Keluarga Sariwangi
Kemarin gue sama mama dan papa gue jalan bertiga ke Alfamart.
Iya.
Kita sekeluarga ke Alfamart semacam masih di tahun 1990-an saat ke Indomaret dianggap sebagai jalan-jalan (dulu pas SD, tiap kali mau ke Indomaret gue pasti ganti baju dulu pake baju rapih. Saat itu, kalau mau ke tempat yang ada AC-nya udah masuk jalan-jalan buat gue).
Saat gue jalan di belakang mama papa gue yang lagi asik ngomongin harga rumah di komplek yang baru dijual, gue tiba-tiba ngeh "Siapa lagi yang di umur ke-30 masih bisa jalan-jalan ke Alfamart sama mama papanya kayak begini?"
Warning: Postingan ini akan banyak mengandung unsur too much information.
Gue selalu ngerasa berasal dari keluarga yang nggak normal. Maksudnya, keluarga normal itu komposisinya adalah ayah, ibu, dan mungkin adik atau kakak. Hubungan diantara subyek-subyek itu positif, saling mendukung, unconditional gentle love, yah pokoknya semua inti dari sebuah keluarga lah. Blood is thicker than water, family first, a home to come home, etc etc.
Sementara keluarga gue terdiri dari ayah, ibu, kakak perempuan tiri (yang kemudian akan gue sebut sebagai cici) dua orang, kakak laki-laki tiri (yang kemudian akan gue sebut sebagai koko) satu orang, dan kemungkinan besar gue udah punya keponakan dari cici tiri gue. Dari tiga saudara tiri gue itu, gue nggak punya komunikasi atau hubungan apapun dengan dua diantaranya selain gue tahu nama mereka. Terakhir kali gue ketemu sama koko tiri gue itu waktu gue masih kelas 4 SD, mungkin. I don't remember his face anymore which quite heart breaking karena gue selalu kepengen punya koko (kebanyakan baca komik Jepang).
Ketidak normalan ini gue ketahui saat gue masih SD dan bukan melalui pembicaraan dari hati ke hati antara orang tua dengan anaknya tapi gue tau aja sendiri gitu. Gue juga udah nggak inget gimana persisnya gue tahu atau mulai kapan gue tahu, I just knew it already. Akhirnya gue tahu kenapa rentang umur gue dan cici (tiri) gue itu sangatlah jauh, nggak kayak temen-temen gue lainnya yang perbedaan umurnya paling 1-5 tahun (satu cici tiri gue yang paling tua, tinggal sama keluarga gue). Akhirnya terasa masuk akal di gue kenapa selama ini cici yang serumah sama gue itu manggil papa gue 'om.'
Gue pernah nanyain hal ini ke mama gue dan cuma dijawab: ya emangnya nggak boleh manggil om? Dan gue nggak berani nanya lebih lagi karena mama gue di tahun-tahun itu sangat violent cara mengasuh anaknya.
Saat gue tahu soal ketirian (?) cici gue itu, gue mulai ngerasa ada yang berubah dari cara gue melihat keluarga gue. Entah darimana sumbernya (TV?) tapi gue merasa punya saudara tiri itu hal yang sangat tabu dan... salah. Kayak, lo nggak sempurna?
Dan perasaan ini semakin menguat saat sekali waktu pas gue masih SD, gue nyebut soal cici gue yang adalah cici tiri ke temen gue. Gue inget waktu itu, gue cuma mau tau apa hal ini memang sesalah seperti yang gue pikirkan atau ini sebenarnya hal yang nggak sebegitu masalahnya. I kinda wish for the second reaction.
Reaksi temen gue saat itu yang... apa ya, nggak yang blatantly merendahkan sih, tapi gue bisa ngerasain mendadak energi di sekitar kita berubah menjadi lebih... cautious? Kayak, dia belagak nggak denger gue barusan ngomong apa. Reaksi dia itu bikin gue yakin untuk nggak lagi nyebut-nyebut hal ini ke siapapun. Gue lebih milih bilang "Iya, gue semacam kecelakaan hahahaha" kalo ada yang mempertanyakan kenapa umur gue sama cici gue jauh banget. I find it easier to deal that way.
