceritanya juga menarik dan personally it hit close to me for the mother-son relationship part. Seperti yang pernah gue share, gue sadar mama gue dengan segala kekurangannya sudah berusaha sebaiknya untuk menjadi mama buat gue dan hal itu juga bisa gue lihat di tokoh mama di film ini.
Satu-satunya hal yang bikin film ini kurang nyaman ditonton cuma karena faktor gue yang lemah mengingat nama dengan tiga suku kata khas nama Cina. Apalagi nama Cina Taiwan itu lebih rumit lagi daripada nama Cina Tiongkok. Gue sering nggak ngeh nama ini itu siapa siapanya. Tapi itu minor banget sih dan nggak jadi bikin gue nggak ngerti ceritanya.
Postingan ini bukan review soal filmnya (BUT PLEASE WATCH IT GOD IT IS SO GOOD) tapi ada satu adegan yang begitu mengena di gue dan bikin gue kontemplasi sendiri.
Ada adegan si ibu, yang mengetahui mendiang suaminya yang sudah memberikannya anak, ternyata seorang homoseksual, menangis perih sewaktu mempertanyakan 'was it all lies? Was there never really love even just a little?' Dan akting si mbak aktrisnya ya owoh begitu paripurna, terasa merobek hati penonton (minimal hati gue) dengan pertanyaan itu.
Pertanyaan itu juga sempat muncul di gue saat merefleksi hubungan gue yang terakhir. Was it all lies? Was he never really love me?
Gue inget betapa gue merasa sangat demanding dengan pertanyaan itu. Gue perlu dan berhak tahu kalau dia emang selama ini cuma membohongi gue. Kalau memang selama ini dia memang aktor yang luar biasa hebat aja sampai bisa bikin gue percaya kalau he also thinks what he had back then is important. Gue terus menerus memutar adegan per adegan, mencari tanda bahwa itu semua cuma bohong, berusaha meyakinkan diri gue bahwa jawabannya adalah 'iya, lo dibohongin aja selama ini wkwkwk', dan tiap kali ada suara dalam hati gue yang takut-takut dan lirih ngomong '...tapi kayaknya dia emang beneran sayang sih....', langsung gue bentak 'BACOT DIEM AJA LU BEGO DASAR'
I don't know how to explain it, but somehow it feels good to think badly and being negative. Like it feels so nice to put yourself down.
Satu hari, gue kembali ngebaca jurnal gue saat gue masih sama dia. Ngebaca semua yang gue rasain tiap kali habis ketemu atau main sama dia. Ngeliat lagi memento ini-itu dari date kita. Anehnya, bukannya ngerasa sedih atau galau atau marah, gue bisa ngerasain dari tulisan gue itu bahwa I was happy. I was really happy back then with him.
Dan gue tiba-tiba ngerasain this senses of contentment and relax in my heart.
I was happy back then and it won't change even if he he was lying to me all those times. It's not about him, it's about me. And I'm not ashamed anymore to say I did feel happy with him and I still cherished it until now.
Gue sadar, konsep waktu kita di dunia ini kan linear. Karena kita belum bisa travel in time, sekalinya masa itu udah lewat ya udah selesai. Apapun yang kita ketahui sekarang atau kita perbuat sekarang nggak akan mengubah apapun di masa lalu itu. Untuk masa depan yang masih terus berprogess gue masih punya kuasa mengubahnya tapi untuk masa lalu sudah selesai. Jadi mau sekarang ini gue putus dan misalkan langit terbuka malaikat turun dan ngasih tau dia selama sama gue sebenernya punya sekian cewek lain pun nggak akan mengubah FAKTA di masa lalu itu, sekian bulan yang lalu itu, I was happy and that's all I need to know.
Dan gue nggak ngerasa malu lagi mengakui I do feel loved back then by him. That's really how I felt and doesn't matter what happened NOW, it won't change that fact.
Kembali ke filmnya, ada adegan di masa lalu si ibu saat si ibu dan suaminya pulang naik taksi dengan anak mereka yang masih bayi. Logika gue, itu adalah momen saat si ibu baru melahirkan anaknya. Dan sebagai penonton pun lo bisa lihat bahwa momen itu, di momen itu, si ibu merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Meskipun kenyataan di masa sekarang begitu menyakitkan namun tidak mendistorsi kebahagiaan yang dirasakan si ibu saat itu.
Dan gue rasa kesadaran akan hal itu sudah merupakan jawaban terbaik dari pertanyaan 'was it all lies? Was he ever loved me?'
