Tentang Tarot


 Jadi gue udah hampir setahun ini mulai menekuni membaca kartu tarot.

Gue sebenernya nggak punya ketertarikan spesifik ke tarot sih tapi gue emang dari dulu tertarik ke hal-hal klenik gitu. Fortune telling, psychic reader, medium, gitu-gitu lah pokoknya. Dulu gue pernah nyoba intuitively 'ngeramal' temen-temen kostan pake kartu remi. Entah lah dapet darimana ilhamnya kalo kartu ini artinya ini, kartu itu artinya ini. Rasanya tiap kartu itu ada karakternya aja gitu. Untuk tarot sendiri gue nggak inget titik mulanya gue mulai punya ketertarikan lebih sampai akhirnya memberanikan diri belajar bacain orang lain (dan bahkan minta bayaran).

Satu hal yang pasti, ini semua dimulai dari momen patah hati gue. Yep. Masih itu-itu aja sumber kontemplasi dan spiritual awakening gue. Not bad lah gue bisa ngejadiin sakit hati nggak sakit hati doang. Ada benefitnya gitu. Kalo Adele patah hati dapet Grammy, gue patah hati bisa baca tarot. Lumayan lah yah.

Jadi saat masih patah hati, satu emosi yang terus-menerus gue rasakan adalah putus asa. I was so desperate to know what will be between us now. Will he come back? Will I find another love? I was so impatient to find out what the future would be because all I can feel at that moment just pain.

Dan lagi entah kenapa, gue stumbled ke channel-channel baca tarot di Youtube. Ada masanya gue sangat addicted ke nontonin baca tarot ini, apalagi kalau bacaannya  pada nyebut oh he misses you too, he regrets it, he will come back endeblah endeblah. Looking back now, I realized how gullible I was. Gue mau ambil apapun bentuk validasi akan perasaan dan harapan gue. Bukan salah ibu mengandung reader tentu saja, karena kalau memang pesannya begitu ya memang begitu tapi kondisi mental gue waktu itu jelas tidak cukup sehat untuk mendengar pesan-pesan random begitu.

Tapi sekali waktu, ada reader yang cukup menyadarkan gue. Lagi, bacaan untuk kartu pilihan gue waktu itu adalah he misses you tapi reader yang ini bilang: but bear in mind, just because he misses you doesn't mean he will contact you and vice versa. You don't have contact him just because he misses you.

Hmm ya bener juga. Gue pun kemaren ini ya kangennya disimpen aja dalam hati. Cuma karena kangen  nggak berarti things are fixed. Missing someone you used to always have on reach is pretty normal, I would say. Nothing too romantic about that.

Karena jam terbang nontonin orang baca tarot di Youtube udah cukup tinggi, gue mulai bisa mengenali tiap kartu dan artinya. Mulai mengenali teknik bacanya, model spread-nya. Sekali-kali juga baca-baca introduction to tarot. Lalu akhirnya gue memutuskan untuk beli kartu tarot gue sendiri.

Untuk beberapa lama gue cuma baca diri sendiri (dan masih pertanyaan gue seputaran hubungan yang sudah hilang entah kemana). Lalu gue mulai memberanikan diri nanyain ke temen-temen apa ada yang mau gue coba bacain. Begitu gue ngerasa bacain temen-temen itu udah lumayan relatable, gue pengen nyoba baca orang yang nggak dikenal. Mau ngecek aja apa bener bisa baca orang yang gue nggak punya pengetahuan apapun.

Disinilah saya berterima kasih kepada Twitter.

Jujur, ada sedikit kekhawatiran akan apa yang akan follower gue pikirkan kalau tau gue baca tarot. Apa gue akan dianggap musyrik penyembah setan atau yang tiap malam Jumat mandi kembang tujuh rupa. Tapi kekhawatiran akan pendapat orang lain itu tiap tahunnya semakin menipis jadi gue bisa acuhkan relatif dengan mudah dan lanjut nawarin ke follower apa ada yang mau gue coba bacain, gratis. Cari sparing partner aja.

