Lemon

 "Tapi kalo lo bisa puter balik waktu, lo masih mau kenal sama dia nggak?"

Pertanyaan itu diajukan tidak terlalu mendadak sebenarnya. Maksudnya, kami memang sedang membicarakan hubungan yang sudah lalu dan segala macam pengaruh dan efeknya di kehidupan saya. Tapi pertanyaan itu bisa bikin saya tertegun sesaat. Semacam untuk membeli waktu, saya membetulkan posisi duduk saya sebelum menjawab.

"Masih sih. Gue kayaknya nggak masalah ngulangin lagi semuanya." Jawab saya setengah yakin setengah nggak yakin. Saya sendiri pun sebenarnya lumayan kaget mendengar jawaban saya.

Teman saya mengangkat alisnya skeptis.

"Masa?"

Iya, masa sih?

Saya meraih Americano dingin yang tinggal separo itu dan menyeruputnya sebelum menanggapi keraguan teman saya. Semacam berusaha untuk meyakinkan diri sendiri bahwa memang itu yang saya rasakan.

"Aneh ya? Tapi yaaahh, gimana ya. Waktu gue hepi sama dia, gue beneran hepi. Beneran. Bahkan sekarang pun perasaan hepi itu masih suka linger. Gue mau ngerasain that overwhelmed happiness again. Meskipun udahannya rada traumatis, hubungannya juga toxic, tapi pada akhirnya I'm in a good place kan. I can overcome it. Hanya setelah gue ngelewatin itu semua, gue bisa nggak ngelakuin hal yang sama lagi. Kalo gue nggak ngelewatin itu semua kemarin ini, gue rasa gue masih perlu waktu sekian tahun lagi buat berada di posisi gue sekarang, buat tau dan mengerti apa yang gue tau dan mengerti sekarang." Jawab saya panjang lebar dan dengan keyakinan yang menebal.

Iya, ini yang saya rasakan. I am happy with who I am now and he has a big part on it. It wasn't a loving relationship but even the pain could turn into a blessing after sometime of self work.

"He taught me about grief. Itu juga pengalaman berharga. Gue juga bisa lebih sayang ke diri sendiri. He left me so I can love myself better." kata saya lagi. Teman saya mengangguk-angguk kecil sambil menatap lantai.

"Pas kapan gitu ya, gue lagi WFO. Gue ngeliat ke jendela luar, ngeliat ke langit. Awan putih perak bergumul kayak gulali, cantik banget. Langit biru, cahaya matahari jatuh di muka gue. Dan buat beberapa detik, gue jatuh cinta dengan hidup. Perasaan kayak, ah iya, ini begini bahagia. Hal yang gue yakin nggak akan bisa gue rasakan kalau gue belum ngerasain hancur berkeping-keping."

"Berarti nggak ada yang mau lo ubah ya, dari jodoh lo sama dia ini?" tanya teman saya lagi, keliatannya masih penasaran.

"Oh, ada." jawab saya dengan ekspresi baru ingat.

"Satu hal yang mau gue ubah cuma waktu akhirnya dia pergi, gue nggak akan mohon-mohon dia untuk kembali lagi kayak dulu. I'd let him go in peace this time, if I can turn back the time." jawab saya yakin.

"Dengan pengetahuan gue sekarang, dengan mental gue sekarang, gue nggak akan maksa orang untuk tetap berada di hidup gue, atau maksa untuk ada di hidup orang lain. Itu aja satu yang mau gue ubah." jawab saya sambil kali ini menyendok lemon cake yang sudah tinggal sesuap lagi.

Enak. Enak banget.

Duka itu mirip kayak lemon ini ya. Asem kalau dimakan sendiri tapi kalau bisa ngolahnya, ambil waktu dan energi dan sedikit sabar dalam prosesnya, bisa jadi hidangan yang enak banget macem lemon cake ini.

Thus they said, when life gives you lemon, make lemonade.

You can even sell it :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Rencana Tuhan

Melihat Mantan Dengan Perempuan Lain

Mengubah Hidup