Yes, I know, it's not fair to put such a weight of understanding and consolidation to an elementary kid like that friend of mine. Gue cuma, apa ya. Merasa ini keanehan yang nggak perlu diceritain aja sejak kejadian itu. Nggak perlu membuat orang lain merasa nggak nyaman lagi dengan cerita macam itu. Mungkin ada rasa khawatir orang akan kasihan juga sama gue.
Sekarang gue tahu masyarakat sudah mulai berubah cara pikirnya tentang keluarga tiri, bahwa hal itu semakin umum dan banyak penggambaran tentang saudara tiri yang jauh lebih baik daripada sosok saudara tirinya Cinderella. Tapi gue masih aja merasa tidak nyaman kalau harus menyebutkan hal ini di pembicaraan langsung. It takes a certain amount of trust first for me to tell it in a direct or one on one conversation with someone.
Keanehan keluarga gue yang lain adalah rumah tangga orang tua gue yang berkebalikan dari mayoritas rumah tangga pada umumnya. Mama gue yang menjadi pencari nafkah dan papa gue yang bener-bener menjadi ayah rumah tangga. Gue selalu mendapat reaksi 'oh bokap lo yang masakin nasi goreng buat bekal ini?' Reaksi itu biasanya segera gue tanggapi dengan merefleksikan rasa bangga kalau papa gue is such a great cook, unlike others (or at least their) father. Berharap reaksi gue itu bisa menutupi insecurity gue tentang kondisi keluarga gue yang aneh.
Just to be clear, I have no shame about my father being unemployed. I feel loved the most by him. Justru gue takut yang komentar itu yang akan memandang rendah papa gue karena di umur segitu (SMP-SMA), kebutuhan gue untuk memiliki teman lagi besar-besarnya. Keinginan untuk diterima dan dianggap normal sangat besar.
Tapi dibesarkan di rumah tangga dengan model seperti ini justru membawa efek di perspektif gue yang sangat gue syukuri: I'm so not a misogynist. Gue nggak percaya gender itu menentukan apa yang bisa atau nggak bisa dilakukan seseorang. Dan ini nggak mentok di skala kebebasan perempuan aja tapi juga di laki-laki. I know that we could do many wonderful things when we stop classifying acts by gender. Kalo papa gue nggak pernah jadi bapak rumah tangga, nasi goreng papa Inge yang legendaris nggak akan pernah ada. What a great lost for the civilization! (serius, nasi goreng papa gue enak banget, tanya aja sama mayoritas anak Bahasa Santa Ursula BSD angkatan 2004).
Keanehan lainnya lagi adalah, seperti yang tadi sempet gue sebut diatas, my mom's way of parenting is really violent. Ya nggak sampe masuk abusive sih (mungkin sedikit lagi) atau yang sampe membahayakan nyawa gue but oh boy was it an experience. Segala jenis objek udah gue rasain lah sebagai medium pemukulan ke badan. Dari sapu lidi (ini paling nyeremin menurut gue, mungkin karena suaranya tiap diayun sebelum ketemu badan gue *merinding*), sapu ijuk, penggebuk kasur, meteran, centong nasi, spatula, sepatu, sendal jepit, dan masih banyak barang lainnya tergantung kreativitas si mama dalam memaksimalkan efek penganiayaannya. Belum lagi untuk kelas tangan kosongnya, beuh. Gue sampe heran sendiri kenapa bisa daging gue gak copot pas dicubit dengan pelintiran 360 derajat macem itu.
