Tentang Menjadi Bahagia
Dulu gue selalu minta diberikan kebahagiaan.
Besar di masyarakat yang menganggap kebahagiaan adalah tujuan hidup, membuat gue menaruh nilai yang sangat tinggi akan menjadi bahagia. Endorphin dari merasa bahagia semacam candu, we crave more of it. Ada perasaan puas dan diterima oleh sekitar saat kita merasa bahagia, merasa sukses menjadi manusia, berhasil dalam hidup ini.
Being happy is the purpose of being alive, right?
Gue mikir begitu sampai satu titik gue merasa tidak bahagia dalam waktu yang cukup lama. Di masa tidak bahagia itu, gue merasa gagal. Ada rasa malu yang samar-samar mengikuti saat gue merasa tidak bahagia. Gue risih diantara orang lain saat gue merasa tidak bahagia. Semacam, gue takut dihakimi kenapa bisa gue gagal buat jadi bahagia. Gue ngerasa sedih itu adalah tanda gue lemah dan kalah.
Gue berusaha dengan keras untuk bisa keluar dari perasaan tidak bahagia dengan berbagai cara. Yah untungnya gue gimana pun juga masih mageran sih anaknya jadi cara-cara gue nggak yang radikal banget sampai ke mabok-mabokan, sleeping around, atau semacamnya. Mungkin faktor umur juga, gue malah looking for something calmer to overcome my sadness. I look for more silence rather than noises to talk over my sadness. I often look for being alone rather than being with people who I don't really appreciate. Dan setelah menjalani hal-hal itu selama beberapa waktu, gue sadar satu hal penting.
Instead of praying for happiness, now I pray for contentment.
Gue belajar untuk bisa melihat dan menerima bahwa hidup ini adalah rangkaian masa bahagia dan sedih berganti-gantian datang. You can't expect happiness comes without brings sadness along. If there is light then there is dark. Dunia ini sudah mengajari kita dengan sangat baik dengan contoh siang dan malam terus berganti-gantian. Light and darkness will take their turns, it is the rule. It will be over, both joy or sadness.
Kembali ke konsep matrix world, binary code already hints us about what it takes to creates the world: zero and one consistently takes their turn.
Saat menyadari hal itu, gue merasa bisa lebih content dengan apapun yang datang di hidup gue.
Dulu gue tipe yang suka mikir 'things go really well now, bentar lagi pasti ada masalah.' Gue selalu curiga tiap kali gue di masa hepi akan kesedihan yang akan datang sampai di titik gue nggak bisa bener-bener ngerasa hepi. Karena gue curiga sedih akan datang, bukan menerima sedih memang pasti akan datang. Justru setelah gue paham konsep roda berputar ini, gue lebih menghargai dan menikmati saat-saat bahagia datang. Gue nggak lagi mengkhawatirkan saat sedih itu datang because it will come indeed. I am content in the now situation, not worrying about the sadness because I know when sadness comes, it is also normal. It just the cycle we all need to learn to navigate.
Happiness is not the destination anyway, it is the moments that we all pass in the journey of our life. It is the part of life just like sadness is also part of life.
Kalau mau dilihat baik-baik, dunia ini menawarkan banyak kebahagiaan yang nggak ada artinya hanya DEMI untuk merasa bahagia. Saking bahagia itu adalah keharusan di masyarakat, diciptakan begitu banyak candu untuk menipu otak kita bahwa kita adalah orang yang bahagia, meskipun hanya untuk beberapa saat.
Sekarang gue bener-bener bisa menghargai tiap kali ada momen gue ngerasa bahagia. Gue juga lebih mudah merasa bahagia akhir-akhir ini. Little things cheer me up already. Gue lebih menikmati ke perasaan bahagia dan lebih sabar ke perasaan sedih saat mereka datang.
Being happy is nice but overcoming sadness is more important. If you are in sad phase, be patient and do your inner work so when the happiness comes, you can see and appreciate it better.
