Sebentar Lagi Saya 31 Tahun

Sebentar lagi saya 31 tahun.

Kalau mau jujur, masih ada sedikit rasa takut tentang menjadi tua. Hal paling dangkal mungkin tentang pasangan tapi hal lain yang mulai merayapi hati adalah ketakutan saya menyia-nyiakan hidup yang sudah dianugerahkan ke saya. Kelompok-kelompok apatis sinis savage edgy sering mengatakan hidup itu tidak sebegitu istimewanya yang bisa jadi benar. Hidup saya pun sampai di usia 30 tahun lebih sekian bulan ini masih terasa begini-begini saja. Tidak ada kejadian luar biasa di hidup saya dan saya juga tidak berkontribusi sedemikian besarnya bagi dunia maupun kemanusiaan.

Ya begini-begini aja.

Lalu suatu hari saya sempat menonton TED Talk yang membicarakan bahwa kemungkinan kita dilahirkan di dunia ini adalah satu banding EMPAT RATUS TRILIUN.

Sebentar yah kita buat dalam angka agar semakin dramatis

1 : 400.000.000.000.000.

Coba itu nolnya banyak bener.

Sebagai perbandingan, APBD Jakarta tahun 2019 adalah 89 triliun. Sebanyak itu, saudara-saudara, 400 triliun teh, dan ya memang masuk akal, sih. Coba pikir, perlu berapa banyak campur tangan takdir sampai akhirnya kita lahir. Orang tua kita harus lahir dulu dan hidup cukup lama untuk bisa bertemu dan membuahi yang jadi kita. Kakek nenek dari dua belah pihak itu juga harus melalui hal yang sama, kakek nenek buyut dari dua belah pihak kakek dan nenek kita juga harus begitu. Terus lah ke atas sampai jamannya Genghis Khan mungkin. Jadi, secara scientific, kesempatan untuk merasakan hidup memang bisa disebut sebagai keajaiban.

Hal ini yang lalu membuat saya berpikir, apa keajaiban dari kehidupan saya? Saya benar-benar merasa hidup saya ini super mediocre. Super cakep ya nggak, super pinter ya nggak, super kaya ya nggak, super berpengaruh di masyarakat ya nggak. Hidup saya benar-benar bagaikan debu di alam semesta ini. Nggak istimewa. Saya sempat berkali-kali berpikir dan meyakini bahwa andaikan saya mati juga ya nggak apa-apa sih. There is nothing special in my life that makes me want to hold into it. Paling saya kasian aja sama mama papa saya yang bisa jadi gila kalau saya kenapa-napa.

Saya bukan orang yang relijius tapi saat saya mengetahui saya bisa lahir di dunia ini diantara 400 triliun kesempatan untuk gagal, mendadak saya merasa hidup saya pasti ada gunanya. Saya mulai perlahan-lahan meyakini pasti ada sesuatu yang bisa saya lakukan dengan kehidupan saya. PASTI ADA yang bisa saya lakukan dengan kekuatan saya mengalahkan 400 triliun kegagalan lahir ini.

Belakangan ini saya mulai belajar tentang mind set dan kemampuan untuk mengalahkan kegelapan di dalam diri. Salah satu pikiran negatif yang terus-menerus saya ajak kelahi di pikiran saya adalah: You are too old to do something now.

Masyarakat senang memberi batas kadaluarsa untuk kesuksesan atau kebahagiaan. Kalau umur 25 kamu belum punya tabungan 10 miliar dan belum jadi CEO berarti kamu gagal. Kalau umur 30 belum punya dua anak dan lagi hamil anak ketiga berarti kamu nggak diinginkan. Kalau umur 26 belum pernah pacaran berarti ada yang salah sama kamu. Pokoknya ada batasan-batasan umur di masyarakat yang membuat bertambah tua itu bukan hanya sekedar ketakutan akan kulit keriput atau semakin dekat kematian tapi juga ketakutan akan menjadi manusia gagal. Sudah terlambat untuk sukses. Sudah terlambat untuk bahagia.

Dan saya juga tidak luput dari ketakutan ini. Rasanya saya mulai merasakan ketakutan ini di umur 27 tahun. Entah ya, saya merasa saat lepas dari angka 25 tahun, tahun berganti sangat cepat. Sedikit menakutkan karena kecepatan tahun berganti tidak sebanding dengan perubahan yang terjadi di kehidupan saya.

Saya juga tidak bisa mengatakan dengan jelas mulai kapan saya bisa mulai lepas dari ketakutan ini. Yang saya ingat, saya mendadak kepikiran tentang rata-rata manusia bisa hidup sampai 79 tahun. Saat saya mengetahui hal ini, saya mendapat satu penegasan bahwa saya belum terlambat untuk apapun di dalam hidup saya. Saya masih punya kesempatan 30 tahun plus plus lagi untuk menjadi bahagia dan menjadi sukses. Saya punya waktu SEPANJANG umur saya sekarang dan bahkan lebih. Mendadak umur 30 tahun tidak tampak terlalu tua.

Menjadi bahagia atau sukses itu pekerjaan internal tiap pribadi, bukan kompetisi dengan yang lain.

Saya juga pelan-pelan mulai bisa mendefinisikan apa yang menjadi kebahagiaan dan kesuksesan saya. Saya tahu untuk saya sukses itu lebih daripada sekedar menjadi kaya raya, lebih daripada sekedar jumlah uang yang bisa saya dapat dan saya habiskan. Iya ini terdengar super cliche tapi ya buat saya bener sih. Kalau sukses itu cuma sekedar urusan saldo di bank saya bisa aja jadi sugar baby atau mungkin yang lebih gampang lagi pesugihan kan. Saya lihat banyak tokoh-tokoh kaya raya yang lalu lalang di media tapi saya PRIBADI tidak sanggup menyebut mereka sukses.

Being rich is (arguably) easy but being success is a different kind of wealthy.

Demikian pula dengan kebahagiaan. Bagaimana saya mendefiniskan bahagia? Apakah itu berdasarkan sesuatu yang dimiliki atau diberikan? Apakah itu berupa benda, orang, posisi, atau berupa kepercayaan dalam hati?

Iya berat, saya tahu.

Tapi saya percaya kesuksesan dan kebahagiaan bagi tiap orang berbeda-beda. Yang terpenting saya yakin bahwa definisi saya  akan kedua hal itu benar-benar datang dari diri saya sendiri dan bukan karena ego ataupun keinginan untuk diterima oleh orang lain.

Sebentar lagi saya 31 tahun dan saya masih berusaha dengan sabar mengumpulkan semua potongan tentang apa yang membuat saya merasa sukses dan bahagia. Hidup ini adalah sebuah keajaiban dan saya tidak mau salah mengartikannya.

Jadi pesimis dan sinis itu gampang. Beneran, gampang banget. It is one of the laziest thing we can do, nothing impressive about it. But being optimistic is a hard work because you owe yourself to make that belief come true. All the good things you think you deserve need to be manifested by hard work and commitment.

It is not an easy job to have the life I know I deserve but since I already here after beat the 400 trillion odds, I know I have the basic power to do it.

And so do you :)









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Rencana Tuhan

Melihat Mantan Dengan Perempuan Lain

Mengubah Hidup