Mungkin kalau violent-nya 'cuma' di fisik gue bisa shrug it off dan bisa jadi inspirasi bikin meme-meme lucu soal Asian parents yang banyak gue lihat di internet. The hardest part is the vicious words she used to say when she was angry. Bahkan kadang-kadang di situasi yang dia nggak perlu ngomong jahat ke gue (atau ke papa) pun dia nemu aja gitu yang bisa dimuncratin omongan nggak enaknya.
Yang paling susah sembuh dan akhirnya mengendap jadi karakter gue sampai sekarang adalah gue nggak pernah menjadi cukup baik buat seseorang. Selalu ada salahnya, selalu ada kurangnya. I'm trying hard to reduce this mindset now but I know it is not an easy thing to do. I'm still working on it.
Kalau suka lihat mama temen gue waktu itu, atau lihat representasi sosok ibu di film atau buku cerita, kok kayaknya beda amat gitu. Sekali waktu pas SMP, gue keceplosan cerita ke temen gue soal apa yang diucapkan mama gue ke gue pas marah (konteksnya bercanda-canda aja sebenernya) dan temen gue kaget. "Nyokap lo ngomong begitu?" dan gue sekelebatan di kepala yang 'Oh shit, ini nggak normal juga ternyata' dan sok-sok asik aja jawab iya bener like it's not a big deal.
Padahal yang gue ceritain ke dia itu BENER-BENER yang gue anggap nggak sebegitu harmful-nya. Gue udah milihin yang gue kira dah paling normal.
Ada masa gue benci banget sama mama gue. B E N C I banget sampai titik gue ngerasa gue nggak akan nangis kalau dia meninggal nanti. Masa-masa ini tentu saja di umur-umur darah muda dan hormon bergejolak yaitu di SMP-SMA. Gue jadi males banget pulang dan lebih milih main-main sama temen gue.
Tapi jangan bayangin main-mainnya gue ini macem Laudya Cintya Bella di film Virgin atau Andrew di film The Breakfast Club. Bandelnya gue mah nggak pulang juga mainnya di... sekolah (krik). Seringnya sambil ngerjain PR di hall sekolah sambil minum bubble tea yang lagi ngetrend banget waktu itu. Ya gitu. Itu ter-rebellious-nya gue selama gue hidup. Makanya kalo sekarang gue suka liat lagi jaman-jaman itu, gue rasa saat itu gue bisa sampe sebenci itu ke mama gue karena gue nggak nemu alasan kenapa dia harus sebegitu kejinya dalam mendidik gue. Gue by nature udah sangat penurut dan jauh dari masalah. Sekolah gue nggak pinter-pinter amat sih (tapi lumayan pas masuk kelas Bahasa gue bisa masuk 10 besar) tapi ya nggak sampe bikin mama gue itu kudu nyembah dewa langit biar anaknya naik kelas.
Rasa benci gue ke mama gue perlahan-lahan menghilang seiring bertambahnya umur. Gue di satu titik sadar bahwa keluarga itu takdir yang dikasih sama Tuhan ke manusia. They are literally my destiny. Dan gue pasti bisa menjadikan itu yang baik. Gue makin bisa mengerti dan menerima cara mengasuh mama gue itu bukan karena dia menikmati menyiksa anaknya sendiri secara verbal dan non verbal tapi karena that's the only way she knows how to do it. Dia nggak sekolah tinggi (yang gue tahu sangat mematahkan hatinya. Gue tahu dia sangat pintar dan suka belajar sebenarnya. Hobi gue suka baca itu dari dia), dia juga diasuh kayak gitu sama mamanya, dia nggak punya banyak waktu buat menikmati hidupnya atau belajar apa itu menjadi orang tua (dia menikah pertama kali di umur 17 tahun). Gue kadang suka ngerasa bisa jadi mama ngerasa terjebak dengan kehidupannya sendiri dan meluapkannya ke anak-anaknya (dia equally abusive ke semua anaknya cuma pas jaman punya gue lagi prime time-nya kayaknya, lagi kuat-kuatnya, ditambah merasa makin dominan karena dia the breadwinner, jadi porsi ke gue lebih gede T__T)
I do feel loved by her, I know the sacrifices she made for our family to have food and shelter. Dia nekad masukin gue ke sekolah swasta Katholik mahal dengan resiko dia harus kerja lebih keras lagi buat bisa bayar uang sekolah gue biar gue bisa dapet pendidikan yang bagus.