Besar di masyarakat yang menganggap kebahagiaan adalah tujuan hidup, membuat gue menaruh nilai yang sangat tinggi akan menjadi bahagia. Endorphin dari merasa bahagia semacam candu, we crave more of it. Ada perasaan puas dan diterima oleh sekitar saat kita merasa bahagia, merasa sukses menjadi manusia, berhasil dalam hidup ini.
Being happy is the purpose of being alive, right?
Gue mikir begitu sampai satu titik gue merasa tidak bahagia dalam waktu yang cukup lama. Di masa tidak bahagia itu, gue merasa gagal. Ada rasa malu yang samar-samar mengikuti saat gue merasa tidak bahagia. Gue risih diantara orang lain saat gue merasa tidak bahagia. Semacam, gue takut dihakimi kenapa bisa gue gagal buat jadi bahagia. Gue ngerasa sedih itu adalah tanda gue lemah dan kalah.
Gue berusaha dengan keras untuk bisa keluar dari perasaan tidak bahagia dengan berbagai cara. Yah untungnya gue gimana pun juga masih mageran sih anaknya jadi cara-cara gue nggak yang radikal banget sampai ke mabok-mabokan, sleeping around, atau semacamnya. Mungkin faktor umur juga, gue malah looking for something calmer to overcome my sadness. I look for more silence rather than noises to talk over my sadness. I often look for being alone rather than being with people who I don't really appreciate. Dan setelah menjalani hal-hal itu selama beberapa waktu, gue sadar satu hal penting.
Instead of praying for happiness, now I pray for contentment.
Gue belajar untuk bisa melihat dan menerima bahwa hidup ini adalah rangkaian masa bahagia dan sedih berganti-gantian datang. You can't expect happiness comes without brings sadness along. If there is light then there is dark. Dunia ini sudah mengajari kita dengan sangat baik dengan contoh siang dan malam terus berganti-gantian. Light and darkness will take their turns, it is the rule. It will be over, both joy or sadness.
Kembali ke konsep matrix world, binary code already hints us about what it takes to creates the world: zero and one consistently takes their turn.
Saat menyadari hal itu, gue merasa bisa lebih content dengan apapun yang datang di hidup gue.
Dulu gue tipe yang suka mikir 'things go really well now, bentar lagi pasti ada masalah.' Gue selalu curiga tiap kali gue di masa hepi akan kesedihan yang akan datang sampai di titik gue nggak bisa bener-bener ngerasa hepi. Karena gue curiga sedih akan datang, bukan menerima sedih memang pasti akan datang. Justru setelah gue paham konsep roda berputar ini, gue lebih menghargai dan menikmati saat-saat bahagia datang. Gue nggak lagi mengkhawatirkan saat sedih itu datang because it will come indeed. I am content in the now situation, not worrying about the sadness because I know when sadness comes, it is also normal. It just the cycle we all need to learn to navigate.
Happiness is not the destination anyway, it is the moments that we all pass in the journey of our life. It is the part of life just like sadness is also part of life.
Kalau mau dilihat baik-baik, dunia ini menawarkan banyak kebahagiaan yang nggak ada artinya hanya DEMI untuk merasa bahagia. Saking bahagia itu adalah keharusan di masyarakat, diciptakan begitu banyak candu untuk menipu otak kita bahwa kita adalah orang yang bahagia, meskipun hanya untuk beberapa saat.
Sekarang gue bener-bener bisa menghargai tiap kali ada momen gue ngerasa bahagia. Gue juga lebih mudah merasa bahagia akhir-akhir ini. Little things cheer me up already. Gue lebih menikmati ke perasaan bahagia dan lebih sabar ke perasaan sedih saat mereka datang.
Being happy is nice but overcoming sadness is more important. If you are in sad phase, be patient and do your inner work so when the happiness comes, you can see and appreciate it better.
Komentar
Posting Komentar