Saya Kangen Dia Lagi, Tuhan.
Aku berjalan ke arahnya dengan lesu. Kepalaku sedikit
tertunduk saat aku menghempaskan badanku di sebelahnya sembari menghela napas
berat, meminta perhatiannya yang sebenarnya sudah kudapatkan sejak aku masih
berjalan ke arahnya. Dia menatapku sembari menurunkan buku yang sedang
dibacanya. Aku tidak sempat dan tidak tertarik untuk mengetahui buku apa yang
sedang dia baca. Dia tersenyum lembut melihatku datang dengan emosi yang begitu
berat, seperti yang biasa dia lakukan saat aku sedang merajuk begini.
“Kenapa lagi?” tanyanya kalem padahal dia sudah tahu aku
kenapa.
Aku menendang-nendang gusar tanah di depan sepatuku, tidak
langsung menjawab. Sedikit malu karena lagi-lagi aku datang padanya dengan
cerita yang sama.
“Saya kangen dia lagi, Tuhan.” Jawabku akhirnya.
Dia kembali tersenyum, kali ini badannya sedikit di arahkan
kepadaku sebagai tanda dia mendengarkanku. “Masih?” tanyanya lagi.
Aku mengangguk. Mataku sebenarnya mulai terasa panas tapi
aku sudah berjanji tidak akan menangis lagi. Ku kedip-kedipkan mataku cepat
agar air mataku masuk lagi. “Saya kira seiring berjalannya waktu akan menjadi
lebih mudah. Tapi kenapa rasanya saya nggak bergerak maju sama sekali?” tanyaku
sedikit menuntut.
Dia nampak ikut berpikir, membantuku mencari jawaban namun
tidak ada kalimat apapun yang keluar dari mulutnya.
“Maksud saya, saya tahu dia baik-baik saja dengan hidupnya
sekarang tanpa saya. Bisa jadi sudah melupakan saya sepenuhnya dengan
pasangannya yang baru. Tapi hanya karena saya tahu hal itu tidak langsung
menjadikan ini semua lebih mudah. Padahal kami menjalani semuanya bersama tapi
kenapa ini cuma berat di saya aja? Kenapa dia bisa dengan mudah melepaskan
semuanya? Ini kan nggak adil, Tuhan.” Nada bicaraku mulai meninggi dan bergetar.
Aku gagal menepati janjiku untuk tidak menangis lagi saat aku menunduk dan beberapa
tetes air mataku jatuh meninggalkan bekas di celana jeansku.
Dia masih diam dan aku tidak berani melihat wajahnya. Aku
masih sibuk menahan agar tangisku tidak pecah menjadi isakan.
“Berarti kamu melakukannya dengan benar. Kalau terasa berat
dilakukan, berarti kamu melakukan hal yang benar. Ini memang berat karena
melepaskan orang yang kamu cintai tidak pernah mudah.”
Akhirnya aku melihat wajahnya. Wajahnya masih nampak
tersenyum menenangkan. Untuk sesaat aku bisa merasakan semuanya akan baik-baik
saja.
“Tapi sampai kapan saya akan kangen sama dia?” tanyaku lagi
gusar, tidak sabar ingin segera keluar dari perasaan yang membebani hati ini.
Dia kembali terdiam dan melihat ke arah langit, seperti sedang
mencari jawaban. “Sampai kamu nggak kangen lagi sama dia.” Jawabnya akhirnya
yakin sambil melihatku lagi. “Kalau kamu kangen sama dia, ya nggak apa-apa.
Kangen aja terus sampai nanti kamu nggak kangen lagi sama dia. Akan datang satu
hari, saat kamu bangun pagi dan kamu sadar dia bukan lagi hal pertama yang muncul
di kepala kamu. Yah mungkin nanti di jam 10 siang baru kepikiran lagi. Terus
besokannya baru keingetan dia di jam 1 siang, besokannya di jam 4 sore, dan
terus mundur sampai kamu bisa seharian nggak ingat dia lagi.”
Aku terdiam mendengarkan. Aku kembali menendang-nendang
tanah di depan sepatuku tapi kali ini bukan karena gusar.
“Akan datang satu hari saat kamu bisa berjalan-jalan kemana
pun tanpa kepikiran ‘coba jalan sama dia sekarang.’ Akan datang satu hari saat
kamu makan makanan enak dan tidak akan ada lagi keinginan untuk berbagi
dengannya. Akan datang satu hari saat kamu menonton film bagus tanpa ada keinginan
untuk mengajaknya menonton bersama lagi.”
“Kapan?” Tanyaku lagi tidak sabar.
Dia menatapku sambil menaikan alisnya, tanda dia heran
melihat reaksiku yang begitu kekanak-kanakan.
“Kalau kamu tahu hal itu akan datang, apa pentingnya kamu
tahu kapan?” Tanyanya dengan nada tersinggung yang dibuat-buat.
Aku menghela napas lagi. “Patience is not my virtue.” Aku
menjawab dengan Bahasa Inggris, merasa lebih nyaman menyampaikan emosi dalam
kalimat itu dengan Bahasa Inggris.
“Then this is a very good practice for you to fix your flaw,
right? Once you owned your flaw, no one can use it against you.” Jawabnya mengikuti
alurku sambil kembali tersenyum.
Aku masih terdiam. Hatiku sudah tidak seberat seperti tadi
di awal tapi aku masih ada satu pertanyaan lagi sebenarnya yang tidak berani
kutanyakan.
“Have faith in me.”
Tiba-tiba dia menjawab pertanyaan di dalam kepalaku yang
tidak sanggup kutanyakan langsung. Aku menatapnya terkejut. Dia hanya
tersenyum, dan aku tahu dia memang benar-benar baru saja menjawab pertanyaan di
dalam kepalaku itu. Aku tahu dia Tuhan yang maha tahu tapi kadang-kadang aku
masih suka dibuat terkejut oleh kemampuannya itu.
Merasa aku sudah kehabisan amunisi untuk bersedih lebih lama
lagi, aku pun bangkit berdiri. “Baiklah kalau begitu. Tapi kalau saya nanti dua
jam kemudian datang lagi dengan keluhan yang sama, engkau kesal, nggak?”
tanyaku khawatir karena dia sudah menanggapiku dan keluhanku ini sejak
bertahun-tahun yang lalu. Entah kapan akhirnya dia akan bosan dengan keluhan
level cemenku ini.
Dia menggeleng pelan. “Aku punya banyak waktu disini. Datang
lah kapan saja kamu merasa perlu. Aku akan tetap ada disini.” Katanya sembari
mengangkat bukunya yang sedari tadi ia pegangi, menandakan dia akan melanjutkan
membaca.
Aku bisa melihat judul buku yang sedang dia baca sekarang
dan membuat mental note untuk membeli buku tersebut sesegera mungkin.
I really appreciate your story, really do. Can you tell what book it is He is reading?
BalasHapusI will give a hint about it in my other post about him :)
HapusAnd oh, thank you for your kind comment :)
HapusThank you! Really looking forward to it.
BalasHapusI just cried reading it, so touching! Much love ❤❤
BalasHapusThank you :)
Hapus