Tentang Keinginan

 "Kalau satu milyar Dollar?"


Saya tertegun sesaat mendengar angka segitu, macam memang benar saya punya kesempatan untuk memiliki uang sebanyak itu.

Latar belakang cerita ini adalah, saya dan teman saya sedang mengobrol ngalor ngidul tentang 'setiap orang punya harga' berbarengan dengan pembicaraan kami mengenai industri pornografi sebelumnya.

Ya, obrolan santai saya dan teman saya ya begitu.

Teman saya, yang saya tahu hidupnya jauh lebih selibat dibandingkan dengan saya, bertanya sekali "Lo mau nggak kalau disuruh main film porno kalo dibayar semilyar?"

Saya terdiam sebentar sambil menopang dagu di tangan saya, mencari posisi berpikir yang saya harapkan bisa memberikan jawaban terbaik.

"Film bokepnya macem gimana? Gang bang gitu? terus lawan main gue gimana? Yang modelan kakek-kakek gitu bukan? Terus berapa lama durasinya?" Tanya saya begitu banyak, seakan-akan sedang betul-betul membicarakan terms and condition kerja saya nantinya.

"Terserah, bebas secocoknya lo dah. Pasangan mainnya bahkan Jo In Sung gitu, dia mau coba genre lain. Durasi setengah jam deh, standard episode series." Jawab teman saya setengah kesal.

Mendengar nama Jo In Sung, saya kembali memikirkannya dengan lebih serius dari yang seharusnya. Ya lumayan sih kalau bisa sama Jo In Sung mah. Dibayar semilyar pula.

Saya menggeser sedikit posisi duduk saya. "Nggak ah. Kayaknya efek traumanya lebih panjang daripada hepinya." Jawab saya memantapkan hati.

Ini lah yang membuat teman saya akhirnya menaikan tawarannya menjadi satu milyar Dollar. Seakan-akan dia adalah produser handal dan saya ini MVP dalam dunia pornografi yang akan membawa profit berlipat-lipat.

Satu milyar Dollar?

Itu kurang lebih 14 trilliun Rupiah kalau dikali 14.000 saja. Uang 14 trilliun jelas tidak akan habis saya pakai sendiri sampai mati. 14 trilliun dan bisa manja-manjaan sama Jo In Sung?

Tapi pakai direkam dan didistribusikan ke masyarakat luas sih ya.

Saya benar-benar berada dalam dilema yang sia-sia ini sampai akhirnya saya bisa mendengar satu suara kecil: emangnya lo perlu duit segitu?

Dan satu suara kecil itu kembali mengingatkan saya akan apa yang penting: rasa damai di hidup.

Dengan perasaan yang lebih mantab, saya akhirnya bisa menjawab teman saya itu.

"Nggak juga ah." Jawab saya akhirnya sambil kali ini menegakan punggung saya, seakan-akan berharap dengan posisi tulang punggung yang tegak, saya juga bisa lebih kuat dalam mengambil keputusan.

Teman saya menatap saya tidak percaya. Lagi, kami menganggap permainan andai-andai ini kelewat serius. Tidak bisa memang bermain macam ini dengan orang yang over thinking macam kami ini.

"Serius? Semilyar Dollar Amerika Serikat lho ya, bukan Dollar Zimbabwe." Katanya mengingatkan. "Lo yakin bisa nolak?" tanyanya lagi dengan nada tidak percaya.

"Masalahnya, gue nggak dalam posisi butuh uang. Maksudnya, dengan uang yang gue hasilkan sekarang, walaupun angkanya jauh dari semilyar Rupiah, jauuuhh banget lah ya, tapi semua kebutuhan gue terpenuhi. Kartu kredit dibayar lancar lunas terus. Makan nggak perlu pilih-pilih, mau beli scented candle atau buku buat occasional pleasures juga masih bisa." Saya menjawab dengan panjang dan lebar. Teman saya mendengarkan dengan baik.

"Kalau kondisinya misalkan keluarga gue terjerat hutang atau orang tua gue atau bahkan guenya butuh biaya buat perawatan rumah sakit gitu, dengan senang hati akan kujual tubuh ini ke Jo In Sung. Menang banyak bahkan itu mah. Apapun hal buruk yang mengikuti setelahnya, gue minimal tahu tujuan awal gue itu untuk menghapus masalah yang sudah ada." Jawab saya menjelaskan sambil kali ini mengaduk-aduk green tea latte yang sudah mulai cair semua es batunya.

Teman saya mengangguk-angguk mulai mengerti.

"Tapi kan lo bisa lunasin rumah lo pake duitnya. Bisa pensiun juga, nggak kerja lagi." Kata teman saya masih gigih ingin agar saya berubah pikiran.

"Ya tapi dengan kondisi gue sekarang ya juga nggak apa-apa. Duitnya sih nggak nolak ya tapi kalau caranya harus dengan main film bokep dulu sih ya berat. Duit banyak tapi mentally nggak stabil rada sia-sia juga." Jawab saya lagi, kembali tetap teguh dengan pendirian awal.

"Intinya gue nggak butuh buat punya duit segitu. Kalau gue butuh sih ya hayuk aja pasti." Kata saya sambil kali ini menyeruput green tea latte saya. Sudah mulai encer.

"Manteb. Setan kalau nawarin ke lo begini-beginian, berat ya kemungkinan bisa menangnya." Kata teman saya dengan nada kagum.

Mendengar kata 'setan' disebut, saya menjadi lebih serius.

"Janji untuk bisa mengabulkan keinginan secara instan itu harus selalu dijauhi, apalagi untuk keinginan-keinginan yang dasarnya sakit hati atau keinginan untuk indulge diri sendiri di kesenangan. Ada harganya, selalu ada harganya. Kayak contoh tadi, nggak ada jaminan dengan dapet duit semilyar Dollar itu hidup gue akan lebih baik dari sekarang. Misalnya gue kaya raya tapi tau-tau penyakitan yang nggak bisa disembuhin gimana? Devil loves to lurking on our wants, makanya penting buat kita tahu motif dari keinginan kita itu apa."

Tanpa disadari saya menjelaskan dengan panjang lebar, dengan keseriusan yang sebenarnya terasa canggung karena kami sedang omong kosong saja. Tapi saya betul-betul ingin teman saya ini ingat bahwa keinginan itu bukan lah hal yang harus selalu diikuti. Merasa senang bukan lah hal yang wajib untuk selalu dirasakan.

"Siap Ibu, akan saya ingat." Kata teman saya, setengah serius setengah mengejek.

"Kalau nggak direkam sih gue mau itu." Saya kembali ke topik awal, berharap suasananya bisa kembali lebih santai.

"Ya siapa yang mau bayar kalo nggak direkam mah? Jo In Sung-nya gitu yang segitu kepengennya sama lo sampe mau bayar?" Jawab teman saya dengan nada kesal.

"Maap, Ibu nggak usah pake emosi jawabnya. Yang disini juga udah tau diri banget orangnya. Kan Ibu yang nawarin Jo In Sung tadi, Ibu inget nggak?" Jawab saya berlebihan yang ditanggapi tawa oleh teman saya.

Tapi ya iya sih.

Penawaran setan pun harus lebih masuk akal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Rencana Tuhan

Melihat Mantan Dengan Perempuan Lain

Mengubah Hidup