I love my mom but I don't want to be like her.
Terakhir kali gue ribut gede sama mama gue itu kira-kira setahun yang lalu, setelah tahunan nggak pernah ada konflik apa-apa lagi diantara kita. Nahan nangis di kantor karena putus itu masih nggak ada apa-apanya dibandingin nahan nangis di kantor karena berantem sama orang tua. Tapi ada yang berbeda hari itu. Mama gue wasap gue, minta maaf.
Waw. Mukjizat emang nyata.
Dan sejak saat itu kami pun hidup berbahagia selamanya.
Nggak dong.
Konflik masih ada dan bisa jadi banyak tapi gue rasa karena cara pikir gue yang udah berubah dan bisa jadi cara pikir mama gue juga udah berubah, kita nggak pernah lagi sampai di skala konflik yang berkepanjangan. I think once you can see that silver line of understanding the reason why, you can always love someone doesn't matter how bad the situation is. You just accept it is not the ideal one for you. Again, I love my mom but I would never say she is the best mother. She is not and that is fine for me.
Jadi pas kemarin gue bisa liat mama papa gue jalan berdua menuju Alfamart, gue sadar bahwa yang namanya bahagia bukanlah suatu kontinuitas dalam hidup tapi suatu momen, rentang waktu. Gue untuk sepersekian detik bisa merasa keluarga yang gue punya ini sudah normal, bahkan bahagia. Di titik itu, untuk sepersekian detik, gue bisa ngerasa kayak keluarga-keluarga yang suka digambarkan di iklan Sariwangi, harmonis dan bahagia.
Iya.
Kita sekeluarga ke Alfamart semacam masih di tahun 1990-an saat ke Indomaret dianggap sebagai jalan-jalan (dulu pas SD, tiap kali mau ke Indomaret gue pasti ganti baju dulu pake baju rapih. Saat itu, kalau mau ke tempat yang ada AC-nya udah masuk jalan-jalan buat gue).
Saat gue jalan di belakang mama papa gue yang lagi asik ngomongin harga rumah di komplek yang baru dijual, gue tiba-tiba ngeh "Siapa lagi yang di umur ke-30 masih bisa jalan-jalan ke Alfamart sama mama papanya kayak begini?"
Warning: Postingan ini akan banyak mengandung unsur too much information.
Gue selalu ngerasa berasal dari keluarga yang nggak normal. Maksudnya, keluarga normal itu komposisinya adalah ayah, ibu, dan mungkin adik atau kakak. Hubungan diantara subyek-subyek itu positif, saling mendukung, unconditional gentle love, yah pokoknya semua inti dari sebuah keluarga lah. Blood is thicker than water, family first, a home to come home, etc etc.
Sementara keluarga gue terdiri dari ayah, ibu, kakak perempuan tiri (yang kemudian akan gue sebut sebagai cici) dua orang, kakak laki-laki tiri (yang kemudian akan gue sebut sebagai koko) satu orang, dan kemungkinan besar gue udah punya keponakan dari cici tiri gue. Dari tiga saudara tiri gue itu, gue nggak punya komunikasi atau hubungan apapun dengan dua diantaranya selain gue tahu nama mereka. Terakhir kali gue ketemu sama koko tiri gue itu waktu gue masih kelas 4 SD, mungkin. I don't remember his face anymore which quite heart breaking karena gue selalu kepengen punya koko (kebanyakan baca komik Jepang).
