Iya, Saya Tahu Saya Cantik.

"You know that you are pretty, aren't you?"

Kalimat itu ditanyakan ke saya oleh seorang lelaki dengan nada playful yang terasa sedikit dipaksakan. "I can see it from the way you walk here." Katanya lagi seakan butuh menjelaskan lebih detail lagi. Saya sesaat merasa tidak tahu apakah itu membutuhkan respon saya atau tidak. Beberapa detik berlalu dengan dia masih memandangi saya jadi saya menganggap itu sebagai cue untuk saya memberikan respon.

"Yes. Of course I know I'm pretty. I can see pretty clear with glasses and I have a good sense of analysis to see that I'm fit into several beauty standards."

*drop the mic*

Ya iyalah saya tahu saya ini masuk dalam golongan cantik. Agak susah setelah 30 tahun menjalani kehidupan bermasyarakat dan tidak menyadari saya ini cantik.

Saya masuk dalam beberapa point beauty standard setidaknya di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Saya body-able, tidak ada cacat terkecuali bekas cacar air di muka dan bekas operasi usus buntu di perut (saya operasi di tahun 1995 jadi teknologi operasi usus buntu masih sama dengan operasi sesar). Muka cenderung bersih dari jerawat atau bekas jerawat. Berat badan dan tinggi badan saya proporsional, proporsi panjang kaki dengan panjang badan juga cukup baik. Rambut saya lurus, kulit termasuk putih. Alis saya tebal alami (yang sejak tahun 2017 menjadi poin kecantikan), gigi rapi, saya punya DUA lesung pipi dan sebagai bonus saya terkadang memakai kacamata yang akhir-akhir ini menjadi fetis banyak lelaki (atau perempuan).

Jadi iya lah, saya tahu saya cantik.

Saya juga paham level-level cantik, jadinya hanya karena saya masuk dalam golongan cantik bukan berarti saya WAW banget di kehidupan bermasyarakat. Maksudnya, kalau filter pertama itu cantik atau jelek, saya sudah masuk golongan cantik, betul tapi filter berikutnya adalah: but how pretty?

Cantik pun banyak levelnya, saudara-saudara. Semacam, iya oke, lo pinter bisa masuk UI tapi lo jurusan apa? Jurusan FIB UI jelas nggak bisa sejumawa jurusan FE UI kan. We all know they are not the same.

Iya saya cakep tapi bukan level cantik yang bisa foto bareng sama Peavita Pearce dengan percaya dirinya atau yang cukup percaya diri buat ngegodain Harvey Moeis buat ninggalin Sandra Dewi. Nggak dong.

Kalau dalam skala 1 sampai 10, 1 itu cantik dan 10 itu cantik paripurna (ini buat levelnya Monica Bellucci, Sophia Loren, Scarlett Johansson dkk), maka saya berada di nomor 2 atau kalau rambut dan make up saya sedang diusahakan dan dipakaikan baju dan sepatu mahal, bisa lah masuk ke 2.7. Saya sering mikir, kalau saya lahir di keluarga kaya, level saya ini bisa naik lagi sih sebenernya. Tapi dengan selama sembilan tahun lebih terpapar asap dan debu jalanan Jakarta dua kali sehari, lima kali seminggu, dapet nomor 2 juga udah bagus.

Pertanyaan si laki-laki di awal tulisan ini membuat saya memikirkan betapa masyarakat menanamkan konsep yang salah tentang sombong dan rendah hati terkait dengan penampilan. I was like this too back in my youth days. Deskripsi 'dia-cakep-tapi-dia-nggak-tau-dia-cakep' banyak diyakini sebagai sebuah pujian. Bahkan deskripsi tersebut seringnya berlanjut dengan kalimat 'dan-itu-bikin-dia-makin-cakep'

Iya kayak lagunya One Direction itu. And then years later Zayn Malik pacaran sama Gigi Hadid yang saya cukup yakin mengetahui dirinya cantik. Banget.

Salah satu hal terbaik dari bertambah tua adalah saya memperoleh banyak pengetahuan baru yang mengubah beberapa (banyak?) cara pandang saya. If you are 30 years old and find yourself still have the same exactly perspective on things as your 20 years old, you need to be concerned.

Saya yakin, seseorang akan tahu bahwa mereka itu cantik atau ganteng. Pasti lah. Orang cakep yang ngeklaim dia nggak tahu dia cakep itu cuma ada dua alesannya: 1) They are filthy liar yang butuh untuk terus-menerus mendengar 'kamu cakep taooooo' dari orang sekitarnya sembari terus berusaha nampak rendah hati; dan 2) They are someone with serious low self esteem issue combined with an alarming level of insecurity.

Meng-iyakan saya cantik nggak ada hubungannya dengan saya menjadi seseorang yang sombong atau tidak rendah hati. Saya hanya jujur untuk mengakui saya masuk dalam beberapa standar kecantikan. Dan sebenarnya saya tidak terlalu merasa cantik itu pujian yang layak mendapat nilai sebegitu tingginya di masyarakat karena sifatnya yang selalu berubah dari zaman ke zaman. Di era 1800an, di Eropa yang termasuk cantik itu perempuan yang gemuk dan kulitnya putih pucat. Sekarang di Eropa standard cantik itu perempuan yang langsing dan berkulit cokelat atau tanned. Audrey Hepburn nggak akan dilirik laki kalau lahir di jaman itu. Tahun 1990an alis yang oke itu yang setipis benang dan sekarang orang bisa jadi kaya raya dari bisnis tato alis.

We should stop giving too much value for something as inconsistent as beauty standards.

I am pretty but really, it should not be that big deal.









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Rencana Tuhan

Melihat Mantan Dengan Perempuan Lain

Mengubah Hidup