Apa Yang Harus Dilakukan Saat Menjadi Single?
Jadi, sebenernya saya sudah menyiapkan draft untuk tulisan ini sebelum ada pengumuman case 01 dan 02 di tanah Indonesia ini. Karena kekuatan proskratinasi yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan kekuatan tekad, jadilah tulisan ini baru bisa dilanjutkan sekarang, saat angka pasien COVID-19 di Indonesia sudah melebihi 500 orang.
What a difference a month could do ya.
On another point of view, tema ini somehow sejalan dengan konsep #dirumahaja yang sudah seminggu ini (mayoritas) dari kita sudah lakukan. Menjadi single pada dasarnya mampu untuk menemukan kualitas kebahagiaan yang sama dengan saat kita memiliki pasangan. Sejalan dengan berada di rumah aja melatih kita untuk bisa tetap merasa content dan terhibur, sama seperti saat kita begitu menikmati bisa berlibur ke Jepang atau makan-makan cantik di restoran.
Tidak ada yang bisa memvalidasi berpasangan itu lebih membahagiakan dibandingkan dengan menjadi single. Saya sangat yakin baik menjadi single ataupun berpasangan memiliki kebahagiaan yang berbeda dalam tipe namun sama dalam kualitas.
Tidak ada yang bisa memvalidasi berpasangan itu lebih membahagiakan dibandingkan dengan menjadi single. Saya sangat yakin baik menjadi single ataupun berpasangan memiliki kebahagiaan yang berbeda dalam tipe namun sama dalam kualitas.
Jadi, berikut beberapa hal yang sudah saya pribadi terapkan dalam proses saya belajar menjadi baik-baik saja single:
Nb: Single saya disini artinya benar-benar tanpa koneksi romntis apapun dengan siapapun ya. Bukan tipe yang single tapi banyak bener hubungan flirtatious-nya ataupun single tapi rutin hook up tiap minggu. Nope. Single disini benar-benar s i n g l e as a pringle. You are mentally and physically single, depending on yourself to be content.
1. Menjadi sendiri
Ini dalam arti harafiah ya. Terlepas kalian ekstrovert pun, coba untuk menjadi sendiri secara fisik. Mungkin dari yang simpel-simpel aja dulu kalau pikiran nonton sendiri ke bioskop atau makan sendiri di restoran itu masih terasa sangat menakutkan. Misalkan janjian dengan teman untuk nongkrong di mall, coba datang sejam lebih cepat dam dengan keliling mall dulu sendiri, pilih-pilih baju sendiri. Kalau di kantor, coba beli cemilan atau kopi sendiri. Kalau weekend atau libur, coba habiskan dengan tidak kemana-mana dulu. Coba lakukan hal-hal yang 'cepat selesai'nya sendiri. Lalu bisa dinaikkan jadi makan sendiri, nonton bioskop sendiri, ke coffee shop dan duduk disana sendiri, ke acara-acara sendiri. Melakukan hal macam itu sendiri membuat kita lebih fokus ke karakter kita sendiri karena kita tidak perlu kompromi dengan karakter orang lain yang menemani kita. Kita selalu diajari untuk bisa mengerti orang lain, tapi apa kita pernah belajar untuk memahami diri sendiri?
2. Menemukan hobi baru atau lama
Saya menyadari, salah satu hal terburuk dari beranjak dewasa dan bekerja full time adalah saya kehilangan waktu dan (yang terpenting) minat untuk menemukan hobi baru ataupun terus melakukan hobi lama. Saat sekolah dulu, saya SANGAT menyukai menggambar dan membaca. Saya bisa menghabiskan buku setebal 300 halaman dalam satu duduk tanpa terganggu. Saya bisa anteng menghabiskan sore meniru gambar-gambar di komik. Sekarang, saya harus pasang alarm 15 menit untuk membaca tanpa terdistrak apapun dan kesulitan untuk bisa menggambar lebih dari muka orang. Dengan banyaknya waktu luang, terutama di weekend, saya mengalokasikannya untuk kembali mencoba membaca lebih banyak lagi. Sering kali saya melakukan coffee shop visit dekat rumah dan membaca di sana barang sejam. Macam melakukan dua to do list (pergi sendiri dan melakukan hobi lama) dalam sekali kegiatan. Saya juga mencoba hobi baru yaitu creative journaling. Menulis diary sudah jadi kegiatan rutin saya semasa sekolah dan sekarang saya naikan lagi levelnya dengan dihias-hias. Kalau kalian selama ini sudah memiliki ketertarikan ke hal baru, misalnya melukis, memasak, merangkai bunga, belajar alat musik, mencoba yoga, dsb, ini saat yang tepat untuk benar-benar mencobanya. Menghabiskan waktu dengan diri sendiri seharusnya tidak pernah menjadi hal yang menyedihkan apalagi menakutkan. Enjoy your own company.
