31 Pelajaran Hidup (Last Ep.)
YA SAYA MEMANG LAH MANUSIA YANG SULIT BEDETERMINASI.
Ini lah yang membuat saya begitu salut dengan para penulis. Bagaimana bisa mereka, di dunia yang begitu instan, cepat, tidak sabaran, dan dibatasi karakternya, bisa konsisten menulis cerita mereka menjadi buku. Luar biasa. Harus banyak-banyak belajar meditasi lagi ini sih.
Oke.
Jadi saya lanjutkan ya ini, dan ini juga bagian terakhir. Setelah dua bulanan dari ulang tahun saya sendiri. Baiklah berikut daftar terakhir yang bisa saya bagikan:
21. Belajar untuk mengenali motif kamu. Ini sulit lho. Belajar untuk mempertanyakan kenapa untuk setiap reaksi maupun tindakan kamu. Contoh yang kemarin ini baru kejadian, temen saya cerita dia kesel temen-temen kantornya jalan bareng tapi nggak ngajak dia. Padahal dia juga nggak deket dan nggak kepengen juga jalan sama mereka. Saya bilang, coba menurut lo, kenapa lo masih kesel nggak diajak padahal ya lo nggak pengen juga jalan sama mereka? Ego doang. Nggak masuk akal kan sebenernya ngerasa keselnya dia. It just your ego dan begitu kamu udah tau alasan atau motif sebenar-benarnya dari setiap tindakan atau perasaan kamu, kamu bisa memilih mana yang penting mana yang tidak.
22. Take care of your space. Perhatiin kamar, kostan, rumah, atau apartemen kamu. Apa tempat kamu menghabiskan banyak waktu itu sudah sesuai dengan karakter dan keinginan kamu? Apakah space kamu cenderung berantakan? Apa barang-barang di kamar kamu itu sudah ada sejak sepuluh, lima belas tahun yang lalu? You are changed so should your space.
23. There is nothing wrong about feeling sad. Entah kenapa masyarakat kita tuh kayaknya takuuut banget buat jadi sedih. Sedih sedikit, rasanya udah kalah, udah salah, cemen. Padahal menjadi sedih itu salah satu bentuk emotional intelligence. There is nothing weak about feeling sad. Kamu cukup berani untuk menjadi vulnerable dan kamu hanya perlu untuk menyadari kamu juga punya kekuatan yang sama besarnya untuk overcome it. Inget, overcome the sadness, not distract it. Be patient with your self, your heart is hurting so it takes time to heal. Diinget juga, you just feel sadness, you are not the sadness. Kalimatnya adalah 'gue lagi sedih' bukannya 'gue sedih'. You are not your pain, remember that.
24. Put effort on your clothes. Kalo kata Monica Ali di Brick Lane, yang saya lupa bagaimana kalimat persisnya dan digugel juga nggak ada, your clothes make your destiny. You dress as what you want life to give you. Bukan berarti baju-baju kamu harus mahal atau branded (kalau bisa ya silahkan), tapi lebih ke pull together, look good, clean, neat, dan bagus-bagus bisa jadi representasi bagaimana karakter kamu. Kalo kata Prada, "What you wear is how you present yourself to the world, especially today, when human contacts are so quick. Fashion is instant language."
25. Baca buku. Bukan sekedar masalah mendapat pengetahuan karena di masa ini pengetahuan juga bisa didapat dari Youtube atau bahkan sosial media. Membaca buku itu mengajarkan kamu untuk bisa fokus dan diam mengerjakan satu tugas saja. And boy it is hard, bahkan untuk saya yang SUKA baca buku aja, di masa ini membaca buku selama 15 menit tidak terganggu sama sekali sudah sulit. Membaca buku juga mengajari kamu menjadi pembicara dan pendengar yang baik. Kamu bisa menulis dengan baik dan kecenderungan untuk berargumen kosong atau tidak logis seperti orang-orang yang banyak di Twitter juga berkurang. Membaca buku menjauhkan kamu dari kebodohan di kehidupan sehari-hari.
26. Mungkin ini aneh, tapi coba deh sesekali luangkan waktu untuk observasi lingkungan sekitar kamu. Misalkan kamu lagi nunggu temen, Gojek, atau kayak saya yang seringnya nonton bioskop sendiri jadi nunggu studio dibuka, instead of scrolling2 hape buang-buang energi, perhatikan sekitar kamu deh. Nggak perlu serius-serius amat kayak latihan jadi mata-mata anggota BIN tapi sekedar belajar be in the moment aja. Sudah terlalu banyak orang yang just there but not be. Bisa belajar pelan-pelan untuk live in the moment.
