Tuhan, Saya Sudah Move On.
"Tuhan!"
Aku berseru memanggilnya dengan nada tidak sabar. Aku memutar-mutar kepala dan badan terlalu cepat dikarenakan semangat yang mengaliriku, mencari sosoknya yang aku ketahui dengan pasti akan selalu bisa kutemui disini.
"Ya?"
Terdengar satu suara kalem menjawab, suara yang sudah ku kenal dengan baik, dengan nada kalem yang juga sudah ku akrabi selama ini.
Akhirnya aku melihatnya, sosoknya yang masih sedang duduk dengan buku di tangannya. Masih buku yang sama, nampaknya. Dengan senyum merekah aku menghampirinya. Aku tidak pernah perlu memanggilnya sampai dua kali. Hanya sekali, dan dia akan selalu menjawabku.
"Belum selesai baca bukunya?" tanyaku sedikit iseng sembari ikut duduk di sampingnya. Dia menangkap nada mengejekku dan dengan ekspresi tersinggung yang berlebihan dijawab "Aku sibuk sekali tapi ini sudah mau selesai kok." Jawabnya membela diri sambil menunjukkan bukunya. Aku hanya mengangguk-angguk paham dengan dia menjadi sibuk.
"Jadi ada apa?" tanyanya akhirnya.
Oh iya, aku lupa tadi aku mencarinya untuk mengabarinya sesuatu. Sesaat aku terlalu senang saat melihatnya sampai bisa lupa.
"Saya sudah move on, Tuhan!" Jawabku dengan semangat sembari tersenyum lebar.
Ekspresi mukanya nampak sedikit terkejut tapi tidak betul-betul terkejut. Semacam, berusaha menjadi baik dalam menanggapi informasi yang baru kuberikan dengan begitu bergairahnya. "Oh ya? Sudah?" tanyanya. Aku mengangguk yakin. "Iya. Saya baru sadar tadi pagi, Tuhan. Begitu saya bangun pagi, saya tidak langsung teringat dia lagi. Pertama kalinya! Dan saya menyadaari sudah beberapa hari ini saya bisa melewati beberapa waktu benar-benar tanpa ada pikiran tentang dia." Jawabku lebih rinci lagi.
"Itu baik sekali." reaksinya sambil tersenyum.
"Itu persis seperti yang engkau pernah bilang ke saya, Tuhan. Akan ada harinya nanti saya bisa mulai pelan-pelan tidak memikirkan dia lagi. Dan nampaknya saya mulai merasakan hal itu." Aku terus menjawab sembari meletakan kedua tanganku di dadaku, menandakan posisi hatiku yang sudah mulai membaik. Dia mengangguk-angguk mendengarkan sambil terus tersenyum.
"Apa itu berarti kamu sudah tidak mencintainya lagi?" tanyanya sedikit menyelidiki, seperti sedang memberikan test kepadaku.
Aku terdiam sejenak. Tidak ingin menjawab terlalu gegabah untuk pertanyaan seserius ini. Dia menungguku menjawab dengan sabar. Aku bahkan bisa merasakan dia sedikit puas bahwa aku butuh waktu memikirkan jawaban dari pertanyaannya.
"Masih, Tuhan. Saya masih cinta sama dia. Dan jujur, sampai sekarang saya merasanya saya tidak akan bisa jatuh cinta lagi seperti saya jatuh cinta dengan dia. Semacam, nah, I would never have this kind of intensity of affection and courage to love this hard again." Aku menjawab serius sambil melihat ke arahnya. Dia masih mendengarkan sambil menatapku tapi kali ini aku tidak tahu apa yang kira-kira dia pikirkan atas jawabanku ini.
"Tapi," jawabku buru-buru berusaha membela diri dari jawabanku yang terdengar kontradiktif dengan pernyataan 'sudah move on' sebelumnya "Tapi saya sudah tidak lagi memikirkan tentang 'kita' lagi, I don't stressed about us being together anymore." Jawabku. Kali ini aku bisa melihat alisnya sedikit terangkat saat mendengar ini. Aku tidak menunggunya memberikan komentar dan terus melanjutkan berbicara.
"Kalau dulu kan, saya sangat terganggu dengan skenario saya tidak bersamanya, kalau nanti akhirnya dia sama siapa, saya sama siapa. Sepenuh hati saya menolak itu. Saya tidak bisa berdamai dengan konsep we are not meant to be. Tapi sekarang saya tidak apa-apa. Saya tidak terpelatuk lagi dengan skenario kita tidak bersama. It is okay." Jawabku dengan nada dibuat riang sambil mengangkat-angkat kedua kakiku beberapa sentimeter dari tanah.