3. Mengatur finansial lebih baik
Nah. Ini. Ini. Hal paling teknis dari menjadi dewasa. Tingkat kedewasaan seseorang itu bukan dinilai dari kemampuan mereka berhubungan seksual (I believe the term 'adult movies' which refers to porn is very very misleading) tapi dari kemampuan mengatur finansial mereka. Coba dilihat lagi apakah pengeluaran selama ini masuk akal? Apakah banyak hal penting yang seharusnya sudah dimiliki malah belum dipunya? Apakah sudah punya asuransi pribadi di luar asuransi kantor? Apakah sudah memiliki tabungan yang jumlahnya cukup jika ada keperluan mendadak? Wabah COVID-19 ini dan dampak ekonominya menjadi salah satu contoh betapa pentingnya untuk kita mampu mengatur uang sehingga saat sulit datang, kita masih memiliki pegangan. How you manage your money shows the maturity level you have. Coba telaah barang apa saja yang sudah dibeli dan ternyata tidak memiliki manfaat sebesar endorphin yang muncul saat membelinya. Be more conscious in how you spend your money. Money is also blessing, never take it for granted.
4. Berhenti membandingkan timing sendiri dengan timing orang lain
Menjadi satu-satunya single diantara grup pertemanan memang bisa terasa sangat merisaukan. Percayalah, saya sangat memahami hal itu. Melihat orang sudah 'naik level' dengan pernikahan, anak, dan rumah tangga dan diri sendiri masih 'begini-begini saja' memang bisa terasa memalukan. Saya sendiri sudah gerah selalu ditanya MANA CALONNYA tiap bertemu keluarga atau siapapun itu yang terlalu bersemangat mengurusi hidup privat orang lain. Perasaan semakin buruk saat orang itu belagak membela tapi malah terasa makin menjatuhkan saat bilang 'Jangan keasyikan kerja/sendiri lho'. Maap, saya nggak pernah ngerasa keasyikan kerja nih, ngomong-ngomong. Saya juga nggak pernah terpikir mau single terus kok. Saya sudah setengah tidak sabar membentuk keluarga saya sendiri. Akan tetapi, bertemu orang yang bisa menjadi pasangan hidup itu sudah masuk ke ranah takdir. Saya tidak bisa melakukan apa-apa kalau memang belum waktunya. Semua dating app boleh sudah di-install tapi jika waktunya belum, yang saya dapat dari aplikasi-aplikasi itu hanyalah keputus asaan yang semakin mendalam. Jadi, tarik napas. Percaya dan sadari bahwa timing kita semua berbeda-beda.
Hanya karena JK Rowling menulis Harry Potter pertama di umur 32 tahun tidak menjadikan dia tidak sesukses William Shakespeare yang menulis drama pertamanya di umur 25 tahun. We all have our own timing and it won't reduce the happiness it brings. Masyarakat aja yang suka memberikan tanggal kadaluarsa ke berbagai hal, termasuk ke menemukan kebahagiaan. Don't believe that.
Hanya karena JK Rowling menulis Harry Potter pertama di umur 32 tahun tidak menjadikan dia tidak sesukses William Shakespeare yang menulis drama pertamanya di umur 25 tahun. We all have our own timing and it won't reduce the happiness it brings. Masyarakat aja yang suka memberikan tanggal kadaluarsa ke berbagai hal, termasuk ke menemukan kebahagiaan. Don't believe that.
5. Be the love you want to receive
Kamu mau pasangan yang kaya? Bisa dimulai dengan kamu menjadi lebih irit dalam pengeluaran kamu atau menambah-nambah sumber pemasukan. Kamu mau pasangan yang cakep? Bisa dimulai dengan kamu juga memberi perhatian ke penampilan dan kesehatan fisik kamu. Kamu mau pasangan yang setia dan jujur? Jadilah setia dan jujur terlebih dahulu. Apapun yang kamu inginkan ada di pasangan kamu, pastikan kamu sudah memiliki/melakukannya juga. It all starts from you. Percuma saja kalau kamu menginginkan orang lain yang menjadi ideal tetapi kamu sendiri belum bisa menjadi cukup baik untuk diri kamu sendiri. The most important is the relationship you have with yourself. Terbukti kan di masa karantina ini, do you enjoy your own company?
Yak demikian lah lima saran saya untuk orang-orang yang bingung mau apa di saat mereka single. Jangan biarkan kebingungan ini membuat kamu panik dan terjerumus di 'panic buying' relationship (et dah bisa aja nyambunginnya).
Be content with yourself first karena seperti yang dikatakan oleh mas Matther McConaughey, the best person comes when you are not looking and being a happy single :)
Kamu mau pasangan yang kaya? Bisa dimulai dengan kamu menjadi lebih irit dalam pengeluaran kamu atau menambah-nambah sumber pemasukan. Kamu mau pasangan yang cakep? Bisa dimulai dengan kamu juga memberi perhatian ke penampilan dan kesehatan fisik kamu. Kamu mau pasangan yang setia dan jujur? Jadilah setia dan jujur terlebih dahulu. Apapun yang kamu inginkan ada di pasangan kamu, pastikan kamu sudah memiliki/melakukannya juga. It all starts from you. Percuma saja kalau kamu menginginkan orang lain yang menjadi ideal tetapi kamu sendiri belum bisa menjadi cukup baik untuk diri kamu sendiri. The most important is the relationship you have with yourself. Terbukti kan di masa karantina ini, do you enjoy your own company?
Yak demikian lah lima saran saya untuk orang-orang yang bingung mau apa di saat mereka single. Jangan biarkan kebingungan ini membuat kamu panik dan terjerumus di 'panic buying' relationship (et dah bisa aja nyambunginnya).
Be content with yourself first karena seperti yang dikatakan oleh mas Matther McConaughey, the best person comes when you are not looking and being a happy single :)
Komentar
Posting Komentar