Ketidak normalan ini gue ketahui saat gue masih SD dan bukan melalui pembicaraan dari hati ke hati antara orang tua dengan anaknya tapi gue tau aja sendiri gitu. Gue juga udah nggak inget gimana persisnya gue tahu atau mulai kapan gue tahu, I just knew it already. Akhirnya gue tahu kenapa rentang umur gue dan cici (tiri) gue itu sangatlah jauh, nggak kayak temen-temen gue lainnya yang perbedaan umurnya paling 1-5 tahun (satu cici tiri gue yang paling tua, tinggal sama keluarga gue). Akhirnya terasa masuk akal di gue kenapa selama ini cici yang serumah sama gue itu manggil papa gue 'om.'
Gue pernah nanyain hal ini ke mama gue dan cuma dijawab: ya emangnya nggak boleh manggil om? Dan gue nggak berani nanya lebih lagi karena mama gue di tahun-tahun itu sangat violent cara mengasuh anaknya.
Saat gue tahu soal ketirian (?) cici gue itu, gue mulai ngerasa ada yang berubah dari cara gue melihat keluarga gue. Entah darimana sumbernya (TV?) tapi gue merasa punya saudara tiri itu hal yang sangat tabu dan... salah. Kayak, lo nggak sempurna?
Dan perasaan ini semakin menguat saat sekali waktu pas gue masih SD, gue nyebut soal cici gue yang adalah cici tiri ke temen gue. Gue inget waktu itu, gue cuma mau tau apa hal ini memang sesalah seperti yang gue pikirkan atau ini sebenarnya hal yang nggak sebegitu masalahnya. I kinda wish for the second reaction.
Reaksi temen gue saat itu yang... apa ya, nggak yang blatantly merendahkan sih, tapi gue bisa ngerasain mendadak energi di sekitar kita berubah menjadi lebih... cautious? Kayak, dia belagak nggak denger gue barusan ngomong apa. Reaksi dia itu bikin gue yakin untuk nggak lagi nyebut-nyebut hal ini ke siapapun. Gue lebih milih bilang "Iya, gue semacam kecelakaan hahahaha" kalo ada yang mempertanyakan kenapa umur gue sama cici gue jauh banget. I find it easier to deal that way.
Yes, I know, it's not fair to put such a weight of understanding and consolidation to an elementary kid like that friend of mine. Gue cuma, apa ya. Merasa ini keanehan yang nggak perlu diceritain aja sejak kejadian itu. Nggak perlu membuat orang lain merasa nggak nyaman lagi dengan cerita macam itu. Mungkin ada rasa khawatir orang akan kasihan juga sama gue.
Sekarang gue tahu masyarakat sudah mulai berubah cara pikirnya tentang keluarga tiri, bahwa hal itu semakin umum dan banyak penggambaran tentang saudara tiri yang jauh lebih baik daripada sosok saudara tirinya Cinderella. Tapi gue masih aja merasa tidak nyaman kalau harus menyebutkan hal ini di pembicaraan langsung. It takes a certain amount of trust first for me to tell it in a direct or one on one conversation with someone.
Keanehan keluarga gue yang lain adalah rumah tangga orang tua gue yang berkebalikan dari mayoritas rumah tangga pada umumnya. Mama gue yang menjadi pencari nafkah dan papa gue yang bener-bener menjadi ayah rumah tangga. Gue selalu mendapat reaksi 'oh bokap lo yang masakin nasi goreng buat bekal ini?' Reaksi itu biasanya segera gue tanggapi dengan merefleksikan rasa bangga kalau papa gue is such a great cook, unlike others (or at least their) father. Berharap reaksi gue itu bisa menutupi insecurity gue tentang kondisi keluarga gue yang aneh.
Just to be clear, I have no shame about my father being unemployed. I feel loved the most by him. Justru gue takut yang komentar itu yang akan memandang rendah papa gue karena di umur segitu (SMP-SMA), kebutuhan gue untuk memiliki teman lagi besar-besarnya. Keinginan untuk diterima dan dianggap normal sangat besar.