27. You are what you eat itu bener jadi perhatikan baik-baik makanan kamu. Belajar lebih aware lagi dengan kandungan gula di makanan/minuman kamu. Belajar untuk tahu mana makanan/minuman yang tidak boleh dikonsumsi banyak-banyak atau sering-sering.
28. Learn to let go things. Tau Marie Kondo kan? Nah, konsepnya sama sebenernya antara melepaskan barang maupun emosi yang sudah tidak ada gunanya lagi untuk kebaikan hidup kita. In the end, life is an endless moment of letting go things and get ready to receive the nest thing.
29. Kalau kamu beruntung punya keluarga yang nggak menyiksa kamu secara emosi, orang tua yang baik dan saudara kandung yang memberi pengaruh positif, belajar untuk lebih banyak menghabiskan waktu dengan mereka. Your parents is your destiny, anyway. Be grateful for them if you have that chance.
30. Berhati-hati dengan apa yang kamu mau. Pernah baca, wants are a very misleading force. Nggak semua mau kamu itu hal yang baik atau hal yang bener-bener kamu mau-in sebenernya. Misalnya gini: Kamu pikir kamu mau menikah padahal sebenernya yang kamu mau itu validasi dari orang lain bahwa kamu diinginkan. Kamu pikir kamu mau baju baru padahal sebenernya yang kamu mau itu releasing your sadness, something to distract you from it. Kamu pikir kamu mau seks padahal sebenernya yang kamu mau itu perasaan diinginkan. Your wants sometimes are very complicated things looking for the easy way out. Kalau kamu salah menuruti mau kamu, kamu yang ada terjebak di lingkaran keinginan tanpa akhir karena your true core tetep aja nggak tersentuh, tidak peduli sebahagia apapun pernikahanmu, sebanyak apapun baju yang kamu beli, atau sesering apapun kamu berhubungan seks dengan sekian banyak orang.
31. Lastly, be grateful for your current position in life. Untuk semua kebaikan dan keburukannya, kebahagiaan dan kepedihannya. Hidup itu hanya sekedar menikmati dan mensyukuri kebahagiaan sembari mengatasi dan melewati kesulitan.
I wish you all a meaningful life :)
Ini lah yang membuat saya begitu salut dengan para penulis. Bagaimana bisa mereka, di dunia yang begitu instan, cepat, tidak sabaran, dan dibatasi karakternya, bisa konsisten menulis cerita mereka menjadi buku. Luar biasa. Harus banyak-banyak belajar meditasi lagi ini sih.
Oke.
Jadi saya lanjutkan ya ini, dan ini juga bagian terakhir. Setelah dua bulanan dari ulang tahun saya sendiri. Baiklah berikut daftar terakhir yang bisa saya bagikan:
21. Belajar untuk mengenali motif kamu. Ini sulit lho. Belajar untuk mempertanyakan kenapa untuk setiap reaksi maupun tindakan kamu. Contoh yang kemarin ini baru kejadian, temen saya cerita dia kesel temen-temen kantornya jalan bareng tapi nggak ngajak dia. Padahal dia juga nggak deket dan nggak kepengen juga jalan sama mereka. Saya bilang, coba menurut lo, kenapa lo masih kesel nggak diajak padahal ya lo nggak pengen juga jalan sama mereka? Ego doang. Nggak masuk akal kan sebenernya ngerasa keselnya dia. It just your ego dan begitu kamu udah tau alasan atau motif sebenar-benarnya dari setiap tindakan atau perasaan kamu, kamu bisa memilih mana yang penting mana yang tidak.
22. Take care of your space. Perhatiin kamar, kostan, rumah, atau apartemen kamu. Apa tempat kamu menghabiskan banyak waktu itu sudah sesuai dengan karakter dan keinginan kamu? Apakah space kamu cenderung berantakan? Apa barang-barang di kamar kamu itu sudah ada sejak sepuluh, lima belas tahun yang lalu? You are changed so should your space.
23. There is nothing wrong about feeling sad. Entah kenapa masyarakat kita tuh kayaknya takuuut banget buat jadi sedih. Sedih sedikit, rasanya udah kalah, udah salah, cemen. Padahal menjadi sedih itu salah satu bentuk emotional intelligence. There is nothing weak about feeling sad. Kamu cukup berani untuk menjadi vulnerable dan kamu hanya perlu untuk menyadari kamu juga punya kekuatan yang sama besarnya untuk overcome it. Inget, overcome the sadness, not distract it. Be patient with your self, your heart is hurting so it takes time to heal. Diinget juga, you just feel sadness, you are not the sadness. Kalimatnya adalah 'gue lagi sedih' bukannya 'gue sedih'. You are not your pain, remember that.
