Menikah Dengan Siapa
"Tapi lo mau nikah kan,
Nge?"
Pertanyaan itu diajukan dengan nada yang mengingatkan saya akan seorang ibu yang sedang membujuk anaknya untuk makan obat. Perpaduan antara persuasif dan sedikit cemas. Dan jawaban saya untuk pertanyaan ini selalu sama sejak dari setahunan yang lalu: Sama siapa?
Sebelum ini, di masa-masa muda
saya (halah), pertanyaan itu akan dengan sigap dan lantang saya jawab: ya mau
laaahhh. Semacam berharap semakin mantab (pakai b) dan yakin jawaban saya, akan
semakin dekat saya dengan pernikahan itu. Beberapa tahun yang lalu, saya juga
merasakan kecemasan tentang pernikahan tiap umur saya semakin menjauhi angka
25. Mungkin di umur 27-28 adalah masa-masa terburuk saya. Teman-teman saya
sudah banyak yang menikah dan bahkan sudah ada juga yang menuju pernikahan
kedua. Coba bayangin. Saya sekali saja belum, teman saya sudah menuju yang
kedua kalinya menikah. Benar-benar serakah.
Akan tetapi, sejak beberapa
waktu yang lalu, saya banyak melakukan kontemplasi akan banyak hal di hidup
saya. Salah satu efek terbaik dari bertambah umur dan mengalami existential
crisis, menurut saya adalah membuat seseorang bisa lebih paham tentang diri
mereka sendiri. Semakin saya belajar melihat sesuatu hal lebih daripada yang
ada di permukaan, semakin banyak pola pikir saya yang berubah, salah satunya
tentang pernikahan.
Kembali ke masa sekarang,
jawaban 'Sama siapa?' saya ini akan menerima reaksi yang 100% sama dari semua
lawan bicara saya: ya sama pacar lo nanti. Dan saya akan kembali menjawab
dengan: Ya siapa pacar gue? Dan percakapan bolak-balik ini bisa terjadi selama
semenit ke depan dan lawan bicara saya akan menyerah dan mengambil kesimpulan
si Inge mau jadi perawan tua kayaknya.
Tua sih pasti tapi perawannya
sih bel[hilang sinyal]
Akan tetapi jawaban saya itu
bukannya sengaja mau mengajak kelahi atau sok keren. Saya sungguh-sungguh
menjawabnya. Menikah dengan siapa? Maksudnya, pernikahan itu bukan suatu
aktivitas yang bisa dilakukan sendirian, kan? Saya belum sampai level beberapa
orang di luar sana yang bisa menikahi menara Eiffel atau boneka anime atau
pohon. Saya masih di spektrum butuh manusia lain untuk bisa menikah dan jika
manusianya saja hilalnya belum nampak, bagaimana mungkin saya bisa menginginkan
sebuah pernikahan?
Opini pribadi saya akan
pernikahan, banyak orang (perempuan, secara mayoritas) yang melihat pernikahan
itu hanya sebagai sebuah aktivitas yang ingin dilakukan. Semacam keinginan
pergi ke Jepang saat musim semi karena melihat banyak foto orang-orang yang
sudah ke sana dan yang waahh pengen juga bagus-bagus fotonya, pengen foto-foto
juga disana. Atau analogi dari sisi lain seperti keinginan pergi ke Singapura
karena nampaknya hampir semua orang yang dikenal pasti sudah pernah ke
Singapura. Pasti melancong ke Singapura adalah sebuah kenormalan bagi
orang-orang kelas menengah di Indonesia dan saya pun harus menjadi bagian dari
kenormalan itu. Mungkin energi di reaksi 'oh lo belum nikah?' itu kurang lebih
sama dengan reaksi 'oh lo belum pernah ke Singapur?'
Andaikan menikah itu sama saja
seperti traveling dan mewujudkannya hanya sekedar memesan tiket pesawat dan
booking hotel.
Rasanya hampir semua pernah
berada di titik itu dalam sekian tahun hidup ini. Ingin menikah karena
representasi tentang menikah itu sendiri yang nampak begitu indah, baik itu
resepsinya ataupun berumah tangga atau berkeluarganya. Beberapa porsi orang-orang
ingin menikah karena itu adalah sebuah kewajaran yang paripurna di masyarakat
kita.
Menikah itu adalah sebuah
konsep serius tentang menjalani hidup yang dilakukan bersama orang lain,
idealnya, sampai maut memisahkan. Begitu banyak orang yang cara berpikirnya itu
melewati bagian 'siapa pasangannya' dan langsung ke pola pikir 'mau
menikahnya'. Sama siapa? Ya nggak tahu. Yang jelas saya mau menikah. Begitu.
Saya bekerja sebagai sekretaris
selama sekian tahun dan sekali waktu saya di-interview HRD perusahaan A. Si ibu
HRD mengatakan sesuatu yang saya ingat sampai sekarang yang membuka pikiran
saya tentang pekerjaan saya. "Sekretaris itu pertanyaannya bukan apa
pekerjaannya tetapi siapa bosnya. Yang akan menjadikan pekerjaan ini baik atau
tidak itu bosnya karena pekerjaannya ya dari kantor ke kantor begitu-begitu aja
sebenarnya." Saya merasa itu sangatlah benar dan tepat.
Dan saya rasa prinsip itu juga
berlaku di pernikahan. Pernikahan itu bukan masalah menikahnya tapi dengan
siapanya. Yang akan membuat pernikahan itu jadi menyenangkan dan bahagia atau
jadi neraka dan menyiksa adalah pasangan macam apa yang kita punya nanti.
Pernikahannya sendiri dimana-mana ya begitu-begitu saja palingan. Seputaran
urusan rumah tangga, anak (jika ada), keluarga, pemasukan, dan seks. Akan
tetapi dengan siapa kita melalui itu semua yang akan menjadikan kita betah atau
tidak di pernikahan itu.
Saya percaya pernikahan adalah
salah satu alternatif favorit yang diberikan ke manusia untuk bisa memiliki
kebahagiaan yang berkelanjutan di dalam hidupnya. A piece of fairy tale in our ordinary life. Dan yang akan
menjadikan pernikahan tersebut benar-benar menjadi fairy tale dan bukan cerita horror adalah dengan mengetahui siapa
yang akan menjadi pasanganmu tersebut.
Jadi, pertanyaan yang
terpenting tentang pernikahan itu memang hanya satu: Dengan siapa?
Komentar
Posting Komentar