"Bahkan ya, Tuhan, saya sudah bisa berdamai dan menerima kalau nanti di hubungan saya berikutnya itu saya tidak cinta-cinta sekali dengan pasangan saya. Saya kan merasanya tidak akan bisa mencintai orang lain lagi seperti saya cinta sama dia. Ya, kalau salah bagus, kalau benar juga tidak apa-apa. Kalau hubungan saya nantinya berdasarkan komitmen, mutual respect, dan shared interest, saya rasa itu sudah cukup." Aku kembali panjang lebar menjelaskan. Berusaha membuat pernyataanku barusan tidak terlalu pesimistis karena aku benar-benar merasa itu semua tidak apa-apa.
Tuhan akhirnya tersenyum setelah mendengarkan celotehanku. Dia mengalihkan pandangannya dariku dan memandang jauh ke depan. Aku kembali tidak bisa menebak apa yang dipikirkannya tentangku sekarang. Aku menunggu dia berbicara menanggapi.
"Aku senang kamu bisa mendefinisikan move on dengan kekuatan dan kemampuanmu sendiri. Ada kalanya move on itu bukan berhenti mencintai tapi sekedar berhenti menjadi sedih saat berpisah." Jawabnya akhirnya. Aku tersenyum, lega Tuhan memahamiku.
"Apa kamu pernah menghubunginya lagi?" Tanyanya mendadak. Aku membelalak kaget dengan pertanyaannya. "Tidak dong!" Jawabku agresif. Tuhan tertawa kecil melihat reaksiku. "Ya kan hanya bertanya. Kamu bisa ternyata tidak menghubunginya lagi ya." Katanya setengah menggoda. Aku mendengus sedikit kesal. "I love him, god, not obsessed. Kalau dia bilang dia mau saya move on, ya saya move on. Sulit, sulit sekali tapi saya coba semampu saya dan akhirnya bisa." Jawabku tersenyum tapi kali ini terasa sedikit menyengat di mata dan nampaknya dia menyadarinya juga. Buru-buru kutarik nafas dalam sembari memundurkan punggungku ke belakang, berharap kesedihan yang sesaat datang barusan juga tertarik ke belakang.
"Kamu mencintainya dengan baik. I am proud of you." Jawabnya tersenyum sembari menyenggolku pelan dengan pundaknya. Kali ini mataku benar-benar terasa panas mendengarnya. Perasaan overwhelmed menyapuku mendadak dan aku hanya bisa tertawa canggung sambil terus berusaha menahan air mata menetes. "Iiihh, nanti saya nangis lagiii" kataku akhirnya sambil merajuk. Dia tersenyum dan menghapus air mata yang sudah mengumpul di ujung mataku.
Untuk sekedar mengubah suasana yang kelewat kuat ini, aku akhirnya kembali mengomentari buku yang sedang dia baca. "Menurutmu bagaimana bukunya? Suka?" tanyaku setengah mengalihkan topik setengah benar-benar mau tahu pendapatnya tentang American Gods.
Ekspresi mukanya berubah menjadi menimbang-nimbang. "Aku sedikit kecewa tidak dimasukkan ke cerita ini." Jawabnya entah bercanda entah serius. "Tapi mengingat begitu banyak manusia yang tidak bisa membedakan mana fiksi dan mana kenyataan, mungkin itu yang terbaik." Dia menyimpulkan sendiri. Aku masih menatapnya, merasa masih belum mendapat jawaban dari pertanyaanku.
"Oh, belum dijawab dengan jelas ya. Suka, kok. Hanya saja ada sedikit detail yang terlewat dari cerita ini." Katanya serius. "Apa?" Tanyaku penasaran.
"Bahwa persaingan antara tuhan lama dan tuhan baru itu bukan lah tuhan lama ditinggalkan pengikutnya, tetapi penyembah tuhan lama juga ikut menyembah tuhan baru. Dan itu sebenarnya sumber banyak masalah di dunia kalian." Jawabnya tersenyum. Aku terdiam mendengarnya, menyadari kebenaran dari ucapannya.