24. Put effort on your clothes. Kalo kata Monica Ali di Brick Lane, yang saya lupa bagaimana kalimat persisnya dan digugel juga nggak ada, your clothes make your destiny. You dress as what you want life to give you. Bukan berarti baju-baju kamu harus mahal atau branded (kalau bisa ya silahkan), tapi lebih ke pull together, look good, clean, neat, dan bagus-bagus bisa jadi representasi bagaimana karakter kamu. Kalo kata Prada, "What you wear is how you present yourself to the world, especially today, when human contacts are so quick. Fashion is instant language."
25. Baca buku. Bukan sekedar masalah mendapat pengetahuan karena di masa ini pengetahuan juga bisa didapat dari Youtube atau bahkan sosial media. Membaca buku itu mengajarkan kamu untuk bisa fokus dan diam mengerjakan satu tugas saja. And boy it is hard, bahkan untuk saya yang SUKA baca buku aja, di masa ini membaca buku selama 15 menit tidak terganggu sama sekali sudah sulit. Membaca buku juga mengajari kamu menjadi pembicara dan pendengar yang baik. Kamu bisa menulis dengan baik dan kecenderungan untuk berargumen kosong atau tidak logis seperti orang-orang yang banyak di Twitter juga berkurang. Membaca buku menjauhkan kamu dari kebodohan di kehidupan sehari-hari.
26. Mungkin ini aneh, tapi coba deh sesekali luangkan waktu untuk observasi lingkungan sekitar kamu. Misalkan kamu lagi nunggu temen, Gojek, atau kayak saya yang seringnya nonton bioskop sendiri jadi nunggu studio dibuka, instead of scrolling2 hape buang-buang energi, perhatikan sekitar kamu deh. Nggak perlu serius-serius amat kayak latihan jadi mata-mata anggota BIN tapi sekedar belajar be in the moment aja. Sudah terlalu banyak orang yang just there but not be. Bisa belajar pelan-pelan untuk live in the moment.
27. You are what you eat itu bener jadi perhatikan baik-baik makanan kamu. Belajar lebih aware lagi dengan kandungan gula di makanan/minuman kamu. Belajar untuk tahu mana makanan/minuman yang tidak boleh dikonsumsi banyak-banyak atau sering-sering.
28. Learn to let go things. Tau Marie Kondo kan? Nah, konsepnya sama sebenernya antara melepaskan barang maupun emosi yang sudah tidak ada gunanya lagi untuk kebaikan hidup kita. In the end, life is an endless moment of letting go things and get ready to receive the nest thing.
29. Kalau kamu beruntung punya keluarga yang nggak menyiksa kamu secara emosi, orang tua yang baik dan saudara kandung yang memberi pengaruh positif, belajar untuk lebih banyak menghabiskan waktu dengan mereka. Your parents is your destiny, anyway. Be grateful for them if you have that chance.
30. Berhati-hati dengan apa yang kamu mau. Pernah baca, wants are a very misleading force. Nggak semua mau kamu itu hal yang baik atau hal yang bener-bener kamu mau-in sebenernya. Misalnya gini: Kamu pikir kamu mau menikah padahal sebenernya yang kamu mau itu validasi dari orang lain bahwa kamu diinginkan. Kamu pikir kamu mau baju baru padahal sebenernya yang kamu mau itu releasing your sadness, something to distract you from it. Kamu pikir kamu mau seks padahal sebenernya yang kamu mau itu perasaan diinginkan. Your wants sometimes are very complicated things looking for the easy way out. Kalau kamu salah menuruti mau kamu, kamu yang ada terjebak di lingkaran keinginan tanpa akhir karena your true core tetep aja nggak tersentuh, tidak peduli sebahagia apapun pernikahanmu, sebanyak apapun baju yang kamu beli, atau sesering apapun kamu berhubungan seks dengan sekian banyak orang.
31. Lastly, be grateful for your current position in life. Untuk semua kebaikan dan keburukannya, kebahagiaan dan kepedihannya. Hidup itu hanya sekedar menikmati dan mensyukuri kebahagiaan sembari mengatasi dan melewati kesulitan.
I wish you all a meaningful life :)
Komentar
Posting Komentar