Empat Hal Tersulit Dari Patah Hati

WARNING: Akan banyak, banyak, banyak sekali bahasa Inggris di postingan ini. Penyebabnya adalah saya masih merasa risih menggunakan bahasa Indonesia untuk pembahasan yang sentimental atau seputaran penggunaan kata 'cinta'. I find English is more casual and light for this kind of text.

Saya belum pernah patah hati sebelumnya.

Bukan patah hati tipe si cowoknya nggak suka balik, itu sih sudah khatam (saya baru jadi cakep setelah kerja aja. Pas sekolah sama kuliah mah busuk banget). Bukannya belum pernah putus juga, technically saya udah pernah putus empat kali. Akan tetapi tiga kali diantaranya bahkan tidak sebegitu berbekasnya di saya. Setelah dua-tiga minggu dan dekat dengan lelaki lain saya pun baik-baik saja lagi, bahkan bisa merasakan privilese diajak balikan sama mantan dan saya menolaknya.

Yang mau saya bicarakan adalah patah hati saya yang keempat atau yang terakhir ini. Tipe patah hati yang belum pernah saya alami sebelumnya selama sekian puluh tahun ini saya hidup.

Kalau patah hati modelan si cowoknya nggak suka balik sama saya itu seperti Le Minerale, menurut saya. Masih ada manis-manisnya saat saya ingat-ingat lagi sekarang. It left no scars, I need no healing time. Tiga hubungan yang terdahulu juga tidak sulit untuk saya lalui karena saya memang tidak merasakan perasaan sedalam itu dengan pacar-pacar saya tersebut. Tidak pernah saya memikirkan mereka akan tetap ada bersama saya sampai sekian tahun lagi. Tiga hubungan itu berdasarkan pada konsep penasaran  saja, sebenarnya.

Tapi patah hati yang terakhir ini... buset. I literally think I could die because of it. Saya sampai mempertimbangkan opsi untuk hipnosis biar bisa melupakan mantan saya itu. Semacam Eternal Sunshine of The Spotless Mind gitu lah. Tidak (belum) jadi karena harganya lumayan mahal untuk sekali sesi. Sempat kepikiran masukin kitabisa tapi ini mah jadinya kitabisa maki-maki si Inge aja nanti jadinya.

Saya yang newbie dalam urusan patah hati legit ini pun sampai bolak-balik bertanya ke beberapa kawan terdekat tentang bagaimana dulu mereka bisa melalui kandasnya hubungan ini. Apakah memang benar seberat ini? Sesulit ini? Semenyiksa ini? Atau saya memang anaknya cenderung overdramatis aja?

Saya sempat memikirkan apa yang membuat patah hati ini (atau mungkin patah hati pada umumnya) begitu sulit dijalani. Maksudnya, secara teknis it just I am no longer in a relationship with him, kan. Itu aja kan sebenernya. Sisanya hidup saya sama aja. But why is it so hard?

Saya sampai membuat beberapa poin agar saya lebih mudah memahami apa yang membuat patah hati itu begitu berat:

1. The shattered future. Yah, di ~umur yang kesekian~ ini nampaknya tidak aneh kalau saya sudah mulai memikirkan masa depan saya bersama dia. Apalagi kita sempet ke IKEA bareng juga (moral: kalau belum sebar undangan pernikahan nggak usah pergi ke IKEA bareng). I have this picture about how OUR life gonna be. I already put him in my future. Jadi saat sekarang dia sudah tidak ada lagi (masih hidup orangnya, segar dan bahagia tapi tahu kan maksud saya apa), saya semacam panik untuk menerima saya harus mulai menghapus dia dari masa depan saya dan harus mulai bisa membayangkan orang lain yang akan mengisi posisi dia itu. Jadi saat sebelumnya saya membayangkan akan menghabiskan akhir pekan dengan binge watching series dengan dia, saya harus menghapus sosoknya yang saya bayangkan akan menonton sembari memeluk saya di sofa nyaman di rumah kita dan menggantinya dengan sosok yang lain. Atau mulai mengganti sosoknya yang saya bayangkan akan bersama saya seiring saya bertambah tua. And it is hard. I'm tearing up right now when I type this hahahahiks.

