Percakapan Santai Tentang Move On

"Jadi lo udah beneran move on, Nge?"

Pertanyaan itu simpel sebenarnya. Nggak ada layer-layer makna lain atau butuh riset mendalam untuk dijawab. Akan tetapi, entah kenapa saya masih saja merasa butuh waktu lebih untuk bisa menjawab pertanyaan ini. Tetap berhati-hati dalam menjawab pertanyaan seputar perasaan saya.

Saya mengalihkan pandangan ke langit-langit kamar. Keliatan lagi ada bocor kecil di sana dengan jalur rembesan air di tembok yang menegaskan bahwa langit-langit saya sudah perlu direnovasi.

Merasa lebih terganggu dengan menyadari kebocoran itu, saya segera menjawab pertanyaan yang tadi sempat saya diamkan.

"Bukan udah, masih. Masih move on."

Jawaban saya tanpa niat untuk menjadi estetis atau quote worthy. Sejak beberapa bulan lalu, saya sudah menyadari dan menyakini bahwa move on adalah sebuah proses. Move on itu mirip iman, ranah private yang seberapa tinggi tingkatannya hanya lah kita dan Tuhan yang tahu.

"Udah setahun kan, ya, lo putusnya?" tanya teman saya lagi itu. Terdengar samar-samar suara anaknya belakang.

"Iyah. Setahun lebih dua bulan." Jawab saya presisi. "Tapi mulai move on-nya kayaknya baru sekitaran tujuh bulan." Jawab saya lagi.

"Sebelum si tujuh bulan itu, gue masih nggak bisa nerima kalau dia udah memutuskan gue nggak lagi punya tempat di hidup dia. Konflik batin gue masih terlalu banyak. Gue masih ngerasa entitled ke banyak hal dari dia. Jawaban-jawaban yang gue minta, nggak ada yang dikasih satu pun." saya mulai panjang lebar memberikan jawaban tanpa ditanya.

"Gue masih kesulitan buat bisa ngeliat sosok dia yang ngediemin gue itu adalah sosok orang yang sama yang sebelum ini jadi my first person. Nggak nyambung gitu kayaknya. For some moments, gue beneran ngerasa gue ini halu bahkan. Perasaan gue bolak-balik di marah, sedih, petty, ikhlas, bodo amat, nggak terima. Terus aja begitu muternya. I just wanted the pain to stop. I don't want to die but I just want to stop feeling this pain."

It was a hard time for me. Buat kalian yang mau memulai proses move on yang baik dan benar (tanpa distraksi apapun), let me tell it to you: You won't be okay. You would feel like you want to die. It will be very hard. But that process is necessary. It is different for every person but I can guarantee, if you are patient and kind to yourself during this hard time, it will only get better.

Tiap hari yang dilewati akan berbeda-beda level okay-nya. Some day you would think you are fine and then you sob again at night until you can't breathe. It is okay. It is your battle. Just a friendly suggestion, during this hard time, hold yourself from contacting the person again.

It is your battle. You have to get through it alone.

Teman saya terdiam beberapa saat. Menimbang berat dari pernyataan saya barusan. Nampaknya dia kaget saya sampai bisa merasakan hal seekstrim itu karena masalah putus hubungan ini.

"Terus yang bikin lo memulai si tujuh bulan move on itu apa?"

Saya kembali terdiam. Sedikit ragu untuk menceritakan hal yang sebenarnya. Akan tetapi saya sudah memiliki komitmen pribadi untuk selalu mengatakan kebenaran karena itu juga proses menerima diri sendiri, baik dan buruknya.

"Gue satu hari maksa dia buat bilang ke gue kalo dia emang udah nggak cinta lagi sama gue. Bukan maksa, ngancem bahkan hahaha." saya tertawa terpaksa berharap bisa sedikit mengurangi level cringeness dari cerita saya barusan. "Nggak tau sih itu bener atau nggak tapi buat gue efektif banget. Begitu dia bilang langsung ke gue dia nggak cinta sama gue, gue jauh lebih mudah untuk berproses melepaskan."