"Tapi aku pun belajar untuk move on dari hal itu. Membiarkan kalian manusia dengan free will kalian memilih apa yang mau kalian miliki di hidup ini, bagaimana kalian menjalani hidup ini. Me too, love you all enough to let you go if you want to go. Seperti yang kamu bilang, aku mencintai kalian, tidak terobsesi dengan kalian. Itu sebabnya aku memberikan kalian kehendak bebas." Jawabnya panjang lebar, seakan-akan kali ini gilirannya untuk mencurahkan perasaannya.
Aku kembali terdiam. Menyadari tuhan pun berkali-kali merasakan patah hati seperti yang kurasakan. Mendadak ada sedikit rasa simpati saat aku melihat sosoknya ini, betapa berat mencintai seseorang yang tidak bisa melihat besarnya cinta yang bisa kita berikan lalu melepaskan mereka pergi dengan keinginan mereka sendiri, tidak tahu apakah mereka akan kembali atau tidak.
"Wah jadi melankolis begini, ya." Kali ini giliran tuhan yang mengubah arah energi diantara kami. Aku hanya bisa tersenyum canggung menanggapinya. "Jadi, kamu sudah bisa move on, sekali lagi, itu baik sekali. Aku senang kamu bisa sampai di titik ini." Jawabnya kembali tersenyum.
"Iya, saya mau cerita itu saja ke engkau." Aku mengatakannya sembari berdiri, menandakan aku akan pergi. "Engkau bisa lanjutkan membaca bukunya. Saya kurang suka sih dengan akhirnya." Kataku enteng.
"Hey, hey, no spoiler." Katanya dengan muka serius. Aku melongo. Tuhan yang mengetahui segala macam pengetahuan yang ada dan tidak ada barusan mengingatkanku untuk tidak membocorkan akhir sebuah cerita dari sebuah buku. "But you know everything!" Jawabku sambil tertawa.
Dia tersenyum. "Aku ingin menikmati perjalanan dengan segala emosinya tanpa harus mengetahui akhirnya. Just like you did."
Aku terhenyak. Sekelebat rasa damai dan tenang terasa menghampiriku. Sekelebat aku benar-benar bisa merasakan aku akan baik-baik saja. Akhirnya aku tersenyum, menyadari makna kata-katanya barusan.
"Sampai jumpa lagi."
"Aku akan tetap ada disini."
Aku berseru memanggilnya dengan nada tidak sabar. Aku memutar-mutar kepala dan badan terlalu cepat dikarenakan semangat yang mengaliriku, mencari sosoknya yang aku ketahui dengan pasti akan selalu bisa kutemui disini.
"Ya?"
Terdengar satu suara kalem menjawab, suara yang sudah ku kenal dengan baik, dengan nada kalem yang juga sudah ku akrabi selama ini.
Akhirnya aku melihatnya, sosoknya yang masih sedang duduk dengan buku di tangannya. Masih buku yang sama, nampaknya. Dengan senyum merekah aku menghampirinya. Aku tidak pernah perlu memanggilnya sampai dua kali. Hanya sekali, dan dia akan selalu menjawabku.
"Belum selesai baca bukunya?" tanyaku sedikit iseng sembari ikut duduk di sampingnya. Dia menangkap nada mengejekku dan dengan ekspresi tersinggung yang berlebihan dijawab "Aku sibuk sekali tapi ini sudah mau selesai kok." Jawabnya membela diri sambil menunjukkan bukunya. Aku hanya mengangguk-angguk paham dengan dia menjadi sibuk.
"Jadi ada apa?" tanyanya akhirnya.
Oh iya, aku lupa tadi aku mencarinya untuk mengabarinya sesuatu. Sesaat aku terlalu senang saat melihatnya sampai bisa lupa.
"Saya sudah move on, Tuhan!" Jawabku dengan semangat sembari tersenyum lebar.
Ekspresi mukanya nampak sedikit terkejut tapi tidak betul-betul terkejut. Semacam, berusaha menjadi baik dalam menanggapi informasi yang baru kuberikan dengan begitu bergairahnya. "Oh ya? Sudah?" tanyanya. Aku mengangguk yakin. "Iya. Saya baru sadar tadi pagi, Tuhan. Begitu saya bangun pagi, saya tidak langsung teringat dia lagi. Pertama kalinya! Dan saya menyadaari sudah beberapa hari ini saya bisa melewati beberapa waktu benar-benar tanpa ada pikiran tentang dia." Jawabku lebih rinci lagi.
"Itu baik sekali." reaksinya sambil tersenyum.