Even if he never really loved you, you were really happy back then and that is enough.
Satu-satunya hal yang bikin film ini kurang nyaman ditonton cuma karena faktor gue yang lemah mengingat nama dengan tiga suku kata khas nama Cina. Apalagi nama Cina Taiwan itu lebih rumit lagi daripada nama Cina Tiongkok. Gue sering nggak ngeh nama ini itu siapa siapanya. Tapi itu minor banget sih dan nggak jadi bikin gue nggak ngerti ceritanya.
Postingan ini bukan review soal filmnya (BUT PLEASE WATCH IT GOD IT IS SO GOOD) tapi ada satu adegan yang begitu mengena di gue dan bikin gue kontemplasi sendiri.
Ada adegan si ibu, yang mengetahui mendiang suaminya yang sudah memberikannya anak, ternyata seorang homoseksual, menangis perih sewaktu mempertanyakan 'was it all lies? Was there never really love even just a little?' Dan akting si mbak aktrisnya ya owoh begitu paripurna, terasa merobek hati penonton (minimal hati gue) dengan pertanyaan itu.
Pertanyaan itu juga sempat muncul di gue saat merefleksi hubungan gue yang terakhir. Was it all lies? Was he never really love me?
Gue inget betapa gue merasa sangat demanding dengan pertanyaan itu. Gue perlu dan berhak tahu kalau dia emang selama ini cuma membohongi gue. Kalau memang selama ini dia memang aktor yang luar biasa hebat aja sampai bisa bikin gue percaya kalau he also thinks what he had back then is important. Gue terus menerus memutar adegan per adegan, mencari tanda bahwa itu semua cuma bohong, berusaha meyakinkan diri gue bahwa jawabannya adalah 'iya, lo dibohongin aja selama ini wkwkwk', dan tiap kali ada suara dalam hati gue yang takut-takut dan lirih ngomong '...tapi kayaknya dia emang beneran sayang sih....', langsung gue bentak 'BACOT DIEM AJA LU BEGO DASAR'
I don't know how to explain it, but somehow it feels good to think badly and being negative. Like it feels so nice to put yourself down.
Satu hari, gue kembali ngebaca jurnal gue saat gue masih sama dia. Ngebaca semua yang gue rasain tiap kali habis ketemu atau main sama dia. Ngeliat lagi memento ini-itu dari date kita. Anehnya, bukannya ngerasa sedih atau galau atau marah, gue bisa ngerasain dari tulisan gue itu bahwa I was happy. I was really happy back then with him.
Dan gue tiba-tiba ngerasain this senses of contentment and relax in my heart.
I was happy back then and it won't change even if he he was lying to me all those times. It's not about him, it's about me. And I'm not ashamed anymore to say I did feel happy with him and I still cherished it until now.
Gue sadar, konsep waktu kita di dunia ini kan linear. Karena kita belum bisa travel in time, sekalinya masa itu udah lewat ya udah selesai. Apapun yang kita ketahui sekarang atau kita perbuat sekarang nggak akan mengubah apapun di masa lalu itu. Untuk masa depan yang masih terus berprogess gue masih punya kuasa mengubahnya tapi untuk masa lalu sudah selesai. Jadi mau sekarang ini gue putus dan misalkan langit terbuka malaikat turun dan ngasih tau dia selama sama gue sebenernya punya sekian cewek lain pun nggak akan mengubah FAKTA di masa lalu itu, sekian bulan yang lalu itu, I was happy and that's all I need to know.
Dan gue nggak ngerasa malu lagi mengakui I do feel loved back then by him. That's really how I felt and doesn't matter what happened NOW, it won't change that fact.
Kembali ke filmnya, ada adegan di masa lalu si ibu saat si ibu dan suaminya pulang naik taksi dengan anak mereka yang masih bayi. Logika gue, itu adalah momen saat si ibu baru melahirkan anaknya. Dan sebagai penonton pun lo bisa lihat bahwa momen itu, di momen itu, si ibu merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Meskipun kenyataan di masa sekarang begitu menyakitkan namun tidak mendistorsi kebahagiaan yang dirasakan si ibu saat itu.
Dan gue rasa kesadaran akan hal itu sudah merupakan jawaban terbaik dari pertanyaan 'was it all lies? Was he ever loved me?'
Even if he never really loved you, you were really happy back then and that is enough.
Komentar
Posting Komentar