Tapi dibesarkan di rumah tangga dengan model seperti ini justru membawa efek di perspektif gue yang sangat gue syukuri: I'm so not a misogynist. Gue nggak percaya gender itu menentukan apa yang bisa atau nggak bisa dilakukan seseorang. Dan ini nggak mentok di skala kebebasan perempuan aja tapi juga di laki-laki. I know that we could do many wonderful things when we stop classifying acts by gender. Kalo papa gue nggak pernah jadi bapak rumah tangga, nasi goreng papa Inge yang legendaris nggak akan pernah ada. What a great lost for the civilization! (serius, nasi goreng papa gue enak banget, tanya aja sama mayoritas anak Bahasa Santa Ursula BSD angkatan 2004).
Keanehan lainnya lagi adalah, seperti yang tadi sempet gue sebut diatas, my mom's way of parenting is really violent. Ya nggak sampe masuk abusive sih (mungkin sedikit lagi) atau yang sampe membahayakan nyawa gue but oh boy was it an experience. Segala jenis objek udah gue rasain lah sebagai medium pemukulan ke badan. Dari sapu lidi (ini paling nyeremin menurut gue, mungkin karena suaranya tiap diayun sebelum ketemu badan gue *merinding*), sapu ijuk, penggebuk kasur, meteran, centong nasi, spatula, sepatu, sendal jepit, dan masih banyak barang lainnya tergantung kreativitas si mama dalam memaksimalkan efek penganiayaannya. Belum lagi untuk kelas tangan kosongnya, beuh. Gue sampe heran sendiri kenapa bisa daging gue gak copot pas dicubit dengan pelintiran 360 derajat macem itu.
Mungkin kalau violent-nya 'cuma' di fisik gue bisa shrug it off dan bisa jadi inspirasi bikin meme-meme lucu soal Asian parents yang banyak gue lihat di internet. The hardest part is the vicious words she used to say when she was angry. Bahkan kadang-kadang di situasi yang dia nggak perlu ngomong jahat ke gue (atau ke papa) pun dia nemu aja gitu yang bisa dimuncratin omongan nggak enaknya.
Yang paling susah sembuh dan akhirnya mengendap jadi karakter gue sampai sekarang adalah gue nggak pernah menjadi cukup baik buat seseorang. Selalu ada salahnya, selalu ada kurangnya. I'm trying hard to reduce this mindset now but I know it is not an easy thing to do. I'm still working on it.
Kalau suka lihat mama temen gue waktu itu, atau lihat representasi sosok ibu di film atau buku cerita, kok kayaknya beda amat gitu. Sekali waktu pas SMP, gue keceplosan cerita ke temen gue soal apa yang diucapkan mama gue ke gue pas marah (konteksnya bercanda-canda aja sebenernya) dan temen gue kaget. "Nyokap lo ngomong begitu?" dan gue sekelebatan di kepala yang 'Oh shit, ini nggak normal juga ternyata' dan sok-sok asik aja jawab iya bener like it's not a big deal.
Padahal yang gue ceritain ke dia itu BENER-BENER yang gue anggap nggak sebegitu harmful-nya. Gue udah milihin yang gue kira dah paling normal.
Ada masa gue benci banget sama mama gue. B E N C I banget sampai titik gue ngerasa gue nggak akan nangis kalau dia meninggal nanti. Masa-masa ini tentu saja di umur-umur darah muda dan hormon bergejolak yaitu di SMP-SMA. Gue jadi males banget pulang dan lebih milih main-main sama temen gue.