2. I lost my first person. You know, the first person that you will always turn to in any situation. Sad, happy, upset, afraid. Iya, ada keluarga dan teman juga tapi karena saya bukan tipe yang sebegitu deketnya sama keluarga dan teman-teman saya sekarang juga punya kehidupan mereka sendiri-sendiri terutama setelah menikah dan punya anak (dan yang single pun punya teman-teman mereka dan jadwal mereka sendiri), setelah dia tidak ada lagi di kehidupan saya, sungguh terasa kebingungan mau mengajak siapa untuk nonton film di bioskop atau untuk menemani saya berbelanja mencari parfum baru atau untuk menemani saya mengunjungi pameran. Yes, I can always do it alone and I enjoy being alone, really. Sebelum ada dia juga saya selalu melakukan banyak hal sendiri. But after I know that sharing those experience with your person is slightly better, I always prefer that. Dan first person ini bukan cuma sekedar di kegiatan bersama tapi juga orang pertama yang ingin diberi tahu saat ada hal buruk terjadi di kantor atau saat melihat meme lucu di internet. That empty feeling feels so heavy when I realized he is not there anymore. Slightly confused about whom I can turn to.

3. Trying not to curse him. That exhausting feeling when I really really try my best not to cast a curse on him. Betapa saya kerap kali berharap dia diberikan kejutan ulang tahun oleh pacar barunya di restoran dengan pegawai yang datang membawakan kue sembari menyanyikan happy birthday buat dia. Atau berharap pacarnya yang baru menganggap Before Sunrise itu membosankan dan di tengah-tengah film memintanya mengganti ke film yang lebih seru. Betapa saya harus mencegah diri saya untuk tidak berucap dalam hati that he's gonna regret leaving me and find that no one is better than me because I know that I'm just being angry and hurt and I'm afraid he is happy without me and actually find someone better than me. A fear based wish is a bad thing and since I know I still love him, I hate catching myself still having these thoughts. Being pulled between 'I love you I want you to be happy and I'm afraid please don't leave me' everyday is exhausted. Sometimes I just have no energy anymore and all I want to do is gone. Not feeling anything anymore.

4. Move on when you're still in love. He told me to move on one day and I just... stunt. At first I thought, how can I do that when I'm still in love with you? Bahkan ada lagunya kan dari The Script: how can I move on, when I'm still in love with you? I'm not moviiinngg~ I'm not moviiinngg~
Tapi, saya sekarang melihatnya dari sisi yang berbeda. Fine, I'm gonna move on from you. I say this not based on resentment or vengeance vibe, but as my last (and only) option to show you how much I love you. Because I love him, so when I know he wants me to move on, I gather all the strength inside of me to leave him. Because I love him, so when I know he doesn't want me anymore, I use all the power inside of me to never enter his life anymore.

Because I love him, so when I know he doesn't love me anymore, I love him through my prayers.

Pelan-pelan mulai belajar membuktikan bahwa saya bisa mencintai seseorang dengan benar dan bukan dengan ego saya sendiri.

Dan begitulah pemirsa, empat pokok kesulitan terbesar saya (dan mungkin banyak orang lain) dalam perjalanan putus cinta ini. Sulit, bukan?

Jujur saya sendiri sampai detik ini masih beberapa kali sengaja-sengaja dengerin lagu sedih (pilihan favorit saya All I Do-nya Yuna sama I Can't Make You Love Me-nya Bonnie Rait) biar nangis kalau malam. Masih suka sengaja-sengaja keluar-keluar kantor dan entah lah itu beli kopi kek ke foodcourt gedung kantor (padahal kantor saya nyediain barista yang bikinin kopi gratis ke karyawannya. Coba. Sebegitunya saya buang-buang duit), beli snack kek, beli susu kek, beli kambing akikahan kek, apa pun lah itu dengan harapan bisa ngeliat dia juga (kita kerjanya di satu gedung).

Moving on is an everyday job. It takes patient and strength. Dan sesuai hukum kehidupan, semua kerja keras akan membuahkan hal yang baik. Hal terbaik dari patah hati ini, saya yakin 1000%, setelah ini saya akan menjadi orang yang lebih paham cara mencintai orang lain. If I can love someone in my silence, imagine how would I love them in my action.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Rencana Tuhan

Melihat Mantan Dengan Perempuan Lain

Mengubah Hidup