Malas

Jadi.

Selama WFH ini gue mencoba memasukan kebiasaan-kebiasaan yang selama ini nggak gue lakukan dengan alasan tidak ada waktu. Bisa jadi benar mengingat dengan kebiasaan bekerja yang dulu, gue menghabiskan minimal sepuluh jam di luar rumah, dua jam diantaranya untuk perjalanan dan sisanya untuk menjaga kesan gue 'selalu available saat dibutuhkan' dengan duduk di kantor menatap layar komputer. Sisa waktu di rumah dipakai untuk minimal self hygiene (yaitu mandi), sosialisasi dengan keluarga, dan tidur.

There is indeed something wrong with how human works. Harusnya manusia tidak perlu menghabiskan waktu sebanyak itu hanya untuk bekerja.

Lalu datanglah kejadian sekali dalam satu milenium: Wabah. 

Generasi gue ngalamin banyak hal yah kalau dipikir-pikir.

Jadi dengan wabah ini, gue memiliki kesempatan untuk kerja dari rumah selama sepuluh bulan sampai sekarang. Dan meskipun tidak etis, gue ngerasa beruntung bisa ngerasain kesempatan ini dan mungkin juga memberikan perspektif baru ke managemen kantor gue tentang bekerja. Bisa dibuat shift-shiftan siapa yang kerja di kantor dan siapa yang kerja di rumah gitu mungkin setelah ini, amin (usap muka).

Gue mulai masukin nge-yoga di rutinitas harian dan gue bisa ngeliat efeknya di badan. Yah nggak yang sampe punya abs atau jadi super toned sih. Sekedar gue sekarang bisa nyentuh ujung kaki gue tanpa mengerang lagi pun menurut gue udah pencapaian. Dengkul bisa sejajar dengan lantai saat gue cobbler pose pun udah bikin hepi. 

Gue juga mulai masukin meditasi. Jujur gue lebih milih meditasi tipe bengong daripada yang duduk dan memejamkan mata. Tipe bengong ini lebih bisa dilakukan dimana pun dan kapan pun. Dan nggak terlalu nakutin mak gue juga dibandingkan dengan dia masuk kamar gue dan ngeliat gue dalam posisi tapa.

INGE LU MUJA SIAPAAAA

Gue udah kebayang sih gitu reaksinya.

Gue juga masukin matiin hape 30 menit sebelum tidur, nyalain hape 30 menit setelah bangun tidur. Baca buku dan jurnaling sebelum tidur. Kebiasaan-kebiasaan itu bisa lah disebut rutin gue lakukan selama enam-tujuh bulan kemarin.

Sampai kerajaan api menyerang. Untuk konteks ini, Raja Ozainya bernama 'malas'.

Gue dari dulu udah tau gue ini sangat malas. Sangat. Kadung aja gue lahir di keluarga nggak kaya jadi ya mau nggak mau level malasnya harus diturunin serendah mungkin. Gue nggak akan pernah dideskripsikan sebagai anak yang malas belajar pas sekolah atau anak yang malas cari kerja pas setelah lulus. Kerjaan gue pun cenderung selesai sesuai deadline selama ini. Jadi dari sisi kapitalisme gue sama sekali nggak bisa disebut pemalas.

Tapi sebenarnya sungguhlah saya ini pemalas.

Hal-hal yang sebenernya nggak ada alasan buat ditunda, ya gue tunda aja. Istilah sekarangnya prokrastinasi, menunda pekerjaan. Kesannya trivial dan harmless ya padahal menurut gue rasa malas ini sangat beracun dan merusak. Nggak heran sloth masuk ke seven deadly sin.

Menariknya, sloth ini dianggap sebagai dosa yang paling sulit untuk didefinisikan kalau dibandingkan dengan enam dosa lainnya. Malas macam apa yang masuk dosa?

Sedikit penjabaran, sloth itu kata terjemahan dari bahasa latin 'acedia' yang terjemahan bebasnya 'tanpa kepedulian'. Dalam konteks keagamaan, sloth disini lebih merujuk ke rasa malas para pekerja gereja dalam melaksanakan tugas-tugasnya di gereja dan juga ke perempuan-perempuan yang malas mengerjakan pekerjaan domestiknya.

Agama ini memang sumber dari masyarakat yang misoginis. Apa-apaan perempuan males nyuci baju jadi dosa??