"Itu persis seperti yang engkau pernah bilang ke saya, Tuhan. Akan ada harinya nanti saya bisa mulai pelan-pelan tidak memikirkan dia lagi. Dan nampaknya saya mulai merasakan hal itu." Aku terus menjawab sembari meletakan kedua tanganku di dadaku, menandakan posisi hatiku yang sudah mulai membaik. Dia mengangguk-angguk mendengarkan sambil terus tersenyum.
"Apa itu berarti kamu sudah tidak mencintainya lagi?" tanyanya sedikit menyelidiki, seperti sedang memberikan test kepadaku.
Aku terdiam sejenak. Tidak ingin menjawab terlalu gegabah untuk pertanyaan seserius ini. Dia menungguku menjawab dengan sabar. Aku bahkan bisa merasakan dia sedikit puas bahwa aku butuh waktu memikirkan jawaban dari pertanyaannya.
"Masih, Tuhan. Saya masih cinta sama dia. Dan jujur, sampai sekarang saya merasanya saya tidak akan bisa jatuh cinta lagi seperti saya jatuh cinta dengan dia. Semacam, nah, I would never have this kind of intensity of affection and courage to love this hard again." Aku menjawab serius sambil melihat ke arahnya. Dia masih mendengarkan sambil menatapku tapi kali ini aku tidak tahu apa yang kira-kira dia pikirkan atas jawabanku ini.
"Tapi," jawabku buru-buru berusaha membela diri dari jawabanku yang terdengar kontradiktif dengan pernyataan 'sudah move on' sebelumnya "Tapi saya sudah tidak lagi memikirkan tentang 'kita' lagi, I don't stressed about us being together anymore." Jawabku. Kali ini aku bisa melihat alisnya sedikit terangkat saat mendengar ini. Aku tidak menunggunya memberikan komentar dan terus melanjutkan berbicara.
"Kalau dulu kan, saya sangat terganggu dengan skenario saya tidak bersamanya, kalau nanti akhirnya dia sama siapa, saya sama siapa. Sepenuh hati saya menolak itu. Saya tidak bisa berdamai dengan konsep we are not meant to be. Tapi sekarang saya tidak apa-apa. Saya tidak terpelatuk lagi dengan skenario kita tidak bersama. It is okay." Jawabku dengan nada dibuat riang sambil mengangkat-angkat kedua kakiku beberapa sentimeter dari tanah.
"Bahkan ya, Tuhan, saya sudah bisa berdamai dan menerima kalau nanti di hubungan saya berikutnya itu saya tidak cinta-cinta sekali dengan pasangan saya. Saya kan merasanya tidak akan bisa mencintai orang lain lagi seperti saya cinta sama dia. Ya, kalau salah bagus, kalau benar juga tidak apa-apa. Kalau hubungan saya nantinya berdasarkan komitmen, mutual respect, dan shared interest, saya rasa itu sudah cukup." Aku kembali panjang lebar menjelaskan. Berusaha membuat pernyataanku barusan tidak terlalu pesimistis karena aku benar-benar merasa itu semua tidak apa-apa.
Tuhan akhirnya tersenyum setelah mendengarkan celotehanku. Dia mengalihkan pandangannya dariku dan memandang jauh ke depan. Aku kembali tidak bisa menebak apa yang dipikirkannya tentangku sekarang. Aku menunggu dia berbicara menanggapi.
"Aku senang kamu bisa mendefinisikan move on dengan kekuatan dan kemampuanmu sendiri. Ada kalanya move on itu bukan berhenti mencintai tapi sekedar berhenti menjadi sedih saat berpisah." Jawabnya akhirnya. Aku tersenyum, lega Tuhan memahamiku.
"Apa kamu pernah menghubunginya lagi?" Tanyanya mendadak. Aku membelalak kaget dengan pertanyaannya. "Tidak dong!" Jawabku agresif. Tuhan tertawa kecil melihat reaksiku. "Ya kan hanya bertanya. Kamu bisa ternyata tidak menghubunginya lagi ya." Katanya setengah menggoda. Aku mendengus sedikit kesal. "I love him, god, not obsessed. Kalau dia bilang dia mau saya move on, ya saya move on. Sulit, sulit sekali tapi saya coba semampu saya dan akhirnya bisa." Jawabku tersenyum tapi kali ini terasa sedikit menyengat di mata dan nampaknya dia menyadarinya juga. Buru-buru kutarik nafas dalam sembari memundurkan punggungku ke belakang, berharap kesedihan yang sesaat datang barusan juga tertarik ke belakang.
