Tujuan Hidup

Kemarin ini sempat terpikir beberapa kali: Apa tujuan gue dikasih hidup di masa ini?

Semakin sering menghabiskan waktu tanpa distraksi, pikiran-pikiran macem gini lebih sering muncul. Pantesan nggak banyak orang yang betah duduk diam dengan pikirannya.

Akhir-akhir ini gue suka mikirin pertanyaan ini lebih serius karena gue semakin yakin nggak ada yang kebetulan dengan gue lahir. Gue bisa hidup adalah sebuah rencana, a puzzle to fill the bigger picture that probably I would never be able to see. A picture that probably is not mine to see. Tapi topik tujuan hidup ini beberapa kali mengusik pikiran gue.

Kalo ngomongin soal tujuan hidup, yang kebayang sama gue (dan mungkin oleh banyak orang juga) adalah hal-hal yang menakjubkan, yang skalanya besar dan biasanya berhubungan dengan ketenaran. Hal-hal yang begitu signifikan bisa mengubah hidup orang banyak. Masuk buku sejarah atau minimal masuk berita di Metro TV. Modelnya perjuangan Martin Luther King Jr. yang melawan rasisme, Oprah Winfrey yang menjadi duta kebaikan dengan kerajaan medianya, Stephen Hawking yang bisa menjelaskan semesta, Gretha Thunberg yang bisa memimpin gerakan melindungi lingkungan secara masif, atau bahkan Nadiem Makarim yang bisa bikin Go-Jek dan mengubah keadaan finansial banyak orang.

Tentu saja semua contoh itu buat gue, remahan di pojokan Tangsel ini, terlalu utopia dan mengintimidasi. Walaupun gue tahu orang-orang hebat itu memulai semua pencapaian hebatnya dari bukan siapa-siapa (hmm mungkin kecuali Nadiem ya), tetap aja buat gue itu terlalu menakutkan untuk gue coba capai.

Dan beberapa waktu yang lalu, seakan-akan gue dibantu untuk keluar dari kerumitan pikiran tentang tujuan hidup ini, gue baca cuplikan di search tab Instagram:

(You know, life speaks to you in many, many ways. Kali ini caranya adalah dengan algoritma Instagram.)

"What is my purpose in life?" I asked the void (coba, kurang pas apa itu kalimat pertamanya)

"What if I told you that you fulfilled it when you took an extra hour to talk to that kid about his life?" said the void.

"Or when you paid for that young couple in the restaurant? Or when you saved that dog in traffic? Or when you tied your father's shoes for him?"

"Your problem is that you equate your purpose with goal-based achievement. The Universe isn't interested in your achievement, just your heart. When you choose to act out of kindness, compassion and love, you are already aligned with your true purpose."

Jleb.

Jleb pisan lah itu gue pas bacanya.

Gue baru aja belajar mengerti konsep kebahagiaan itu apa. That joy is never a goal, it is actually not something that you need to reach or achieve. Joy is really those small things. Saat bisa tidur dengan nyaman saat di luar hujan, saat bisa melihat langit yang biru, saat masak resep buat pertama kali dan rasanya enak. Joy is in the small daily things.

It was never about the big things.

Dan ternyata hal itu juga berlaku buat tujuan hidup. 

Gue juga selama ini terlalu nafsu to do big things in a pursuit to fulfilled my life purpose yang pada akhirnya menutup mata gue dari those daily small things that I actually already fulfilled. 

Gue jadi inget sekali waktu gue nerima email farewell personal dari satu anak magang. Gue emang  suka lunch sendiri di pantry kantor dan waktu itu ngeliat dia yang celingak-celinguk nyari tempat duduk. Gue ajak duduk deket gue dan kita ngobrol-ngobrol panjang. Setelah itu sekali-kali kita ngobrol kalo ketemu but nothing special, at least that what I believe.

Tapi ternyata buat dia yang gue lakukan itu berkesan banget. Dia nyebut di emailnya how I was so warm and open to her. She wished me a good life and thanked me again for the things I did.

And being honest, her words is such a warm validation that I live my life well. It would be awesome if I could lead a movement to destroy patriarchy or a corrupt regime but I think what I just did is equally important.

Sekarang gue yakin tujuan hidup gue bisa dipenuhi setiap saat asalkan gue melakukannya dengan dasar kasih. Gue nggak perlu lagi melihat terlalu jauh dari apa yang udah gue punya sekarang.

Now I fully understand what van Gogh meant when he said "Love many things, for therein lies the true strength, and whosoever loves much performs much, and can accomplish much, and what is done in love is done well."

Dan dengan gue nulis blog ini, gue kembali memenuhi tujuan hidup gue.

Happy fulfilling your life purposes :)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Rencana Tuhan

Melihat Mantan Dengan Perempuan Lain

Mengubah Hidup