Oke kita fokus lagi ke topik awal.

Gue mulai menganalisa malas yang datang beberapa minggu lalu dengan lebih seksama.

Maksudnya, apa alasan dari gue malas gunting kuku? Atau kenapa bisa gue malas maskeran? Kenapa juga bisa-bisanya gue ngerasa malas ngejemur handuk dengan rapi? Hal-hal yang kelihatannya trivial tapi sebenernya sangat berpengaruh dengan kualitas hidup dan karakter gue.

Apa benefit yang gue dapet dari menunda gunting kuku (karena pada akhirnya akan gue lakukan juga) dan lebih milih goler-goler dua jam scrolling-scrolling Instagram balik lagi ke Twitter dan balik lagi ke Instagram lalu cek Youtube bentar dan balik lagi ke Twitter? Gue kan gunting kuku sendiri ya, bukan kuku kuda jadi itu pekerjaan yang lima menit juga selesai.

Kenapa gue malas ngerjain hal sesimpel tapi sebenernya penting itu?

Kenapa gue malas yoga dan lebih milih nontonin video mencetin jerawat selama sejam?

Kenapa gue malas baca buku dan lebih milih ngeliatin cuplikan-cuplikan muka Cha Eun Woo di search Instagram gue?

Opsi yang gue kerjain itu nggak ngasih apa-apa lho.

Gue inget dulu ada kejadian yang kayaknya jadi awal kontemplasi soal malas ini. Masih jamannya ngantor kayak biasa dan sekitar jam 11an gue udah bisa tidur. Udah tinggal merem aja dan gue pun tau gue perlu tidur sekarang biar bisa bangun pagi buat ngantor dengan energi penuh, siap menjaga kekayaan bos gue.

Tapi gue malas.

Coba.

Malas tidur.

Apa-apan itu?

Dan gue inget waktu itu gue ngeliat ada postingan Lambe Turah atau sejenis itu di search Instagram dan gue buka satu postingan tentang Lucinta Luna. Gue menghabiskan sekitar dua jam cuma buat pindah-pindah dari akun Lambe Turah ke akun Lucinta Luna terus ke akun pacarnya, ke akun bule yang katanya digodain sama dia, terus ke akun siapa lah yang waktu itu ada konflik sama dia dan terus aja begitu sampai jam 1an sampai akhirnya gue balik lagi ke akun Lucinta Luna

Pas udah jam satu, gue mendadak sadar lagi ngapain (karena 99% saat scrolling-scrolling begitu dilakukan secara autopilot) dan refleks menghela napas, macam malu dengan kelakuan sendiri. Ditambah pas ngeliat udah jam satu, gue beneran ngomong ke diri sendiri: Kan, coba tadi lo tidur, udah dua jam ini tidur. Malah ngeliatin Lucinta Luna. Yang bener aja napa hidup.

Dan konsep itu berlaku di banyak hal sebenernya. Gue bisa sih ini pake waktu luang ini buat ngerapihin lemari baju tapi oh gue lebih milih nontonin video masak.

Bukannya nggak boleh santai tapi gue harus lebih jujur aja sih kapan gue santai dan kapan gue slothing away my time.

Dan sebenarnya, well at least buat gue sih, gue bisa ngerasain kalau rasa malas itu sangat tidak menyenangkan buat badan. That tired feeling after I'm not doing anything feels heavier than the tired feeling after I actually done something. Laziness is a heavy feeling, I am not relaxing at all.

Lagi, bukannya ini berarti harus kerja kerja kerja ya. Just be more aware of how you spend your time. Be more aware whenever you feel like to postponed something. Mengatasi rasa malas itu latihan yang efektif juga untuk menjadi lebih aware dengan bagaimana kita sebenarnya hidup.

Postingan blog ini juga hasil dari usaha gue mengatasi rasa malas. Insya Allah, gue mulai on board di project satu hari satu postingan blog.

Luar biasa kan, pemirsah? Mengingat ada masanya lima bulan gue nggak nge-post apa-apa kemarin ini.

Ungkapan waktu itu uang menurut gue lebih dalam dari sekedar uang. Waktu adalah kesempatan yang diberikan ke kita untuk bisa merasakan hidup. 

Time is our most valuable currency while we are alive so be cautious on how (and with whom) you spend it.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Rencana Tuhan

Melihat Mantan Dengan Perempuan Lain

Mengubah Hidup