Tapi jangan bayangin main-mainnya gue ini macem Laudya Cintya Bella di film Virgin atau Andrew di film The Breakfast Club. Bandelnya gue mah nggak pulang juga mainnya di... sekolah (krik). Seringnya sambil ngerjain PR di hall sekolah sambil minum bubble tea yang lagi ngetrend banget waktu itu. Ya gitu. Itu ter-rebellious-nya gue selama gue hidup. Makanya kalo sekarang gue suka liat lagi jaman-jaman itu, gue rasa saat itu gue bisa sampe sebenci itu ke mama gue karena gue nggak nemu alasan kenapa dia harus sebegitu kejinya dalam mendidik gue. Gue by nature udah sangat penurut dan jauh dari masalah. Sekolah gue nggak pinter-pinter amat sih (tapi lumayan pas masuk kelas Bahasa gue bisa masuk 10 besar) tapi ya nggak sampe bikin mama gue itu kudu nyembah dewa langit biar anaknya naik kelas.
Rasa benci gue ke mama gue perlahan-lahan menghilang seiring bertambahnya umur. Gue di satu titik sadar bahwa keluarga itu takdir yang dikasih sama Tuhan ke manusia. They are literally my destiny. Dan gue pasti bisa menjadikan itu yang baik. Gue makin bisa mengerti dan menerima cara mengasuh mama gue itu bukan karena dia menikmati menyiksa anaknya sendiri secara verbal dan non verbal tapi karena that's the only way she knows how to do it. Dia nggak sekolah tinggi (yang gue tahu sangat mematahkan hatinya. Gue tahu dia sangat pintar dan suka belajar sebenarnya. Hobi gue suka baca itu dari dia), dia juga diasuh kayak gitu sama mamanya, dia nggak punya banyak waktu buat menikmati hidupnya atau belajar apa itu menjadi orang tua (dia menikah pertama kali di umur 17 tahun). Gue kadang suka ngerasa bisa jadi mama ngerasa terjebak dengan kehidupannya sendiri dan meluapkannya ke anak-anaknya (dia equally abusive ke semua anaknya cuma pas jaman punya gue lagi prime time-nya kayaknya, lagi kuat-kuatnya, ditambah merasa makin dominan karena dia the breadwinner, jadi porsi ke gue lebih gede T__T)
I do feel loved by her, I know the sacrifices she made for our family to have food and shelter. Dia nekad masukin gue ke sekolah swasta Katholik mahal dengan resiko dia harus kerja lebih keras lagi buat bisa bayar uang sekolah gue biar gue bisa dapet pendidikan yang bagus.
I love my mom but I don't want to be like her.
Terakhir kali gue ribut gede sama mama gue itu kira-kira setahun yang lalu, setelah tahunan nggak pernah ada konflik apa-apa lagi diantara kita. Nahan nangis di kantor karena putus itu masih nggak ada apa-apanya dibandingin nahan nangis di kantor karena berantem sama orang tua. Tapi ada yang berbeda hari itu. Mama gue wasap gue, minta maaf.
Waw. Mukjizat emang nyata.
Dan sejak saat itu kami pun hidup berbahagia selamanya.
Nggak dong.
Konflik masih ada dan bisa jadi banyak tapi gue rasa karena cara pikir gue yang udah berubah dan bisa jadi cara pikir mama gue juga udah berubah, kita nggak pernah lagi sampai di skala konflik yang berkepanjangan. I think once you can see that silver line of understanding the reason why, you can always love someone doesn't matter how bad the situation is. You just accept it is not the ideal one for you. Again, I love my mom but I would never say she is the best mother. She is not and that is fine for me.
Jadi pas kemarin gue bisa liat mama papa gue jalan berdua menuju Alfamart, gue sadar bahwa yang namanya bahagia bukanlah suatu kontinuitas dalam hidup tapi suatu momen, rentang waktu. Gue untuk sepersekian detik bisa merasa keluarga yang gue punya ini sudah normal, bahkan bahagia. Di titik itu, untuk sepersekian detik, gue bisa ngerasa kayak keluarga-keluarga yang suka digambarkan di iklan Sariwangi, harmonis dan bahagia.
Komentar
Posting Komentar