Dari beberapa orang yang gue bacain itu semuanya end up relatable ke situasi mereka. Gue pun suka bingung sendiri sampai sekarang kalo bacaannya relate, apalagi kalau udah mendetail. 

Setelah latihan sekian kali, akhirnya gue coba untuk offer paid service. Sebenernya ini bukan karena gue butuh banget ke duit (walaupun sifat alami dari uang adalah perlu nggak perlu selalu diperlukan). Bayaran ini lebih ke bentuk gue punya respek ke diri sendiri aja. I can't explain it but doing tarot reading is very very tiring. Dulu gue nggak ngeh soal ini dan dengan pedenya mau bacain lima orang sehari, berturut-turut. Begitu masuk orang keempat kepala gue pusing luar biasa, beneran. Rasanya juga mau muntah. Gue sampe rebahan dan nggak bisa ngelanjutin ke orang kelima. Setelah ngobrol-ngobrol dengan senior reader, gue baru ngeh kalau bacain orang itu emang melelahkan. Konsepnya itu gue channeling energi si klien lah. Karena gue sadar doing reading takes energy, gue rasa perlu kasih tarif kalau ada yang mau dibacain.

Sekarang gue udah setahun lebih buka jasa baca tarot berbayar and I really love doing this.

Waktu hati ini masih remuk, ngasih bacaan dan insight ke orang lain dengan kasus yang serupa tapi tak sama berasa begitu therapeutic. Macam gue mendengarkan nasihat untuk diri sendiri juga. Gue pun terharu dan overwhelmed banget dengan begitu banyaknya doa-doa baik dari orang-orang yang gue bacain.

Beberapa kali bahkan ada yang ngasih update ke gue, cerita kondisi mereka sekarang sudah jauh lebih baik setelah dapet bacaan dari gue. Ya ampun, rasanya diri ini berguna banget. Beneran.

(bukan iklan)

Mendengarkan cerita dan permasalahan orang-orang ini juga jadi ajang refleksi terbaik buat gue. Banyak banget dari yang dateng itu nggak sadar dengan pattern mereka selama ini, dengan trauma yang sebenernya mereka simpan dan kasih makan dengan segala kekacauan dalam hidup mereka. It is always liberating when they get a glimpse of understanding that they are also have a role in creating misery in their life.

Gue punya prinsip nggak terima pertanyaan model fortune telling macem siapa jodoh saya atau kapan saya kawin. Yah, bisa aja sih kalo gue mau mah tapi entah kenapa gue ngerasa itu tipe pertanyaan gullible dan nggak etis aja kalau gue eksploitasi itu. Ini juga tipe pertanyaan yang nggak bisa diverifikasi bener nggaknya. Misalnya gue bilang oh lo bakal kawin tanggal 23 April 2025 gitu, yang nanya ini nggak punya knowledge apa ini relatable atau nggak.

Prinsip gue adalah, yang gue tahu itu nggak melebihi apa yang mereka tahu. Gue itu hanya channeling messages from their wise self yang sulit untuk mereka dengar karena terlalu banyak distraksi di kehidupan sehari-hari.

Gue bersyukur banget dengan fase di hidup ini yang bikin gue bisa baca tarot meskipun gue masih harus struggle dengan imposter syndrom tiap kali bacain orang.

Do I really know this or did I just bullshitting?

Sampai sekarang gue masih sering 'damn that's crazy' tiap kali kartu-kartu tarot yang gue buka align, terutama kalau align dengan oracle cardnya (oracle card itu kartu-kartu yang berisi pesan-pesan yang eksplisit) DAN hit the right spot ke yang minta dibacain.

Jadi ya, demikian pemirsah. Tidak ada maksud untuk promosi jasa atau berusaha menjadikan tarot ini a thing for everyone. Gue ngerasa bersyukur punya sarana untuk memberikan sedikit insight dan comfort ke orang lain dan gue yakin banget tiap orang punya alat mereka untuk menyentuh hidup orang lain.

Tarot cards (and probably this blog) is my tool, have you found your tool?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Rencana Tuhan

Melihat Mantan Dengan Perempuan Lain

Mengubah Hidup