Kopi
Gue sangat sangat menyukai kopi.
Dulu gue biasa minum kopi 3-4 gelas sehari. Pagi sebelum berangkat kantor, sesekali begitu sampai kantor, setelah makan siang, dan sore-sore di jam ngemil. Selain yang momen begitu sampai kantor, tiga momen itu udah pasti. Rutin. Ritual harian gue lah. Gue lebih milih kopi hitam macem Americano atau manual brew daripada yang manis-manis jadi sebenernya kebiasaan gue itu nggak terlalu berbahaya bagi kesehatan gue. Setidaknya itu yang berusaha gue yakini.
Kopi di satu masa di hidup gue menjadi sangat penting dan merasuk dalam jiwa, sampai gue sering menjadikan kopi sebagai personality trait. Gue dulu termasuk dalam golongan orang yang masukin kopi dalam bio dating app.
Movie. Coffee. Books. Music.
Ya. Kita semua pasti ada fase alay metropolitannya.
Makin absurd saat gue suka ngerasa tersinggung kalo ada yang bilang mereka nggak suka kopi. Hey don't talk like that about my bestfriend. Macem ketidak sukaan mereka akan hal yang gue suka (bangedh) ini adalah sebuah serangan ke kepribadian gue. It just a freaking bean, I need to chill.
Pokoknya, coffee is lyfe buat gue dulu dan gue nggak ngerasa perlu mengendalikan konsumsi gue ini karena ya emang nggak ada efek buruknya. If anything, industri milyaran Dollar ini seringkali meyakinkan gue dan publik bahwa kopi itu bisa mengurangi resiko kena kanker, mengurangi resiko stroke, etc etc. I was so comfortable with my coffee addiction.
Sampai lah kita di momen wabah melanda dan WFH dijalankan.
Awal-awal masa wabah tuh gue anxious banget. Gue ngerasa shock dengan kondisi dunia sampai bisa seburuk ini. Ada masanya tiap pagi gue selalu ngecek angka orang terinfeksi di dunia. Sekali waktu gue bener-bener ngerasa muak dengan situasi ini dan desperately berharap ini semua cuma mimpi.
Dramatis sekali ya anaknya.
Tapi bener. Gue ngerasa kondisi wabah mendunia ini absurd dan menakutkan. Macam kematian itu berjalan-jalan dan mengintai tiap kali gue keluar rumah dan gue bisa aja ketempelan dia tanpa gue sadari dan bawa masuk ke rumah.
Death is one thing but the chaos before the death is something that really frighten me.
Untuk beberapa waktu, konsumsi kopi gue di masa wabah ini masih cenderung sama. Walaupun gue mulai menyadari kuantitas ngopi gue rada menarik perhatian saat nyokap gue suka ngomong 'Lu udah ngopi lagi? Bukannya tadi pagi udah?'
Emang sering kali kita nggak pernah sadar kebiasaan kita itu 'aneh' sampai ada orang lain yang menunjukkannya ke kita.
Dengan perasaan tersinggung, gue masih tetap merasa konsumsi gue baik-baik saja.
I AM FINE, LEAVE ME AND MY COFFEE ALONE.
Lalu satu hari, gue baca kopi itu adalah salah satu anxiety trigger terbesar. Persepsi kopi bikin nggak ngantuk itu sebenarnya kurang tepat, lebih tepat kopi membuat badan merasa dalam situasi menegangkan sehingga membuat pengkonsumsinya bisa lebih fokus dan waspada, thus not feeling sleepy. Makanya buat beberapa orang, efek samping kopi adalah jantung yang berdebar, sakit perut, bahkan diare.
Contoh-contoh efek dari perasaan gugup.
Coffee makes you nervous. That is the hard to swallow truth.
Gue terdiam abis baca (atau nonton video Youtube, rada lupa mana yang duluan alur informasinya) itu. Gue berusaha menerima kenyataan bahwa gue kecanduan ke kopi.
Lagi, sebenernya ini terkesan tidak berbahaya. Ya kalau dibandingkannya dengan kecanduan meth, seks, atau alkohol, kecanduan kopi sih emang kedengerannya sangat elit dan sopan. Aman buat ditaro di bio dating app dan masih bisa memberikan kesan edgy, modern, dan intelek.
But nothing edgy with addiction.
Apapun substansinya, kecanduan itu tanda dari gue udah kehilangan kontrol akan satu-satunya hal yang bisa gue kontrol di hidup gue: diri sendiri.
Gue nggak ngopi karena gue memutuskan gue mau ngopi, gue ngopi karena gue dipaksa buat menuruti sakau badan gue yang nagih kafein. I might be happy to do it tapi secara prinsip, gue nggak menginginkan hal itu.
Gue pun berusaha buat nggak minum kopi sama sekali selama dua minggu pertama. Jujur, gue nggak ngerasa terlalu sulit sih meskipun nyokap bokap gue adalah peminum kopi rutin. Meskipun bau kopi baru diseduh itu tetap merupakan godaan terbesar tapi gue nggak terlalu terganggu dengan hal itu. Ada pasti masa mulut nagih minum kopi di jam-jam tertentu tapi bisa gue acuhkan segera. Tiap kali keinginan ngopi itu muncul, gue observe aja pelan-pelan. Kenapa gue begitu kebiasaan dengan ngopi ini?
Sekarang udah masuk setahunan gue nggak rutin minum kopi tiap hari. Kadang seminggu sekali, kadang bisa dua minggu sekali. Kadang dua-tiga kali seminggu. Tapi yang pasti, tiap kali gue minum kopi itu karena gue memang menginginkannya. Bahasa 'lebay'nya, it was my soul asking for it, not my body craving for it.
Dari mengendalikan kecanduan akan kopi ini, gue belajar buat melihat ke hal-hal lain di hidup gue yang sebenernya adalah candu tapi dibikin biasa aja sama masyarakat. Belanja, gosip, drama, seks, rokok, alkohol, video game, pornografi, gula, garam, sosial media, uang. Bahkan rasa sakit hati, tanpa disadari gue punya kecanduan ke rasa sakit hati. Ini yang bikin gue kesulitan buat melepaskan sakit hati dan terus-menerus mengulang-ulang kejadian buruk di kepala gue buat gue kembali merasakan sakit hati itu.
It is weird but human by nature is addicted to chaos and pain. Like how many of us addicted to coffee which makes us anxious.
Gue perlahan-lahan belajar untuk bisa hidup dengan baik, baik ke badan, mental, dan pikiran. Mengatasi kecanduan gue akan kopi mungkin keliatannya sangat simpel tapi buat gue pribadi, ini langkah besar buat gue bisa mengambil kendali akan diri gue sendiri.
I'm still trying to make everything I do is because I genuinely like it, not because I am forced by my craving or fear.
Because everything that is done in love, is done well.
Komentar
Posting Komentar