Saya terdiam sebentar, mengingat perasaan saya saat mendapat langsung pernyataan tersebut dari dia. Saya ingat saya tidak merasa sedih (yang berlebihan) atau hancur lebur. Saya ingat saya mendengar diri sendiri bilang 'ah, akhirnya.' Saya ingat saya merasa lega. Bukan berarti saya sudah tidak membawa-bawa beban perasaan itu lagi, masih. Akan tetapi hari itu saya sudah ikhlas menerima membawa beban perasaan itu.

Move on itu lebih daripada sekedar bisa suka lagi dengan orang lain atau bahkan menjalin hubungan yang baru. Move on itu lebih daripada sekedar udah nggak sedih lagi tiap denger lagu kenangan berdua. Move on itu lebih daripada sekedar udah nggak berjengit lagi tiap mendengar seseorang dengan nama yang sama dengannya.

Move on adalah kemampuan untuk menerima apa yang pernah kita yakini sepenuh hati ternyata tidak turns out as it is. Kemampuan untuk melepaskan keharusan bahwa harusnya saya dengan dia. Kemampuan untuk menerima bahwa keberadaan saya tidak lah diinginkan lagi.

Teman saya terdengar berdehem di ujung telepon sana, membawa saya kembali ke moment saat ini.

"Jadi lo udah dimana ini sekarang posisinya?" Tanyanya lagi.

"Kalo move on tahap satu yang udah ngelepasin orangnya sih udah ya harusnya. Udah sekian lama gue nggak kontak-kontak dia lagi, nggak pernah stalking-stalking apapun lagi tentang dia. Move on tahap dua, nih. Belajar mencintai diri sendiri." Jawab saya dengan nada sedikit cemas.

"Istilahnya, kemaren gue udah lulus S1 jurusan Move On. Sekarang lagi proses tesis buat S2nya." Tambah saya lagi.

Melepaskan sosok orang lainnya itu relatif mudah. Sungguh. Sesedih apapun saya, sekangen apapun saya, saya tidak pernah lagi menjadikan dua hal itu sebagai alasan untuk kembali menghubunginya. Bahkan di masa pandemi ini, beberapa kali saya merasa khawatir tentang keadaan pekerjaannya. Akan tetapi sarjana S1 Move On ini tidak pernah menjadikan perasaan-perasaan itu sebagai alasan untuk menghubunginya lagi. These are all my own feelings now, not related to him anymore.

My feelings are not the base to do anything related to him anymore. Karena itu saya sekarang tidak pernah merasa takut atau kesal lagi kalau tiba-tiba masih merasa sedih atau kangen lagi sama dia. I still do even until now. But I just take those feelings as a gentle reminder that I love that person. Nothing more than that.

Pelajaran sekarang justru lebih sulit karena yang harus saya hadapi adalah diri saya sendiri. Di kelas master ini saya belajar untuk menjadi cukup dengan diri sendiri dan menjadi sabar dengan diri sendiri. Pengalaman putus kemarin menjadi trauma tersendiri buat saya. Beneran. It was awful for me, horrible and painful, I would never wish it upon anyone. Sekarang ini saya belajar untuk menjadikan pengalaman buruk itu sebagai hal yang baik. Such a waste to let a misfortune stay being misfortune. And one of the best thing I gain from this horrible experience is I know myself better. I learn about patience and grief. I learn about what it takes to get through sadness and how to appreciate all the happy moments. I learn to trust life and myself more.

I learn to be content in where I am now.

"Yah lumayan lah ya niat lo sekolah S2 kesampean akhirnya." Jawab teman saya dengan nada sarkas khas persahabatan 14 tahun. "Iye, cuma sayang nggak bisa dimasukin ke CV." Jawab saya dengan nada sarkas yang sama.

"Ya udah lu baek-baek dah sekolah S2 nya ya. Mau lanjut S3 nya nggak?" Tanyanya lagi.

"Mau nggak mau lanjut S3 sih ini mah." Jawab saya.

"S3 nya apaan sih?"

"To love and to be loved again."


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Rencana Tuhan

Melihat Mantan Dengan Perempuan Lain

Mengubah Hidup