Percakapan Soal Bercerai

 "Soalnya bercerai itu bukan pilihan buat gue." katanya sambil menyuap almond croissantnya.

Aku diam sesaat, menimbang apakah perlu memberikan pendapat pribadi untuk pernyataannya barusan. Kalau yang ngomong ini bukan teman dekat dari SMP sudah pasti akan ku biarkan saja sembari mengangguk-angguk ambigu tapi karena ini sahabat dekat, rasa untuk memberikan perspektif lain terasa sangat mendesak.

"Jadi nggak akan ada kejadian apapun yang bikin lo bisa bercerai kalau lo nikah?" Tanyaku hati-hati, berusaha meletakan fondasi untuk percakapan berikutnya.

Gantian temanku yang terdiam sembari mengorek-ngorek remahan almond di piringnya, seperti berusaha mencari inspirasi untuk menjawab pertanyaanku.

"Yah... Sebenernya sih ada ya. Cuma ya, maksud gue, bercerai itu bener-bener nggak masuk di pilihan gue makanya gue sangat hati-hati untuk nikah." Jawabnya yang sebenarnya terasa masih kurang menjawab. "Gue sebenernya takut nikah karena takut bercerai sih." Jawabnya akhirnya dengan suara pelan, seakan-akan mengakui kekalahannya.

"Oh ya? Kalau gue justru karena gue tahu gue bisa bercerai, gue nggak ada ketakutan buat nikah." Jawabku masih dengan nada hati-hati. Takut pernyataanku barusan diterima sebagai bentuk one upper atau sharing unwanted opinion. Aku memberikan jeda sesaat untuk melihat reaksinya dan dia nampak mengangguk-angguk tertarik mendengar pernyataanku barusan.

"Iya juga sih..."

"Ya soalnya mau gimana pun, gue rasa gue nggak akan pernah bisa mengenali orang lain 100%." Aku melanjutkan dengan lebih percaya diri karena merasa temanku bisa mulai melihat dari sudut pandangku. "Jangankan orang lain, ngenalin karakter diri sendiri aja susah. Gue aja masih suka kaget ngeliat bokap nyokap gue yang tinggal bareng seumur hidup di umurnya segini masih bisa develop sifat-sifat baru."

"Kalau gue nggak masukin bercerai di opsi gue, pasti gue takut nikah. Macam no escape. Tapi ya karena gue tau gue selalu bisa mengakhiri hal yang membuat gue tidak menemukan kedamaian di hidup gue, approach gue ke pernikahan kasual aja sih. Nggak bisa bercerai lebih menakutkan buat gue daripada bercerai."

Aku meneguk matcha latte yang dari tadi hanya sibuk kuaduk-aduk saja. Temanku nampak sedikit termenung mendengar kalimatku barusan.

"Tapi lo emangnya nggak takut kalo sampai cerai?" Tanyanya memastikan.

"Umm.." Aku terdiam sesaat memikirkan jawaban yang tepat. "Pilihan katanya bukan takut sih. Bercerai bukan hal yang akan mudah gue lakukan tapi masih bisa gue lakukan. Maksudnya, kalau emang harus cerai ya gue cerai aja. Tujuan orang nikah dan orang bercerai kan sama sebenernya, biar bisa bahagia. Palingan alasan gue bercerai yang perlu dipilah-pilah. Dan perlu diingat juga selalu ada kemungkinan pasangan gue yang mau cerai, udah di luar kontrol gue itu."

"Iya sih, kalau suami gue yang mau cerai dari gue ya mau gimana lagi." Katanya setuju sambil ikut mengaduk-aduk minuman pesanannya dengan sedikit galau, macam membayangkan suami khayalannya meminta bercerai.

"Gue masih ngerasanya tabu aja gitu bercerai soalnya di keluarga gue nggak ada yang bercerai sejauh ini." katanya lagi. Sangat bisa dipahami sih ketakutan menjadi aib keluarga. Kita dibesarkan dengan kebiasaan untuk selalu memasukan kepentingan orang lain di tiap keputusan yang kita ambil. Tapi aku pikir, untuk urusan bercerai atau menikah ini, pendapat orang lain seharusnya tidak memiliki peran apapun sih.

"Yaahhh mikirin omongan keluarga mah nggak ada benernya. Nggak cerai pun pasti ada aja diomongin jeleknya." Jawabku yang entah kenapa merasa sedikit terbawa emosi.

"Tapi ya, sebenernya ada yang lebih penting daripada perkara bercerai sih." Kataku dengan muka yang mendadak serius.

"Apa?" Tanya temanku ikut penasaran.

"Punya calonnya." Kataku masih dengan nada yang serius. Temanku langsung mengangguk-angguk setuju.

"Bener."

Dan kami kembali ke percakapan tentang Cha Eun Woo.

Ini awalnya gara-gara ngomongin Song Joong Ki sama Song Hye Kyo soalnya.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Rencana Tuhan

Melihat Mantan Dengan Perempuan Lain

Mengubah Hidup