"Kamu mencintainya dengan baik. I am proud of you." Jawabnya tersenyum sembari menyenggolku pelan dengan pundaknya. Kali ini mataku benar-benar terasa panas mendengarnya. Perasaan overwhelmed menyapuku mendadak dan aku hanya bisa tertawa canggung sambil terus berusaha menahan air mata menetes. "Iiihh, nanti saya nangis lagiii" kataku akhirnya sambil merajuk. Dia tersenyum dan menghapus air mata yang sudah mengumpul di ujung mataku.
Untuk sekedar mengubah suasana yang kelewat kuat ini, aku akhirnya kembali mengomentari buku yang sedang dia baca. "Menurutmu bagaimana bukunya? Suka?" tanyaku setengah mengalihkan topik setengah benar-benar mau tahu pendapatnya tentang American Gods.
Ekspresi mukanya berubah menjadi menimbang-nimbang. "Aku sedikit kecewa tidak dimasukkan ke cerita ini." Jawabnya entah bercanda entah serius. "Tapi mengingat begitu banyak manusia yang tidak bisa membedakan mana fiksi dan mana kenyataan, mungkin itu yang terbaik." Dia menyimpulkan sendiri. Aku masih menatapnya, merasa masih belum mendapat jawaban dari pertanyaanku.
"Oh, belum dijawab dengan jelas ya. Suka, kok. Hanya saja ada sedikit detail yang terlewat dari cerita ini." Katanya serius. "Apa?" Tanyaku penasaran.
"Bahwa persaingan antara tuhan lama dan tuhan baru itu bukan lah tuhan lama ditinggalkan pengikutnya, tetapi penyembah tuhan lama juga ikut menyembah tuhan baru. Dan itu sebenarnya sumber banyak masalah di dunia kalian." Jawabnya tersenyum. Aku terdiam mendengarnya, menyadari kebenaran dari ucapannya.
"Tapi aku pun belajar untuk move on dari hal itu. Membiarkan kalian manusia dengan free will kalian memilih apa yang mau kalian miliki di hidup ini, bagaimana kalian menjalani hidup ini. Me too, love you all enough to let you go if you want to go. Seperti yang kamu bilang, aku mencintai kalian, tidak terobsesi dengan kalian. Itu sebabnya aku memberikan kalian kehendak bebas." Jawabnya panjang lebar, seakan-akan kali ini gilirannya untuk mencurahkan perasaannya.
Aku kembali terdiam. Menyadari tuhan pun berkali-kali merasakan patah hati seperti yang kurasakan. Mendadak ada sedikit rasa simpati saat aku melihat sosoknya ini, betapa berat mencintai seseorang yang tidak bisa melihat besarnya cinta yang bisa kita berikan lalu melepaskan mereka pergi dengan keinginan mereka sendiri, tidak tahu apakah mereka akan kembali atau tidak.
"Wah jadi melankolis begini, ya." Kali ini giliran tuhan yang mengubah arah energi diantara kami. Aku hanya bisa tersenyum canggung menanggapinya. "Jadi, kamu sudah bisa move on, sekali lagi, itu baik sekali. Aku senang kamu bisa sampai di titik ini." Jawabnya kembali tersenyum.
"Iya, saya mau cerita itu saja ke engkau." Aku mengatakannya sembari berdiri, menandakan aku akan pergi. "Engkau bisa lanjutkan membaca bukunya. Saya kurang suka sih dengan akhirnya." Kataku enteng.
"Hey, hey, no spoiler." Katanya dengan muka serius. Aku melongo. Tuhan yang mengetahui segala macam pengetahuan yang ada dan tidak ada barusan mengingatkanku untuk tidak membocorkan akhir sebuah cerita dari sebuah buku. "But you know everything!" Jawabku sambil tertawa.
Dia tersenyum. "Aku ingin menikmati perjalanan dengan segala emosinya tanpa harus mengetahui akhirnya. Just like you did."
Aku terhenyak. Sekelebat rasa damai dan tenang terasa menghampiriku. Sekelebat aku benar-benar bisa merasakan aku akan baik-baik saja. Akhirnya aku tersenyum, menyadari makna kata-katanya barusan.
"Sampai jumpa lagi."
"Aku akan tetap ada disini."
Wohoo! The book! The long wait is worth it. I'm really happy for you. This article is a treasure.
BalasHapusTerima kasiihh 🤗🤗
Hapus